Kurasakan hampa
dalam hidupku. Usai mengajar,
aku
sibukan hari-hari dengan memberi makan hewan ternak di kandang. Langkah
termangu kadang menengok ke kanan dan ke kiri, sepi ku rasa. Terlintas di benak
pikiranku akan kata-kata Sapta pada 25 tahun silam. Apa yang menjadi nasehatnya
sedikitpun tak pernah aku hiraukan. Kini, baru aku sesali bahwa sebenarnya
nasehat Sapta ternyata
benar-benar bernilai apabila hal itu aku lakukan. Namun, kini yang ada hanyalah
penyesalan.
Semua itu ingin aku
hilangkan. Namun, kadang kala
muncul
badai-badai kecil yang menghantam rumah tanggaku disaat lelah maupun
gundah. Semua itu hanya karena aku kurang
menghiraukan nasehat orang-orang yang sebenarnya
sangat sayang padaku sebagai keluarga.
Sambil merenung,
aku mengingat-ingat nasehat Sapta.
"Jon, lebih
baik kau pikir-pikir dulu niatmu untuk menikahi Surti. Apakah dia benar-benar
wanita yang kau idam-idamkan, sedangkan harapan orang tuamu setidaknya adalah
seorang wanita yang tidak
menganggur? Bahkan bapak juga tidak merestui hubunganmu dengan
alasan arah rumahnya tidak baik dengan arah rumahmu?” Ucapnya.
"Aku sudah
yakin , Jon!! Dialah yang aku cari selama ini, lagipula aku tidak akan menghiraukan bapak.” Dengan tegas aku menjawab
pertanyaan Sapta.
Lamunanku
terbuyar oleh kedatangan istriku yang menyuruhku untuk mengantarnya ke rumah
mertuaku. Sesuatu yang sangat tidak mengenakkan bagiku karena biasanya aku
ditanya-tanya oleh mertuaku tentang calon cucu yang tak kunjung mendiami isi
rahim istriku. Ujung-ujungnya, bakal terjadi cekcok antara aku dan istriku
sesampainya di rumah.
“Mas
kok malah disini aja si! Kambing terus yang diurus. Ayo buruan anterin ke tempat ibu!” Sambil marah-marah
ia menyuruhku.
“Sabar
dikit, Dik, aku kan baru saja pulang.” Jawabku.
“Pokoknya
aku enggak mau tau, buruan anter!” Sanggah Surti.
Mau
tak mau akupun siap-siap untuk pergi mengantar istriku ke rumah ibunya. Dengan
perasaan yang tak tentu aku mulai mengeluarkan motorku dari teras rumahku.
Dengan mengucap bismillah aku mulai meninggalkan rumah bersama istriku menuju
rumah mertuaku.
Seperti
yang sudah diduga, hal yang pertama dibahas setelah kami sampai di rumah
mertuaku adalah mengenai kapan mereka mempunyai cucu dari kami. Hal itu
tentunya bagiku sangat menyakitkan. Ibu surti mulai
bertanya-tanya padaku tentang kapan ia bisa menggendong cucunya.
“Sabar,
Buk, kita kan baru setahun menikah, kita perlu persiapan yang matang untuk
menyambut buah hati kita.” Aku berusaha
meyakinkan kepada ibu mertuaku tentang kehamilan istriku yang belum menjadi
keinginan kami.
Dirumah
mertua, ku lewati
menit demi menit dengan hal yang sangat membosankan dan membuat muak karena
hanya dibisingkan oleh suara mertuaku yang hanya membahas masalah cucu. Selang
beberapa lama, aku bersama istriku pulang kerumah.
Sesampainya
di rumah, seperti biasa istriku marah bak macan yang meraung-raung di
kandangnya yang sedang kehabisan makanan. Istriku marah-marah kepadaku karena
aku dianggap tidak bisa memberikan benih yang subur kepada rahimnya.
“Dengar
kan Mas ibu tadi ngomong apa?”
“Iya
Dik, sampai hafal malah. Seperti biasa ibu membahas hal yang serupa.” Jawabku.
Diteruskan keheninganku selama beberapa saat.
Kemudian
istriku membentak-bentak aku, namun aku masih sabar menanggapinya.
“Kamu
kok diam aja mas, mikir dong gimana cara nyeleseiin msalah ini. Jadi laki-laki kok
gak tegas!”
Hingga
tiba-tiba istriku membanting piring dan diikuti dengan umpatan-umpatan yang
tidak enak didengar.
“Kamu
ini bagaimana, Mas! Sampai-sampai ibu berulang kali menanyakan kehadiran cucunya! Aku malu, Mas! Kamu mandul
ya! Kamu impotensi? Haah!” istriku marah-marah kepadaku.
“Sembarangan
kalau ngomong! Belum tentu aku yang mandul! Kita kan belum periksa ke dokter
tentang masalah ini! Bisa juga kamu yang mandul
Surti! Aku mulai meradang menanggapi maki-makian istriku.
Mungkin
istriku sakit hati kepadaku lantaran aku membentaknya yang sebelumnya belum
pernah aku lakukan. Ia masuk kamar dengan angkuh.
“….brakkk!!!!”
Suara bantingan pintu yang keras mengiringi masuknya istriku ke dalam kamar.
Malam
itu kami tidak tidur bersama. Istriku tidur di kamar, sedangkan aku tidur di
sofa ruang tamu. Sampai malam aku tidak bisa tertidur memikirkan rumah tangga
yang baru seumur jagung ini tidak pernah ada yang
namanya hubungan harmonis, selalu saja bertengkar.
Mengiringi
langkah menuju tidurku aku kembali teringat dengan kata-kata Sapta saudara
kandungku bahwa aku tidak diizinkan menikah oleh bapakku karena arah rumahku
dengan arah rumah Surti tidak baik untuk dilakukannya suatu hubungan rumah tangga, dengan alasan jika pernikahan dilakukan maka tidak
akan berjalan lancar hubungan itu.
Aku
rebahkan kepalaku di sofa, hingga tak sadar aku mulai megantuk, dan tertidur,
menuju alam lupaku bersama penyesalanku akibat tak menghiraukanya nasehat dari
Sapta dan keluargaku.
Oleh : Terang
Wiji Prasetyo / PBSI / G
Tidak ada komentar:
Posting Komentar