Sabtu, 13 Oktober 2012

Sesal

Kurasakan hampa dalam hidupku. Usai mengajar, aku sibukan hari-hari dengan memberi makan hewan ternak di kandang. Langkah termangu kadang menengok ke kanan dan ke kiri, sepi ku rasa. Terlintas di benak pikiranku akan kata-kata Sapta pada 25 tahun silam. Apa yang menjadi nasehatnya sedikitpun tak pernah aku hiraukan. Kini, baru aku sesali bahwa sebenarnya nasehat Sapta ternyata benar-benar bernilai apabila hal itu aku lakukan. Namun, kini yang ada hanyalah penyesalan.
Semua itu ingin aku hilangkan. Namun, kadang kala muncul badai-badai kecil yang menghantam rumah tanggaku disaat lelah maupun gundah. Semua itu hanya karena aku kurang menghiraukan nasehat orang-orang yang sebenarnya sangat sayang padaku sebagai keluarga.
Sambil merenung, aku mengingat-ingat nasehat Sapta.
"Jon, lebih baik kau pikir-pikir dulu niatmu untuk menikahi Surti. Apakah dia benar-benar wanita yang kau idam-idamkan, sedangkan harapan orang tuamu setidaknya adalah seorang wanita yang tidak menganggur? Bahkan bapak juga tidak merestui hubunganmu dengan alasan arah rumahnya tidak baik dengan arah rumahmu?” Ucapnya.
"Aku sudah yakin , Jon!! Dialah yang aku cari selama ini, lagipula aku tidak akan menghiraukan bapak.” Dengan tegas aku menjawab pertanyaan Sapta.
Lamunanku terbuyar oleh kedatangan istriku yang menyuruhku untuk mengantarnya ke rumah mertuaku. Sesuatu yang sangat tidak mengenakkan bagiku karena biasanya aku ditanya-tanya oleh mertuaku tentang calon cucu yang tak kunjung mendiami isi rahim istriku. Ujung-ujungnya, bakal terjadi cekcok antara aku dan istriku sesampainya di rumah.
“Mas kok malah disini aja si! Kambing terus yang diurus. Ayo buruan anterin ke tempat ibu!” Sambil marah-marah ia menyuruhku.
“Sabar dikit, Dik, aku kan baru saja pulang.” Jawabku.
“Pokoknya aku enggak mau tau, buruan anter!” Sanggah Surti.
Mau tak mau akupun siap-siap untuk pergi mengantar istriku ke rumah ibunya. Dengan perasaan yang tak tentu aku mulai mengeluarkan motorku dari teras rumahku. Dengan mengucap bismillah aku mulai meninggalkan rumah bersama istriku menuju rumah mertuaku.
Seperti yang sudah diduga, hal yang pertama dibahas setelah kami sampai di rumah mertuaku adalah mengenai kapan mereka mempunyai cucu dari kami. Hal itu tentunya bagiku sangat menyakitkan. Ibu surti mulai bertanya-tanya padaku tentang kapan ia bisa menggendong cucunya.
“Sabar, Buk, kita kan baru setahun menikah, kita perlu persiapan yang matang untuk menyambut buah hati kita.”   Aku berusaha meyakinkan kepada ibu mertuaku tentang kehamilan istriku yang belum menjadi keinginan kami.
Dirumah mertua, ku lewati menit demi menit dengan hal yang sangat membosankan dan membuat muak karena hanya dibisingkan oleh suara mertuaku yang hanya membahas masalah cucu. Selang beberapa lama, aku bersama istriku pulang kerumah.
Sesampainya di rumah, seperti biasa istriku marah bak macan yang meraung-raung di kandangnya yang sedang kehabisan makanan. Istriku marah-marah kepadaku karena aku dianggap tidak bisa memberikan benih yang subur kepada rahimnya.
“Dengar kan Mas ibu tadi ngomong apa?”
“Iya Dik, sampai hafal malah. Seperti biasa ibu membahas hal yang serupa.” Jawabku. Diteruskan keheninganku selama beberapa saat.
Kemudian istriku membentak-bentak aku, namun aku masih sabar menanggapinya.
“Kamu kok diam aja mas, mikir dong gimana cara nyeleseiin msalah ini. Jadi laki-laki kok gak tegas!”
Hingga tiba-tiba istriku membanting piring dan diikuti dengan umpatan-umpatan yang tidak enak didengar.
“Kamu ini bagaimana, Mas! Sampai-sampai ibu berulang kali menanyakan  kehadiran cucunya! Aku malu, Mas! Kamu mandul ya! Kamu impotensi? Haah!” istriku marah-marah kepadaku.
“Sembarangan kalau ngomong! Belum tentu aku yang mandul! Kita kan belum periksa ke dokter tentang masalah ini! Bisa juga kamu yang mandul Surti! Aku mulai meradang menanggapi maki-makian istriku.
Mungkin istriku sakit hati kepadaku lantaran aku membentaknya yang sebelumnya belum pernah aku lakukan. Ia masuk kamar dengan angkuh.
“….brakkk!!!!” Suara bantingan pintu yang keras mengiringi masuknya istriku ke dalam kamar.
Malam itu kami tidak tidur bersama. Istriku tidur di kamar, sedangkan aku tidur di sofa ruang tamu. Sampai malam aku tidak bisa tertidur memikirkan rumah tangga yang baru seumur jagung ini tidak pernah ada yang namanya hubungan harmonis, selalu saja bertengkar.
Mengiringi langkah menuju tidurku aku kembali teringat dengan kata-kata Sapta saudara kandungku bahwa aku tidak diizinkan menikah oleh bapakku karena arah rumahku dengan arah rumah Surti tidak baik untuk dilakukannya suatu hubungan rumah tangga, dengan alasan jika pernikahan dilakukan maka tidak akan berjalan lancar hubungan itu.
Aku rebahkan kepalaku di sofa, hingga tak sadar aku mulai megantuk, dan tertidur, menuju alam lupaku bersama penyesalanku akibat tak menghiraukanya nasehat dari Sapta dan keluargaku.

Oleh : Terang Wiji Prasetyo / PBSI  / G

Tidak ada komentar:

Posting Komentar