Selasa, 23 Oktober 2012

Kasih Bunga Edelweis

-->
Di sebuah desa terpencil daerah Jawa Timur, hidup seorang Kyai pemimpin pondok pesantren bernama Pak Tegar. Pak Tegar tinggal bersama istri dan seorang putranya. Putra Pak Tegar bernama Sarwan. Sarwan adalah seorang anak yang cerdas, lincah, dan tangkas. Pak Tegar sangat bangga pada putranya itu. Pak Tegar menginginkan putranya menjadi orang yang dapat melindungi diri serta keluarganya. Sehingga sejak dini Pak Tegar menyuruh Sarwan berguru ilmu putih dengan salah seorang temannya.
Namun tak disangka jika ilmu yang Sarwan dapat justru membuatnya mengalami sedikit gangguan jiwa. Penyebab utama dari gangguan tersebut karena Sarwan belajar ilmu putih terlalu dini, sehingga psikisnya terganggu. Secara fisik Sarwan memang terlihat normal, namun terkadang kondisi jiwa yang tak menentu tersebut membuatnya kehilangan kontrol. Meski begitu, Sarwan tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
Karena kondisi jiwanya yang sedikit terganggu. Sarwan tidak dapat menamatkan sekolahnya, ia hanya bisa membantu ayahnya mengurus pondok pesantren. Pak Tegar tidak membiarkan Sarwan sendiri yang mengelola pesantren, ia memberi tugas kepada salah seorang santri putri untuk membantu Sarwan mengelola pesantren. Santri itu bernama Saroh, seorang gadis cantik, muslimah, lugu yang  cerdas dan baik hati.
Pak Tegar mengenal betul sosok santri kesayangannya itu, sehingga ia pun memberikan kepercayaan kepada Saroh untuk mengelola pesantren dengan Sarwan. Seiring berjalannya waktu, karena kebersamaan yang selalu mereka lewati, Sarwan mulai jatuh hati kepada Saroh. Ingin rasanya Sarwan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Namun Sarwan ragu, ia takut Saroh menolaknya karena mengetahui Sarwan yang mempunyai kekurangan secara psikis itu. Hingga pada suatu hari, ketika Sarwan sedang berada di ruang kerja, ia menemukan buku diary berwarna biru, dan sepertinya itu milik Saroh.
Jantung Sarwan berdetak kencang, dia ingin membaca buku itu, namun dia ragu untuk membacanya. Akhirnya setelah melihat keadaan sekitar yang saat itu sedang sepi, Sarwan memberanikan diri untuk membuka dan membaca halaman demi halaman. Setelah membaca buku itu, Sarwan merasa terkejut, bahagia, dan bingung. Bagaimana bisa seorang gadis yang sempurna seperti Saroh ternyata memendam rasa cinta kepada seorang lelaki pengangguran yang hanya mengandalkan pesantren ayahnya serta mempunyai gangguan jiwa seperti dirinya. Namun setelah membaca buku itu, ia menjadi yakin untuk melamar Saroh, dan menjadikannya istri.
Tiga bulan setelah peristiwa penemuan buku diary itu, Sarwan akhirnya menikah dengan Saroh. Betapa bahagianya Sarwan mendapatkan cintanya yang selama ini ia nantikan, Saroh. Seorang wanita yang begitu mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya.
Setelah menikah mereka tinggal di rumah orang tua Sarwan karena Sarwan yang masih harus mengelola pesantren. Kehidupan diawal pernikahan mereka masih baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan mereka semakin banyak, sedangkan Sarwan belum mempunyai pekerjaan tetap, akhirnya kondisi ekonomi keluarganya mulai kacau.
Untung saja ayah Sarwan, Pak Tegar mau membantu mereka yang sedang dalam kesusahan. Ia memberi modal kepada Sarwan untuk berjualan ikan di pasar. Namun kondisi psikis Sarwan yang tiba-tiba sering kambuh, membuatnya sulit mengelola penjualannya. Akhirnya ia bangkrut, dan berhenti berjualan.
Karena orang tua Sarwan yang pendapatannya hanya cukup untuk megelola pesantren, sehingga tidak dapat membantu Sarwan memberi modal lagi, dan juga kondisi psikis Sarwan yang kian hari sering kambuh. Akhirnya Saroh pun harus turut mencari nafkah, ia menjadi seorang buruh cuci di desanya. Sedikit demi sedikit kebutuhan keluarganya kembali terpenuhi.
Setelah setahun usia pernikahan mereka, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Hingga akhirnya 2 tahun kemudian anak pertama mereka lahir seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Syeri. Kelahiran Syeri memberikan berkah bagi hidup mereka. Semenjak kelahiran Syeri, kondisi psikis Sarwan mulai membaik. Saroh pun menjadi tidak khawatir jika Sarwan yang menjaga Syeri ketika ia harus bekerja.
Hingga suatu hari ...
Oeeek oeekk…” terdengar suara tangis Syeri. Saroh pun bergegas menuju kamar, dilihatnya Syeri tergeletak di lantai.
“Astagfirullah, kamu apakan anak kita Mas?” tanya Saroh setengah menangis, sambil mengendong Syeri.
“Pergi kamu ! pergiii ….!!!!” teriak Sarwan.
Saroh terkejut melihat penyakit Sarwan yang tiba-tiba kambuh lagi. Saroh pun tak tahu apa yang membuat penyakit Sarwan tiba-tiba kambuh. Kemudian Saroh menjauhkan Syeri dari Sarwan dan membawanya ke ruang depan. Sarwan dibiarkannya terkunci di dalam kamar. Meski tak tega, namun memang hanya ini yang bisa dilakukan Saroh saat suaminya sedang mengamuk. Semenjak itu, Syeri selalu dititipkan kepada mertuanya jika Saroh pergi bekerja.
Dua tahun kemudian, lahir anak kedua Sarwan dan Saroh seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Jiwo. Saat kelahiran Jiwo, kondisi psikis Sarwan sedang memuncak, hingga ia tak dapat mendampingi istrinya melahirkan bayi laki-lakinya. Meski begitu, Saroh tetap berusaha kuat melahirkan bayi mereka.
Namun kelahiran Jiwo justru menambah beban hidup bagi mereka, terutama Saroh. Jiwo terlahir dengan cacat mental. Sehingga menuntut Saroh untuk selalu berada di samping Jiwo. Meski kondisi Jiwo cacat mental, Saroh sangat mencintai putra keduanya tersebut. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, Saroh merawat Jiwo, Syeri, dan Sarwan.
Betapa besar cintanya terhadap keluarganya sehingga Saroh tak berhenti  bekerja siang dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sesekali jika kondisinya sedang baik, Sarwan juga turut bekerja mencari nafkah. Begitu kehidupan keluarga Sarwan dan Saroh, kebahagiaan seolah hanya menyapa saja kemudian pergi. Walau begitu, tak menyurutkan semangat Saroh untuk bertahan menjalani hidup yang penuh cobaan. Meski hidupnya berbeda dengan orang-orang biasa, namun tak henti ia bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Hingga pada suatu hari, seusai bekerja Saroh ingin beristirahat di kamar, dan saat membuka pintu kamar. Mendadak jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar, lidahnya kelu, bibirnya beku. Seakan beribu pisau menusuk hatinya. Saroh melihat Sarwan menggantung diri dikamar. Ia pun berteriak  “aaaaaaaaaaaaaaaa ……” sekujur tubuhnya mendadak lemas dan akhirnya ia pun pingsan.
Mendengar teriakan Saroh dari kamar, orang tua Sarwan mendatanginya. Mereka sangat shock melihat apa yang terjadi. Mereka pun bergegas membawa keduanya ke rumah sakit.
Cobaan memang datang bertubi-tubi menghampiri keluarga Saroh. Saroh tak menyangka suaminya akan meninggalkannya dengan kondisi seperti ini. Menggantung diri mengenaskan di kamar mereka. Saroh kecewa dengan suaminya yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya hingga merenggut nyawanya sendiri.
Kepergian Sarwan membuat Saroh merasa sangat kehilangan. Bertahun-tahun ia mencoba bertahan bersama Sarwan, membuktikan rasa cintanya yang besar terhadap suami dan anak-anaknya. Namun Sarwan meninggalkannya bersama anak-anaknya begitu saja.
Setelah sebulan semenjak kepergian Sarwan,  Saroh memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya dan kembali kerumah orang tuanya. Ia tidak ingin melihat kamar yang dijadikan tempat suaminya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Sarwan, telah berulang kali Saroh dilamar oleh laki-laki lain, namun ia tidak menerimanya karena yang ia cintai hanyalah Sarwan, suaminya yang pergi meninggalkannya, yang telah banyak ia berkorban untuknya, yang selama ini telah diperjuangkan olehnya, memang hanya Sarwan yang akan selalu hidup di hati Saroh, meski raganya tidak bersama Saroh, namun hatinya akan tetap selalu bersama Saroh sampai kapanpun. Kasih Saroh abadi untuk Sarwan.
***
 Meidisya Lutfi Isnaini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar