Kisah ini aku awali saat sesuatu yang ku sebut itu mimpi hanya
mampu memberi ku pengharapan tanpa sebuah kepastian, mungkin mimpi bagi setiap
wanita yang ada di dunia ini. Namaku Zaitun, aku adalah seorang gadis berumur
belasan, berkulit putih, berambut ombak, bermata kebiru-biruan dan orang-orang
kampung selalu mengelu-elukan aku bak kembang desa. Aku orang pribumi asli,
lahir di daerah Bengkulu dan besar di tanah jawa. Mungkin yang membedakan aku
dengan sikap polah gadis-gadis lain itu tidak ada. Bapakku adalah seorang
komandan polisi kompeni Belanda dan aku hidup dimana orang-orang pribumi yang
hampir kehilangan jati dirinya. Ibuku wanita bernama Mainah, penuh lemah lembut
dan lihai dalam hal memasak.
Aku mungkin hanya gadis biasa yang kurang intelektual, yang aku tau hanya soal memasak
di dapur dan memacak diri. Sepertinya itu tak berpengaruh besar pada
kehidupanku di usiaku yang sekarang ini. Orang-orang desa seakan telah
menggariskan anak-anak perawan berumur belasan seperti aku agar cepat-cepat
menikah. Aku merasa jengah dengan seruan orang-orang sekitar. Misalkan saja
anak buah-anak buah bapak tetap saja bersikeras untuk mendekatiku, dan rekan
sejawatnya yang pelaut itu pun tak lepas selalu mencuri pandangan padaku. Aku
tak habis pikir mengapa lelaki begitu tak setia sekarang ini, sudah beristri
masih pula main mata pada wanita lain. Tapi bukan itu yang aku ingin saat ini.
Lalu sebenarnya apa yang aku pikirkan, untuk hidup pada zaman ini sudah untung
banyak lelaki yang antri melamarku. Bukan sesempit itu yang aku inginkan. Aku hanya
ingin mencari, mendapatkan sesuatu yang lain, lebih dari ini.Lebih dari
keharusan menikah di usia muda. Lebih dari keharusan untuk menikah, besok pagi.
“Tun, sedang apa kamu.Sudah malam, pergilah tidur. Esok kan hari pernikahan
mu.Tidak pantas kamu sekarang tidur malam-malam,” suara ibuku memecah denting
lamunanku malam ini.
“Iya mak, aku akan segera tidur," jawabku.
Aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, esok hari adalah hari pernikahan rancangan
bapak dan mamak yang memasangkanku dengan seorang bujang anak buah bapak.Ia tak
terlalu buruk, tapi aku tak berkeinginan menikah dengannya. Ia gemar memakan
roti yang dilapisi dengan sesuatu yang padat namun lembek itu, ia menyebutnya
mentega. Aku suka roti-roti yang selalu ia bawakan untukku dan pakaian-pakaian
indah yang ia berikan. Tapi itu tak bisa membeli ku untuk menikah dengannya.Aku
meniatkan sesuatu dalam hatiku.Hal yang dapat menghindarkanku dari semua ini.
Ya, aku harus lari dari rumah esok hari.
Saat ini tepat jam 3 pagi, aku telah siap dengan bekal dan sejumlah
pakaian. Memang tak jauh dari rumah, tapi setidaknya aku bisa bersembunyi
hingga beberapa waktu. Aku akan tinggal di rumah paman ku yang berjarak dua
desa dari rumahku. Paman dan bibiku di sana memang tak dekat dengan keluarga
bapak ibuku. Semenjak ada masalah tanah warisan, mereka tak dekat lagi atau
lebih tepatnya menjaga jarak dengan bapak ibu. Tapi, mereka sangat baik
kepadaku serta adik-adikku. Kalau sudah begini, aku teringat pada Mas Siman,
kakak pertamaku dan satu-satunya yang selalu membimbing dan mengayomi ku. Namun
kini mas ku itu sudah tak tahu lagi ada dimana, ia diberitakan telah hilang
dalam penyergapan dan penyerangan oleh pasukan pribumi terhadap para kompeni di
Irian.
Untung saat ini masih dini hari dan kuputuskan untuk
bersembunyi di balik tumpukan padi gudang belakang sebelum pergi. Lebih baik
aku pergi sekitar jam 6, saat itu andong Pak Kirman pasti baru saja singgah di
bawah rumpun bambu.
Hal yang aku khawatirkan terjadi, sekarang pukul 5 pagi dan mak telah
kebingungan dan memanggil-manggil bapak untuk memberitahukan ketiadaanku. Bapak
dan sodara-sodara yang lain sepertinya mencariku.
“Tun, jaetuuuun...!! dimana kamu," suara orang-orang ramai memanggilku.
Aku makin terpaku dengan keadaan ini, aku tak bisa seperti ini terus. Suara
berat langkah yang ku kenal perlahan mendekat dan benar saja.
“Jaetun! Sedang apa kamu di sini? Masuk ke kamar! Kamu ini bikin orang tua
repot.”, bentak bapak sembari mendorong karung damen yang menutupiku tadi.
Aku terpaksa mau memakai mbayak dan jarit ini. Polesan gincu dan lain-lain ini
membuatku gatal. Tiba-tiba aku teringat seseorang, Darto, pelaut yang telah beristri
itu.Ia datang dengan kumis tebalnya yang mencolok pandangan siapa saja yang
memandangnya saat ini.Aku keluar dari kamar dan menemui anggota keluarga yang
telah hadir. Mulutku sekan dipaksa tuk tersenyum. Tiba saatnya untuk
melancarkan rencana ku, pikirku dalam hati. Aku akan meminta tolong Pak Darto
untuk membantuku kabur dari pernikahan yang tidak aku inginkan ini.Aku tak akan
secara langsung memintanya untuk membantuku, tapi dengan cara yang lain.
“Bapak Darto, lihat bapak saya tidak?saya ingin meminta sesuatu padanya sebelum
pergi ke balai desa untuk ijab," tanyaku dengan nada se biasa mungkin.
“Itu bapakmu sedang bersama lelaki-lelaki dan tetangga-tetangga di depan, sudah
sana temui.”, jawabnya ketus.
Tak biasanya Bapak Darto bersikap ketus seperti itu. Pasti dia telah merasa
gagal mendapat kesempatan untukp menjadikanku istri ketiganya. Aku hanya ingin
memastikan kalao bapak memang sudah di depan karena aku akan pergi lewat kebun
belakang. Setelah itu aku hanya ingin membuat Pak Darto berkata bahwa aku pergi
ke arah depan, jika ada yang menanyakan ketidakberadaanku nanti.
Aku kembali ke kamar, sebelum lima belas menit lagi bapak menjemputku untuk
pergi ke balai desa. Baju lusuh dan jarit cokelat milik ibuku aku kenakan
sebagai ganti, sebelum keluar tak lupa aku bawa selendang cokelat milik
ku.Untuk menutupi wajahku yang gampang dikenali ini, aku pakai olesan arang
yang tadi pagi sempat ku ambil dari dapur. Keluarlah aku dari kamar, tanpa ada
yang mengenaliku satu pun. Mungkin, mereka kira aku ini hanya rewang atau
pembantu yang bertugas masak-masak.Sampai juga di bibir pintu belakang. Astaga
di kebun belakang ada Uwa Maman yang sedang membenahi sepeda ontelnya.Bagaimana
ini,rutukku dalam hati.
Aku melintas melewatinya, dan ia menyapaku, “Cah, mau kemana.Sudah selesai
masak-masaknya?wa lapar, ingin sarapan sebelum ke sawah.”
Pasti disangkanya aku ini rewang yang biasa bantu-bantu di rumahku. Belum
sempat aku jawab pertanyaannya, suara mamak yang lembut terdengar dari
belakang. Aduh, mati sudah rencanaku, pikirku.
“Wa maman, akan berangkat ke sawah kapan?nanti kalau lewat kebon singkong
tulung ambilkan singkong dua pohon ya," seru mamak lembut tapi jelas dan
untungnya mak tidak mendekat ke sini. Nafasku yang sempat memburu kembali aku
balikkan se biasa mungkin. Aku berjalan sambil terus menunduk menutupi muka ku
dengan selendang ini.Ingin aku menangis jika memang bisa saat ini. Aku
sebenarnya tak tega meninggalkan mak dan bapak dengan coreng hitam di wajah
mereka. Namun, sepertinya mereka sudah memahami bagaimana watakku. Mungkin
mereka akan memaafkanku esok-esok hari.
Perlahan suara mak yang berbincang dengan Wa Maman meredup, yang terdengar kini
hanya bunyi sandal jepit ku yang basah terkena genangan air di kebun tadi,
seperti menimbulkan suara berdecit. Aku sudah di ujung gang sekarang, tepat
menghadap rumpun bambu yang sudah bisa ditebak apa yang ku cari-cari. Ya,
andong Pak Kirman sudah berada di sana dan aku harus cepat-cepat menghampiri
sebelum mbok-mbok dan ibu-ibu mengambil kesempatan ku untuk menjadi penumpang
pertama pagi ini. Cepat-cepat aku tawar menawar harga.
“Desa Kawunganten, pak. Lima sen ya," tawarku.
“Desa itu lumayan jauh cah, tambah dua sen mangkat," sergah Pak Kirman.
“Baiklah, pak.”, tukas ku.
Rumah ini masih sama dan akan tetap sama sepertinya, keasriannya, cat hijau dan
cokelat kayu serta aroma mawar merah yang berkembang subur di halaman rumah.Aku
telah sampai di rumah paman dan bibi. Paman Gatot namanya, baik sekali
orangnya, waktu aku kecil paman sering memberi ku jajanan dan pakaian-pakaian.
Beliau juga suka membantu keluarga kami, tentunya sebelum ada permasalahan
warisan yang tidak mengenakkan itu. Sampai tahun kemarin pun aku masih
berkesempatan main ke sini.
Tiga kali aku mengetuk pintu dan ternyata Bibi Gatot yang membukakan pintu.
“Oalah, bocah-bocah, bocah ayu.Ada hal apa pagi-pagi sekali kesini Tun?” tanya
Bibi dengan tempo yang cepat dan lantang seeprti biasa.
“Aku, ada sesuatu bi.Aku , mmm," aku bingung bagaimana akan
menjelaskan kepada bibi ku ini.
Bibi lalu mempersilahkan ku masuk dan aku pun tak henti-henti nya menangis
sambil menceritakan semua yang terjadi padaku. Bibi tampaknya memahami, tapi
juga kurang setuju dengan tindakan ku yang kabur dari rumah.Suara khas Paman
Gatot membuat aku segera menyeka air mataku.
“Siapa ini, putu paman rupanya.Lah kenapa seperti habis nangis Tun?” tanya
Paman dengan nada khawatir.Aku segera bangkit dari duduk untuk menjabat
tangan paman.
“Bukan apa-apa paman, bi aku pamit ke kamar dulu," pamitku ke kamar Dini
anak satu-satunya paman dan bibi.Aku biasa tidur bersama Dini. Mungkin
kepadanyalah aku bisa dengan leluasa menceritakan masalah ku ini. Bukan
hanya bibi yang terkejut mendengar ceritaku, tapi Dini pun terkejut sekaligus
ikut merasakan keprihatinan yang ku alami. Jika bibi terkejut dan merasa marah
karena tak diberitahu sama sekali oleh kedua orang tuaku akan pernikahanku,
agaknya Dini merasa beruntung ia masih diperkenankan untuk sekolah dulu.
Lima hari sudah aku meninggalkan rumah, paman sepertinya telah diberitahu akan
kejadian yang aku alami. Siang itu paman dan bibi memanggilku, mereka ingin
mengajakku berbicara.
“Tun, paman hanya ingin menasihati. Kamu mbok ya jangan begitu.Kabur dari rumah
itu kan bukan pilihan yang baik. Tidak kamu coba menjelaskan pada orang tuamu?”
kata paman hati-hati.
“Sudah paman, berhari-hari sebelum hari itu aku pun sudah menjelaskan kalau aku
tak ingin dinikahkan dulu. Tapi mak dan bapak malah seperti itu.Katanya jika
tak menikah di usia sekarang, kapan lagi akan mendapatkan jodoh," tuturku.
“Sudah, pokoknya begini.Akan lebih baik kamu nanti sore paman dan bibi antarkan
kembali ke rumah. Sudah lima hari kan kamu di sini, bapak dan mak mu pasti
sedih mencari-cari kamu," jelas paman.
“Tapi, bagaimana kalau mereka memaksakan aku untuk menikah lagi paman,
Bi," tanyaku dengan ragu.
“Sudah jangan dipikirkan itu, biar paman dan bibi yang menjelaskan kepada mak
dan bapakmu kalau kamu belum kepengin menikah. Kamu ingin sekolah dulu?” tanya
paman tiba-tiba.
Aku merenung sejenak, apakah benar kata paman kalau sebenarnya aku ingin
sekolah dulu.Ahh sepertinya tidak muluk-muluk begitu. Yang aku inginkan hanya
mencari sesuatu yang lebih, entah itu pengalaman di kota atau yang lain. Bukan
menikah di usia muda.
“Mm, iya paman," jawabku singkat.
Sore harinya aku ditemani paman, bibi, dan Dini datang ke rumah ku. Benar saja,
rumah sekarang terlihat sepi dan kosong. Sepertinya bapak sedang berada di pos
jaga. Kalau suasananya sepi seperti sekarang ini aku jadi teringat beberapa
waktu yang lalu. Saat suasana sepi tiba-tiba derap langkah prajurit-prajurit
kompeni terdengar. Aku, adikku, dan mak ku di suruh bapak bersembunyi di bawah
wangan atau lubang yang ada di bawah kasur. Setelah itu aku tak tau apa yang
terjadi di luar. Yang terdengar hanya suara deru campur debu, hasil dari
peraduan senapan-senapan para prajurit. Setelah boleh keluar oleh bapak, aku
melihat situasi di luar dan darah berceceran meninggalkan tilasnya hingga
berjejak ke arah gunung. Kalau melihat situasi seperti itu ngeri rasanya,
apalagi ternyata memakan korban warga pribumi yang tak bersalah, seorang dari
sepasang bayi kembar tertembak mati tepat di kepalanya. Mungkin mereka sedang
tertidur pulas, dan orang tuanya tak sempat mengamankan mereka.
Kami masuk ke rumah dan mendapati rumah agak sedikit berantakan, aku melongok
ke kamar mak.Ternyata mamak sedang tertidur pulas di sampingnya ada rewang.
“Duh Gusti, Jaetun lah Jaetun dari mana saja kamu?" tanya rewangku.
“Aku dari rumah paman, ada apa dengan mak?”
“Mak mu kepeleset di kamar mandi kemarin, subuh-subuh.Mungkin mak mu terlalu
memikirkan kamu.Kok ya kamu baru pulang hari ini?”
“Maaf, aku Cuma belum siap," jawabku.
Mak sepertinya terbangun mendengar percakapan kami.Kemudian dia menangis dan
bangun meraih pundakku dan memelukku erat-erat, ”Ya Gusti putriku, Jaetun
kenapa kamu," belum sempat selesai berkata-kata tangis ak sudah pecah.
“Jaetun mohon maaf mak, tun hanya belum ingin menikah saat ini.Mak tetap ingin
menikahkan jaetun, jadi aku lari dari rumah mak.Ampun," kata ku sambil
terus menangis.
Kemudian bibi dan paman bantu menjelaskan. Suara mobil terdengar, sepertinya
bapak pulang.Kepalaku ini rasanya sudah tak karu-karuan apalagi hatiku. Aku tau
bapak itu seorang yang tegas dan disiplin. Bapak mungkin akan menampar wajahku
atau menghukumku.Ahh sudah aku pasrah saja.
“Jaetun," panggil bapak.Bapak sepertinya sudah mendengar suarku tadi.
“Ya Pak," aku menyahut dan mendekatinya.
“Kamu tidak mau menikah?Kamu inginnya apa? Sekolah? Baiklah bapak akan
mengirimmu ke rumah juragan Titin besok. Juragan Titin itu istri dari sahabat
bapak. Kamu bapak hukum tinggal di sana untuk bantu-bantu.Kamu akan di
sekolahkan di sana.Berangkatlah besok," kata papak dengan nada tinggi dan
pergi ke dapur setelah selesai bicara.
Aku tak bisa berucap apa-apa lagi. Perasaanku tidak karuan, antara senang,
lega, kecewa, sedih, semua jadi satu. Senang karena bapak sepertinya tidak
terlalu mempermasalahkan ini, lega, kecewa dan sedih karena aku di hukum untuk
bantu-bantu di rumah juragan Titin di kota. Setidaknya aku dapat terbebas dari
semua ini.
Esok pagi-pagi ayah mengantarku ke rumah juragan Titin. Aku di sekolahkan di
sekolah rakyat.Tapi entah mengapa aku pun rasanya enggan bersekolah. Aku hanya
ingin bekerja.
Beberapa tahun berlalu dan aku telah mengenal seorang pemuda. Tingkah dan polahnya
baik meski agak awur-awuran. Kami menikah dan hidup di kota. Dia adalah seorang
sopir bus antarkota yang membuatku takut jika dia sedang marah.
Apakah ini Tuhan, balasan dari Mu karena aku tak menuruti kata-kata kedua orang
tuaku untuk menikah dengan pelaut itu.Meski banyak pahit, tapi kehidupan
kembali berjalan dengan selaras. Aku hanya membiarkannya terjadi begitu saja.
Atau mungkin ini sudah jalan-Mu.
Oleh: Sara
Wulandari / PBSI / G

Tidak ada komentar:
Posting Komentar