Sabtu, 13 Oktober 2012

Pengantin Zaitun


Kisah ini aku awali saat sesuatu yang ku sebut itu mimpi hanya mampu memberi ku pengharapan tanpa sebuah kepastian, mungkin mimpi bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namaku Zaitun, aku adalah seorang gadis berumur belasan, berkulit putih, berambut ombak, bermata kebiru-biruan dan orang-orang kampung selalu mengelu-elukan aku bak kembang desa. Aku orang pribumi asli, lahir di daerah Bengkulu dan besar di tanah jawa. Mungkin yang membedakan aku dengan sikap polah gadis-gadis lain itu tidak ada. Bapakku adalah seorang komandan polisi kompeni Belanda dan aku hidup dimana orang-orang pribumi yang hampir kehilangan jati dirinya. Ibuku wanita bernama Mainah, penuh lemah lembut dan lihai dalam hal memasak.
            Aku mungkin hanya gadis biasa yang kurang intelektual, yang aku tau hanya soal memasak di dapur dan memacak diri. Sepertinya itu tak berpengaruh besar pada kehidupanku di usiaku yang sekarang ini. Orang-orang desa seakan telah menggariskan anak-anak perawan berumur belasan seperti aku agar cepat-cepat menikah. Aku merasa jengah dengan seruan orang-orang sekitar. Misalkan saja anak buah-anak buah bapak tetap saja bersikeras untuk mendekatiku, dan rekan sejawatnya yang pelaut itu pun tak lepas selalu mencuri pandangan padaku. Aku tak habis pikir mengapa lelaki begitu tak setia sekarang ini, sudah beristri masih pula main mata pada wanita lain. Tapi bukan itu yang aku ingin saat ini. Lalu sebenarnya apa yang aku pikirkan, untuk hidup pada zaman ini sudah untung banyak lelaki yang antri melamarku. Bukan sesempit itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin mencari, mendapatkan sesuatu yang lain, lebih dari ini.Lebih dari keharusan menikah di usia muda. Lebih dari keharusan untuk menikah, besok pagi.
            “Tun, sedang apa kamu.Sudah malam, pergilah tidur. Esok kan hari pernikahan mu.Tidak pantas kamu sekarang tidur malam-malam,” suara ibuku memecah denting lamunanku malam ini.
            “Iya  mak, aku akan segera tidur," jawabku.
            Aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, esok hari adalah hari pernikahan rancangan bapak dan mamak yang memasangkanku dengan seorang bujang anak buah bapak.Ia tak terlalu buruk, tapi aku tak berkeinginan menikah dengannya. Ia gemar memakan roti yang dilapisi dengan sesuatu yang padat namun lembek itu, ia menyebutnya mentega. Aku suka roti-roti yang selalu ia bawakan untukku dan pakaian-pakaian indah yang ia berikan. Tapi itu tak bisa membeli ku untuk menikah dengannya.Aku meniatkan sesuatu dalam hatiku.Hal yang dapat menghindarkanku dari semua ini. Ya, aku harus lari dari rumah esok hari.
            Saat ini tepat jam  3 pagi, aku telah siap dengan bekal dan sejumlah pakaian. Memang tak jauh dari rumah, tapi setidaknya aku bisa bersembunyi hingga beberapa waktu. Aku akan tinggal di rumah paman ku yang berjarak dua desa dari rumahku. Paman dan bibiku di sana memang tak dekat dengan keluarga bapak ibuku. Semenjak ada masalah tanah warisan, mereka tak dekat lagi atau lebih tepatnya menjaga jarak dengan bapak ibu. Tapi, mereka sangat baik kepadaku serta adik-adikku. Kalau sudah begini, aku teringat pada Mas Siman, kakak pertamaku dan satu-satunya yang selalu membimbing dan mengayomi ku. Namun kini mas ku itu sudah tak tahu lagi ada dimana, ia diberitakan telah hilang dalam penyergapan dan penyerangan oleh pasukan pribumi terhadap para kompeni di Irian.
Untung saat ini masih dini hari dan kuputuskan untuk bersembunyi di balik tumpukan padi gudang belakang sebelum pergi. Lebih baik aku pergi sekitar jam 6, saat itu andong Pak Kirman pasti baru saja singgah di bawah rumpun bambu.
            Hal yang aku khawatirkan terjadi, sekarang pukul 5 pagi dan mak telah kebingungan dan memanggil-manggil bapak untuk memberitahukan ketiadaanku. Bapak dan sodara-sodara yang lain sepertinya mencariku.
            “Tun, jaetuuuun...!! dimana kamu," suara orang-orang ramai memanggilku.
            Aku makin terpaku dengan keadaan ini, aku tak bisa seperti ini terus. Suara berat langkah yang ku kenal perlahan mendekat dan benar saja.
            “Jaetun! Sedang apa kamu di sini? Masuk ke kamar! Kamu ini bikin orang tua repot.”, bentak bapak sembari mendorong karung damen yang menutupiku tadi.
            Aku terpaksa mau memakai mbayak dan jarit ini. Polesan gincu dan lain-lain ini membuatku gatal. Tiba-tiba aku teringat seseorang, Darto, pelaut yang telah beristri itu.Ia datang dengan kumis tebalnya yang mencolok pandangan siapa saja yang memandangnya saat ini.Aku keluar dari kamar dan menemui anggota keluarga yang telah hadir. Mulutku sekan dipaksa tuk tersenyum. Tiba saatnya untuk melancarkan rencana ku, pikirku dalam hati. Aku akan meminta tolong Pak Darto untuk membantuku kabur dari pernikahan yang tidak aku inginkan ini.Aku tak akan secara langsung memintanya untuk membantuku, tapi dengan cara yang lain.
            “Bapak Darto, lihat bapak saya tidak?saya ingin meminta sesuatu padanya sebelum pergi ke balai desa untuk ijab," tanyaku dengan nada se biasa mungkin.
            “Itu bapakmu sedang bersama lelaki-lelaki dan tetangga-tetangga di depan, sudah sana temui.”, jawabnya ketus.
            Tak biasanya Bapak Darto bersikap ketus seperti itu. Pasti dia telah merasa gagal mendapat kesempatan untukp menjadikanku istri ketiganya. Aku hanya ingin memastikan kalao bapak memang sudah di depan karena aku akan pergi lewat kebun belakang. Setelah itu aku hanya ingin membuat Pak Darto berkata bahwa aku pergi ke arah depan, jika ada yang menanyakan ketidakberadaanku nanti.
            Aku kembali ke kamar, sebelum lima belas menit lagi bapak menjemputku untuk pergi  ke balai desa. Baju lusuh dan jarit cokelat milik ibuku aku kenakan sebagai ganti, sebelum keluar tak lupa aku bawa selendang cokelat milik ku.Untuk menutupi wajahku yang gampang dikenali ini, aku pakai olesan arang yang tadi pagi sempat ku ambil dari dapur. Keluarlah aku dari kamar, tanpa ada yang mengenaliku satu pun. Mungkin, mereka kira aku ini hanya rewang atau pembantu yang bertugas masak-masak.Sampai juga di bibir pintu belakang. Astaga di kebun belakang ada Uwa Maman yang sedang membenahi sepeda ontelnya.Bagaimana ini,rutukku dalam hati.
            Aku melintas melewatinya, dan ia menyapaku, “Cah, mau kemana.Sudah selesai masak-masaknya?wa lapar, ingin sarapan sebelum ke sawah.”
            Pasti disangkanya aku ini rewang yang biasa bantu-bantu di rumahku. Belum sempat aku jawab pertanyaannya, suara mamak yang lembut terdengar dari belakang. Aduh, mati sudah rencanaku, pikirku.
            “Wa  maman, akan berangkat ke sawah kapan?nanti kalau lewat kebon singkong tulung ambilkan singkong dua pohon ya," seru mamak lembut tapi jelas dan untungnya mak tidak mendekat ke sini. Nafasku yang sempat memburu kembali aku balikkan se biasa mungkin. Aku berjalan sambil terus menunduk menutupi muka ku dengan selendang ini.Ingin aku menangis jika memang bisa saat ini. Aku sebenarnya tak tega meninggalkan mak dan bapak dengan coreng hitam di wajah mereka. Namun, sepertinya mereka sudah memahami bagaimana watakku. Mungkin mereka akan memaafkanku esok-esok hari.
            Perlahan suara mak yang berbincang dengan Wa Maman meredup, yang terdengar kini hanya bunyi sandal jepit ku yang basah terkena genangan air di kebun tadi, seperti menimbulkan suara berdecit. Aku sudah di ujung gang sekarang, tepat menghadap rumpun bambu yang sudah bisa ditebak apa yang ku cari-cari. Ya, andong Pak Kirman sudah berada di sana dan aku harus cepat-cepat menghampiri sebelum mbok-mbok dan ibu-ibu mengambil kesempatan ku untuk menjadi penumpang pertama pagi ini. Cepat-cepat aku tawar menawar harga.
            “Desa Kawunganten, pak. Lima sen ya," tawarku.
            “Desa itu lumayan jauh cah, tambah dua sen mangkat," sergah Pak Kirman.
            “Baiklah, pak.”, tukas ku.
            Rumah ini masih sama dan akan tetap sama sepertinya, keasriannya, cat hijau dan cokelat kayu serta aroma mawar merah yang berkembang subur di halaman rumah.Aku telah sampai di rumah paman dan bibi. Paman Gatot namanya, baik sekali orangnya, waktu aku kecil paman sering memberi ku jajanan dan pakaian-pakaian. Beliau juga suka membantu keluarga kami, tentunya sebelum ada permasalahan warisan yang tidak mengenakkan itu. Sampai tahun kemarin pun aku masih berkesempatan main ke sini.
            Tiga kali aku mengetuk pintu dan ternyata Bibi Gatot yang membukakan pintu.
            “Oalah, bocah-bocah, bocah ayu.Ada hal apa pagi-pagi sekali kesini Tun?” tanya Bibi dengan tempo yang cepat dan lantang seeprti biasa.
            “Aku, ada sesuatu bi.Aku , mmm,"  aku bingung bagaimana akan menjelaskan kepada bibi ku ini.
            Bibi lalu mempersilahkan ku masuk dan aku pun tak henti-henti nya menangis sambil menceritakan semua yang terjadi padaku. Bibi tampaknya memahami, tapi juga kurang setuju dengan tindakan ku yang kabur dari rumah.Suara khas Paman Gatot membuat aku segera menyeka air mataku.
            “Siapa ini, putu paman rupanya.Lah kenapa seperti habis nangis Tun?” tanya Paman dengan nada khawatir.Aku  segera bangkit dari duduk untuk menjabat tangan paman.
            “Bukan apa-apa paman, bi aku pamit ke kamar dulu," pamitku ke kamar Dini anak satu-satunya paman dan bibi.Aku biasa tidur bersama Dini. Mungkin kepadanyalah aku bisa dengan leluasa menceritakan masalah ku ini.  Bukan hanya bibi yang terkejut mendengar ceritaku, tapi Dini pun terkejut sekaligus ikut merasakan keprihatinan yang ku alami. Jika bibi terkejut dan merasa marah karena tak diberitahu sama sekali oleh kedua orang tuaku akan pernikahanku, agaknya Dini merasa beruntung ia masih diperkenankan untuk sekolah dulu.
            Lima hari sudah aku meninggalkan rumah, paman sepertinya telah diberitahu akan kejadian yang aku alami. Siang itu paman dan bibi memanggilku, mereka ingin mengajakku berbicara.
            “Tun, paman hanya ingin menasihati. Kamu mbok ya jangan begitu.Kabur dari rumah itu kan bukan pilihan yang baik. Tidak kamu coba menjelaskan pada orang tuamu?” kata paman hati-hati.
            “Sudah paman, berhari-hari sebelum hari itu aku pun sudah menjelaskan kalau aku tak ingin dinikahkan dulu. Tapi mak dan bapak malah seperti itu.Katanya jika tak menikah di usia sekarang, kapan lagi akan mendapatkan jodoh," tuturku.
            “Sudah, pokoknya begini.Akan lebih baik kamu nanti sore paman dan bibi antarkan kembali ke rumah. Sudah lima hari kan kamu di sini, bapak dan mak mu pasti sedih mencari-cari kamu," jelas paman.
            “Tapi, bagaimana kalau mereka memaksakan aku untuk menikah lagi paman, Bi," tanyaku dengan ragu.
            “Sudah jangan dipikirkan itu, biar paman dan bibi yang menjelaskan kepada mak dan bapakmu kalau kamu belum kepengin menikah. Kamu ingin sekolah dulu?” tanya paman  tiba-tiba.
            Aku merenung sejenak, apakah benar kata paman kalau sebenarnya aku ingin sekolah dulu.Ahh sepertinya tidak muluk-muluk begitu. Yang aku inginkan hanya mencari sesuatu yang lebih, entah itu pengalaman di kota atau yang lain. Bukan menikah di usia muda.
            “Mm, iya paman," jawabku singkat.
            Sore harinya aku ditemani paman, bibi, dan Dini datang ke rumah ku. Benar saja, rumah sekarang terlihat sepi dan kosong. Sepertinya bapak sedang berada di pos jaga. Kalau suasananya sepi seperti sekarang ini aku jadi teringat beberapa waktu yang lalu. Saat suasana sepi tiba-tiba derap langkah prajurit-prajurit kompeni terdengar. Aku, adikku, dan mak ku di suruh bapak bersembunyi di bawah wangan atau lubang yang ada di bawah kasur. Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi di luar. Yang terdengar hanya suara deru campur debu, hasil dari peraduan senapan-senapan para prajurit. Setelah boleh keluar oleh bapak, aku melihat situasi di luar dan darah berceceran meninggalkan tilasnya hingga berjejak ke arah gunung. Kalau melihat situasi seperti itu ngeri rasanya, apalagi ternyata memakan korban warga pribumi yang tak bersalah, seorang dari sepasang bayi kembar tertembak mati tepat di kepalanya. Mungkin mereka sedang tertidur pulas, dan orang tuanya tak sempat mengamankan mereka.
            Kami masuk ke rumah dan mendapati rumah agak sedikit berantakan, aku melongok ke kamar mak.Ternyata mamak sedang tertidur pulas di sampingnya ada rewang.
            “Duh Gusti, Jaetun lah Jaetun dari mana saja kamu?" tanya rewangku.
            “Aku dari rumah paman, ada apa dengan mak?”
            “Mak mu kepeleset di kamar mandi kemarin, subuh-subuh.Mungkin mak mu terlalu memikirkan kamu.Kok ya kamu baru pulang hari ini?”
            “Maaf, aku Cuma belum siap," jawabku.
            Mak sepertinya terbangun mendengar percakapan kami.Kemudian dia menangis dan bangun meraih pundakku dan memelukku erat-erat, ”Ya Gusti putriku, Jaetun kenapa kamu," belum sempat selesai berkata-kata tangis ak sudah pecah.
            “Jaetun mohon maaf mak, tun hanya belum ingin menikah saat ini.Mak tetap ingin menikahkan jaetun, jadi aku lari dari rumah mak.Ampun," kata ku sambil terus menangis.
            Kemudian bibi dan paman bantu menjelaskan. Suara mobil terdengar, sepertinya bapak pulang.Kepalaku ini rasanya sudah tak karu-karuan apalagi hatiku. Aku tau bapak itu seorang yang tegas dan disiplin. Bapak mungkin akan menampar wajahku atau menghukumku.Ahh sudah aku pasrah saja.
            “Jaetun," panggil bapak.Bapak sepertinya sudah mendengar suarku tadi.
            “Ya Pak," aku menyahut dan mendekatinya.
            “Kamu tidak mau menikah?Kamu inginnya apa? Sekolah? Baiklah bapak akan mengirimmu ke rumah juragan Titin besok. Juragan Titin itu istri dari sahabat bapak. Kamu bapak hukum tinggal di sana untuk bantu-bantu.Kamu akan di sekolahkan di sana.Berangkatlah besok," kata papak dengan nada tinggi dan pergi ke dapur setelah selesai bicara.
            Aku tak bisa berucap apa-apa lagi. Perasaanku tidak karuan, antara senang, lega, kecewa, sedih, semua jadi satu. Senang karena bapak sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan ini, lega, kecewa dan sedih karena aku di hukum untuk bantu-bantu di rumah juragan Titin di kota. Setidaknya aku dapat terbebas dari semua ini.
            Esok pagi-pagi ayah mengantarku ke rumah juragan Titin. Aku di sekolahkan di sekolah rakyat.Tapi entah mengapa aku pun rasanya enggan bersekolah. Aku hanya ingin bekerja.
            Beberapa tahun berlalu dan aku telah mengenal seorang pemuda. Tingkah dan polahnya baik meski agak awur-awuran. Kami menikah dan hidup di kota. Dia adalah seorang sopir bus antarkota yang membuatku takut jika dia sedang marah.
            Apakah ini Tuhan, balasan dari Mu karena aku tak menuruti kata-kata kedua orang tuaku untuk menikah dengan pelaut itu.Meski banyak pahit, tapi kehidupan kembali berjalan dengan selaras. Aku hanya membiarkannya terjadi begitu saja. Atau mungkin ini sudah jalan-Mu.

Oleh: Sara Wulandari / PBSI / G


Tidak ada komentar:

Posting Komentar