Di sebuah desa terpencil daerah Jawa Timur, hidup seorang Kyai pemimpin pondok
pesantren bernama Pak Tegar. Pak Tegar tinggal bersama istri dan seorang putranya. Putra Pak Tegar bernama Sarwan. Sarwan
adalah seorang anak yang cerdas, lincah, dan tangkas. Pak Tegar sangat bangga
pada putranya itu. Pak Tegar menginginkan putranya menjadi orang yang dapat
melindungi diri serta keluarganya. Sehingga sejak dini Pak Tegar menyuruh Sarwan berguru ilmu putih dengan salah seorang
temannya.
Namun tak disangka jika ilmu yang Sarwan
dapat justru membuatnya mengalami sedikit gangguan jiwa. Penyebab utama dari gangguan
tersebut karena Sarwan belajar ilmu putih terlalu dini, sehingga psikisnya
terganggu. Secara fisik Sarwan
memang terlihat normal, namun terkadang kondisi jiwa yang tak menentu tersebut
membuatnya kehilangan kontrol.
Meski begitu, Sarwan tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
Karena kondisi jiwanya yang sedikit terganggu.
Sarwan tidak dapat menamatkan sekolahnya, ia hanya bisa membantu ayahnya
mengurus pondok pesantren. Pak Tegar tidak membiarkan Sarwan sendiri yang
mengelola pesantren, ia memberi tugas kepada salah seorang santri putri untuk
membantu Sarwan mengelola pesantren. Santri itu bernama Saroh, seorang gadis cantik, muslimah, lugu yang
cerdas dan baik hati.
Pak Tegar mengenal betul
sosok santri kesayangannya itu, sehingga ia pun memberikan kepercayaan kepada
Saroh untuk mengelola pesantren dengan Sarwan. Seiring berjalannya waktu, karena
kebersamaan yang selalu mereka lewati, Sarwan mulai jatuh hati kepada Saroh.
Ingin rasanya Sarwan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Namun Sarwan
ragu, ia takut Saroh menolaknya karena mengetahui Sarwan yang mempunyai
kekurangan secara psikis itu. Hingga pada suatu hari, ketika Sarwan sedang
berada di ruang kerja, ia menemukan buku diary berwarna biru, dan sepertinya
itu milik Saroh.
Jantung Sarwan berdetak
kencang, dia ingin membaca buku itu, namun dia ragu untuk membacanya. Akhirnya
setelah melihat keadaan sekitar yang saat itu sedang sepi, Sarwan memberanikan
diri untuk membuka dan membaca halaman demi halaman. Setelah membaca buku itu,
Sarwan merasa terkejut, bahagia, dan bingung. Bagaimana bisa seorang gadis yang
sempurna seperti Saroh ternyata memendam rasa cinta kepada seorang lelaki
pengangguran yang hanya mengandalkan pesantren ayahnya serta mempunyai gangguan
jiwa seperti dirinya. Namun setelah membaca buku itu, ia menjadi yakin untuk
melamar Saroh, dan menjadikannya istri.
Tiga bulan setelah
peristiwa penemuan buku diary itu, Sarwan akhirnya menikah dengan Saroh. Betapa
bahagianya Sarwan mendapatkan cintanya yang selama ini ia nantikan, Saroh.
Seorang wanita yang begitu mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya.
Setelah
menikah mereka tinggal
di rumah orang tua Sarwan karena Sarwan
yang masih harus mengelola pesantren. Kehidupan diawal pernikahan mereka masih
baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan mereka semakin
banyak, sedangkan Sarwan belum mempunyai pekerjaan tetap, akhirnya kondisi
ekonomi keluarganya mulai kacau.
Untung saja ayah Sarwan, Pak Tegar mau membantu mereka yang sedang dalam kesusahan. Ia
memberi modal kepada Sarwan untuk berjualan ikan di pasar. Namun kondisi psikis
Sarwan yang tiba-tiba sering kambuh, membuatnya sulit mengelola penjualannya.
Akhirnya ia bangkrut, dan berhenti berjualan.
Karena orang tua Sarwan yang pendapatannya hanya cukup
untuk megelola pesantren, sehingga tidak dapat membantu Sarwan memberi modal
lagi, dan juga kondisi psikis Sarwan yang kian hari sering kambuh. Akhirnya Saroh
pun harus turut mencari nafkah, ia menjadi seorang buruh cuci di desanya.
Sedikit demi sedikit kebutuhan keluarganya kembali terpenuhi.
Setelah
setahun usia pernikahan mereka, mereka belum juga dikaruniai seorang anak.
Hingga akhirnya 2 tahun kemudian anak pertama mereka lahir seorang bayi
perempuan yang mereka beri nama Syeri. Kelahiran Syeri
memberikan berkah bagi hidup mereka. Semenjak kelahiran Syeri, kondisi psikis Sarwan mulai membaik. Saroh pun menjadi tidak khawatir jika Sarwan yang
menjaga Syeri ketika ia harus bekerja.
Hingga suatu hari ...
“Oeeek
oeekk…” terdengar
suara tangis Syeri. Saroh pun bergegas menuju kamar, dilihatnya Syeri tergeletak
di lantai.
“Astagfirullah, kamu apakan anak kita Mas?” tanya Saroh setengah menangis, sambil
mengendong Syeri.
“Pergi kamu ! pergiii ….!!!!” teriak Sarwan.
Saroh terkejut melihat penyakit
Sarwan yang tiba-tiba kambuh lagi. Saroh pun tak tahu apa yang membuat penyakit
Sarwan tiba-tiba kambuh. Kemudian Saroh menjauhkan Syeri dari Sarwan dan membawanya ke ruang depan. Sarwan
dibiarkannya terkunci di dalam kamar. Meski tak tega, namun memang hanya ini
yang bisa dilakukan Saroh saat suaminya sedang mengamuk. Semenjak itu, Syeri
selalu dititipkan kepada mertuanya jika Saroh pergi bekerja.
Dua
tahun kemudian, lahir anak kedua Sarwan dan Saroh seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Jiwo. Saat kelahiran Jiwo,
kondisi psikis Sarwan sedang memuncak, hingga ia tak dapat mendampingi istrinya
melahirkan bayi laki-lakinya. Meski begitu, Saroh tetap berusaha kuat
melahirkan bayi mereka.
Namun
kelahiran Jiwo justru menambah beban hidup bagi mereka, terutama Saroh. Jiwo
terlahir dengan cacat mental. Sehingga menuntut Saroh untuk selalu berada di samping
Jiwo. Meski kondisi Jiwo cacat mental, Saroh sangat mencintai putra keduanya
tersebut. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, Saroh merawat Jiwo, Syeri, dan Sarwan.
Betapa besar cintanya terhadap keluarganya sehingga Saroh
tak berhenti bekerja siang dan malam hanya untuk memenuhi
kebutuhan
keluarganya. Sesekali jika kondisinya sedang baik, Sarwan juga turut bekerja
mencari nafkah. Begitu kehidupan
keluarga Sarwan dan Saroh, kebahagiaan seolah hanya menyapa saja kemudian
pergi. Walau begitu, tak menyurutkan semangat Saroh untuk bertahan menjalani
hidup yang penuh cobaan. Meski hidupnya berbeda dengan orang-orang biasa, namun
tak henti ia bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Hingga pada suatu hari, seusai bekerja Saroh ingin beristirahat
di kamar, dan saat membuka pintu kamar. Mendadak jantungnya berdetak kencang,
tubuhnya bergetar, lidahnya kelu, bibirnya beku. Seakan beribu pisau menusuk
hatinya. Saroh melihat Sarwan menggantung diri dikamar. Ia pun berteriak “aaaaaaaaaaaaaaaa
……” sekujur tubuhnya mendadak
lemas dan akhirnya ia pun pingsan.
Mendengar teriakan Saroh dari kamar, orang tua Sarwan
mendatanginya. Mereka sangat shock melihat apa yang terjadi. Mereka pun
bergegas membawa keduanya ke rumah sakit.
Cobaan
memang datang bertubi-tubi menghampiri keluarga Saroh.
Saroh tak menyangka suaminya akan meninggalkannya dengan kondisi seperti ini.
Menggantung diri mengenaskan di kamar mereka. Saroh kecewa dengan suaminya yang
memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya hingga merenggut
nyawanya sendiri.
Kepergian
Sarwan membuat Saroh merasa sangat kehilangan. Bertahun-tahun ia mencoba
bertahan bersama Sarwan, membuktikan rasa cintanya yang besar terhadap suami
dan anak-anaknya. Namun Sarwan meninggalkannya bersama anak-anaknya begitu
saja.
Setelah
sebulan semenjak kepergian Sarwan, Saroh
memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya dan kembali kerumah orang tuanya. Ia tidak ingin melihat kamar
yang dijadikan tempat suaminya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian
setelah meninggalnya Sarwan, telah berulang kali Saroh dilamar oleh laki-laki
lain, namun ia tidak menerimanya
karena yang ia cintai hanyalah Sarwan, suaminya yang pergi meninggalkannya,
yang telah banyak ia berkorban untuknya, yang selama ini telah diperjuangkan olehnya,
memang hanya Sarwan yang akan selalu hidup di hati Saroh, meski raganya tidak
bersama Saroh, namun hatinya akan tetap selalu bersama Saroh sampai kapanpun.
Kasih Saroh abadi untuk Sarwan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar