Sabtu, 13 Oktober 2012

Bumi Orang Lain


Bumi Indonesia semakin hilang, tak terlihat, memutih bersama semakin tingginya burung besi ini membawaku terbang ke atas. Aku terus saja memperhatikan tanah kelahiranku lewat jendela nomor empat dari deretan kursi paling belakang. Bersama dua orang lainnya yang sama-sama berasal dari Jawa Tengah, kami bermaksud untuk mengadu nasib ke negeri seberang yang kata banyak orang, bisa sebagai tempat perbaikan ekonomi.
            Bagi orang-orang seperti kami, mendapat pekerjaan yang layak dengan hanya berbekal ijazah SMP saja merupakan hal yang dapat diibaratkan seperti pungguk merindukan bulan. Aku sudah dua tahun mencoba mencari peruntungan di ibukota, ingin seperti tetanggaku yang lumayan sukses perekonomiannya setelah merantau di Jakarta. Namun perbedaan latar pendidikan tentu membuat jarak yang berarti pada jenis pekerjaan yang aku dapatkan. Malang, hanya buruh harian saja yang bisa aku kerjakan sebagai mata pencaharianku di tanah betawi ini. Pun dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku dan keluargaku di Kebumen.
            Memasuki bulan ke-26 aku di tanah betawi, aku mendapatkan seorang kenalan yang menawariku pekerjaan sebagai TKI di Taiwan. Ajakan dari Tobing, sang penyalur tenaga kerja tersebut, sangatlah mempengaruhiku. Bagaikan menemukan sebuah oase di tengah panas gurun pasir perekonomian yang sedang aku lalui.Aku dapat mereguk pundi-pundi rupiah dari negeri seberang.
***
            Telah lama aku berfikir tentang tawaran Tobing. Sampai akhirnya aku membulatkan tekad untuk pulang ke kampungku, meminta izin dan restu pada keluarga tentang niatku mengadu nasib menjadi TKI.
            “Tapi duit 30 juta kue ora setitik lho, Mas.” kata istriku dengan logat jawanya. “Arep kangndi ulih duit akehe semeno Mas? Tabungan bae dewek ora ndue kan?”
            “Bener kue, Ahmad. Mending Kowe mikir maning bae niatmu kue. Ora kabeh wong sing dadi TKI sukses. Akeh mbireng wong sing gagal. Ana maning sing malah disiksa nang wong kana, ora digaji, malah-malah gelem dipateni..” ibuku menambah-nambahi perkataan istriku yang tak menyetujui jika aku merantau ke Taiwan.
            Benar juga apa yang mereka katakana. Tak sedikit para TKI yang menuai kegagalan. Tak sedikit pula dari mereka, yang ketika pulang ke tanah air, hanya tinggal menyisakan nama saja. Apalagi dengan keadaan ekonomi keluargaku yang bisa dibilang sangat minim sekali. Bahkan, untuk tempat tinggal pun, aku dan istriku masih menumpang di rumah ibuku, yang juga belum pantas disebut sebagai “rumah”. Tapi, jika aku terus saja bergelut dengan pekerjaanku yang sekarang, bagaimana aku bisa berhasil? Sementara orang-orang yang berhasil di luar sana adalah mereka yang berani mencoba.
***
            Malam hari, aku keluar mencari wartel. Aku berjalan menyusuri gelapnya jalan desaku sambil memandangi secarik kertas berisi 12 digit nomor handphone Tobing. Aku berharap dia bisa membantuku. Meminjamkan modal agar aku dapat pergi ke Taiwan, dan bekerja di sana. Toh dengan gaji 5 juta perbulanku, seperti apa yang Tobing katakan waktu ia menawariku menjadi TKI, aku bisa dengan beberapa bulan saja melunasi hutangku.
            “Oh, begitu rupanya? Tapi maaf kawan, sepertinya awak hanya bisa kasih pinjam Kau 15 juta saja. Sisanya, Kau carilah sendiri. Besok lusa, Kau datang ketempat awak di Purworejo sana. Kebetulan awak ada urusan di sana. Kau ambil itu uang, lalu, Kau cari sisanya dan Kau urus itu surat-surat yang Kau butuh.” Tobing memberiku penjelasan dengan bahasa indo-melayunya yang khas.
            Aku sedikit lega. Setidaknya, sudah ada setengah dari modal yang aku perlukan untuk dapat bekerja di perusahaan asing tersebut. Namun, tetap saja aku berpikir keras bagaimana cara mendapat sisa kekurangan modal yang masih terbilang cukup banyak itu. Lima belas juta.
            Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingat sepetak sawah milik ibuku yang ada di ujung kampung, dekat dengan jalan utama. Juga 2 buah cincin pernikahan beliau yang selalu melingkar di jari manis dan jari tengahnya. Bila tanah dan cincin itu aku pinjam, tentu saja dapat untuk menutup modal yang aku butuhkan, juga pasti masih sisa. Bisa untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang aku butuhkan.
            Aku pun mempercepat langkahku, agar lebih cepat sampai ke rumah dan mengutarakan apa yang ada pada pikiranku ini pada ibu.
            “Ahmad ulih nyelang kan, Bu? Mesti bakal tek balekna Bu, Ahmad janji. Tulungi anakmu kie ben sukses, Bu. Ahmad kesel karo kondisine dewek sing kaya kie terus. Percaya karo Ahmad..” aku terus saja merajuk, berharap permohonanku dikabulkan oleh ibu.
            “Iya nek kue berhasil, Mad. Pikir maning bae, masa nembe kerja bayaranmu langsung semeno gedene. Kowe kue ya hurung kenal banget karo Tobing kan?” ibu terus saja berusaha membuatku mengurungkan niat.
            “Percaya karo anakmu kie, Bu. Tobing kue bisa dipercaya, wong kae be nyelangi aku duit 15 juta, Bu. Mesti Tobing kae wong apik, Bu…” sanggahku.
            Aku terus saja meyakinkan ibu. Sangat-sangat berharap jika apa yang aku usahakan ini dapat berjalan lancar. Istriku hanya diam, dia tak banyak bicara ketika aku dan ibuku terus saja membicarakan hal ini. Istriku memang pendiam, dia kalem. Itu yang membuatku suka dan akhirnya melamarnya. Kekalemannya itu juga yang membuatku berani untuk meninggalkannya untuk keluar negeri. Pasti dia tak akan macam-macam di rumah, pikirku.
            Akhirnya ibuku meloloskan permintaanku. Ia relakan sepetak tanah yang selama ini digarapnya untuk menopang hidup serta cincin kenangannya bersama almarhum ayahku. Pinjaman tersebut terjual dengan jumlah 18 juta. Kuberikan sejuta untuk ibuku sebagai modal warung kecil-kecilan sebagai pengganti sumber penghidupannya di rumah.
***
            Berselang waktu satu bulan, setelah semua urusan administrasi selesai, akhirnya aku bisa berangkat juga ke Taiwan. Aku duduk dalam kabin di kursi dekat jendela, deret ke empat dari belakang, dengan perasaan penuh harap agar masalah perekonomian keluargaku dapat terselesaikan. Aku benar-benar ingin menikmati masa-masa awal penerbanganku menuju negeri orang ini. Aku pejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, membayangkan keadaan yang lebih baik bersama keluargaku, kelak.
            Sesampainya di Bandara Taiwan, entah apa namanya karena tulisannya menggunakan huruf yang asing bagiku, sudah ada delapan orang lain yang juga berasal dari Indonesia, yang juga bertujuan sama denganku. Mereka menunggu kedatangan kami bertiga, rombongan TKI terakhir yang ditunggu.
            Barang-barang bawaan telah selesai dikemas semua dalam mini bus yang disediakan oleh pihak perusahaan tempat kami akan bekerja. Kami pun berangkat menuju mes tempat kami bersebelas akan tinggal selama kami bekerja di Taiwan. Ada 12 orang lain dalam mini bus ini bersamaku. Sebelas orang dari Indonesia termasuk aku, seorang sopir mini bus, dan asistennya yang mungkin warga asli Taiwan. Suasana masih terasa sangat kaku karena kami belum saling mengenal, hanya sebatas nama panggilan dan hal-hal sepele yang lain.Baru setelah asisten mini bus mengeluarkan sebungkus rokok produksi Taiwan dan mempersilahkan kami untuk mencobanya, barulah suasana sedikit mencair. Gelak tawa mulai mewarnai isi mini bus yang katanya akan menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit.
***
            Sudah 6 bulan aku bekerja di perusahaan tekstil ini. Namun kenyataan yang aku dapatkan sangatlah bertolak belakang dengan apa yang aku bayangkan. Gaji yang aku dapatkan sangatlah minim. Alih-alih untuk mengirim uang ke keluarga di Indonesia, untuk mencukupi hidup sehari-hari disini pun, aku harus sangat ekstra dalam mengatur keuanganku. Ternyata Tobing menipuku. Dia tak mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku di perusahaan ini.
            “ Bah! Apa Kau tak ingat soal perjanjian yang sudah Kau tanda tangani itu, hah? Sudah jelas tertulis di situ, kalau gaji kotor Kau yang 7 juta perbulan itu bakal kena potong 2 juta tiap bulannya, selama masa kontrak Kau dengan perusahaan milik bos tekstil tu! Buat urusan gaji Kau sama perusahaan tu, itu bukan tanggung jawab awak lagi! Sudah paham Kau? Kau ancam awak mau dilapor polisi, terserah Kau itu. Tak mungkin itu bisa, Kau sudah tanda tangani tu surat pake materai!” masih terngiang dengan jelas apa yang Tobing katakan ditelepon saat aku menghubunginya untuk meminta kejelasan dan tanggung jawabnya atas nasibku ini. Namun sebagian besar yang aku dapat adalah nada bentakan dan makian darinya. Aku pun membaca salinan surat perjanjianku dengan Tobing yang aku bawa. Benar saja apa yang dikatakannya ditelepon. Akibat kekurangtelitianku, tentu aku tak bisa menggugatnya lewat jalur hukum.
            Gaji yang aku dapatkan secara bersih hanya berkisar 1 juta saja.Itu pun dalam kurs rupiah, sehingga aku harus cukup berhemat dalam pengeluaran harianku.Pernah aku dan teman-teman menanyakan tentang rincian pemotongan gaji kami, namun jawaban yang kami dapatkan hanya sebatas pemotongan biaya administrasi, pajak sebagai pekerja bukan warga asli, dan asuransi-asuransi lain yang jumlahnya kami kira tidak masuk akal. Pun penjelasan itu secara lisan dan menggunakan Bahasa Taiwan, sehingga tak secara keseluruhan penjelasan itu dapat ditangkap dengan baik. Pernah juga, pada bulan keempat, para karyawan dari Indonesia melakukan demo kenaikan gaji bersih. Bukannya keinginan kami terpenuhi, malah ancaman untuk dipotong gaji yang kami dapat. Praktis itu membuat nyali menciut. Sehingga bubarlah aksi demo tanpa hasil sama sekali.          
***
            Memasuki bulan kedelapan, aku dan enam teman lainnya sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan yang kami anggap sebagai kerja rodi ini. Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk melarikan diri dari perusahaan ini. Kami berpikir lebih baik mencari penghasilan diluar saja. Segala resiko bakal kami terima, baik itu menjadi buronan karena akan masuk pada daftar warga illegal, maupun menjadi gelandangan di luar sana. Toh sama saja nasibnya dengan bekerja di perusahaan tekstil ini. Sama-sama tak bisa memperoleh uang yang cukup. Paling tidak, jika kami diluar, kami akan merasa sedikit bebas tanpa omelan mandor-mandor yang menyebalkan.
            Akhir pekan, ketika ada waktu libur sehari bagi para karyawan, akhirnya aku dan 6 orang lainnya melarikan diri, menaiki bis kota tanpa tujuan yang jelas. Hingga ketika kami turun disalah satu sisi kota yang benar-benar sangat asing bagi kami, entah mengapa langsung ada polisi kota yang menghampiri dan menanyakan kartu identitas kami. Mungkin karena kami mempunyai wajah yang sangat berbeda. Kami tentu saja langsung gelagapan, tak bisa menunjukan identitas apapun karena semuanya menjadi arsip perusahaan tersebut selama kami masih dalam kontrak kerja. Melihat  kegugupan kami, polisi tersebut langsung saja memerintahkan kami untuk mengikutinya ke kantor. Mau tak mau, kami harus mengikutinya.
            Tapi ditengah jalan, saat perhatian polisi tersebut tertuju pada segerombolan anak sekolah yang akan menyeberang jalan, kami kembali melarikan diri, menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di halte tak jauh dari tempat kami. Sepanjang perjalanan yang tak tahu kemana arahnya, kami terus saja berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup mencari uang.
            Saat bus berhenti di halte dekat hutan, entah mengapa kami bertujuh memutuskan untuk turun. Dengan hanya berbekal makanan yang masih tersisa dalam tas masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke hutan, setelah salah satu dari kami mengatakan bahwa di dalam hutan tersebut sedang ada proyek pembangunan tower-tower jaringan listrik. Berharap dapat bekerja di tempat tersebut, kami masuk hutan.
            Nasib baik akhirnya menyertai kami. Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, kami akhirnya diterima bekerja. Kami menjalani kontrak selama delapan bulan dalam penyelesaian proyek ini. Setelah bekerja di proyek ini, aku mulai dapat membayar hutangku pada orang yang menipuku, karena hutangku dikenai bunga olehnya yang akan sangat memberatkanku jika semakin lama aku tidak membayarnya. Untung saja ibuku dapat mengertiakan kondisiku yang sedang mengenakan ini, seperti apa yang ditulisnya melalui surat. Aku hanya dapat berhubungan dengan keluargaku melalui surat. Itu pun sangat jarang sekali.Tapi aku optimis dapat melunasi semua hutangku.
            Selama bekerja di tempat pembangunan tower ini, kehidupanku juga tak sebaik ketika aku bekerja sebagai buruh di Jakarta. Resiko yang mendampingiku juga sangat besar.Apalagi sebagai warga ilegal. Akan sangat berbahaya bagiku jika sampai keluar dari hutan dan bertemu dengan polisi Taiwan, karena pasti akan langsung ditanyai identitas, dan bila tak bisa menunjukan identitas, tentu saja akan langsung ditangkap. Aku berpikir memang lebih baik bekerja di negara sendiri.
            Setelah kontrak selesai selama delapan bulan, dengan bantuan dari pemilik proyek, akhirnya kami dapat kembali ke tanah air, walaupun menggunakan perahu batu bara yang kebetulan akan berlayar ke Indonesia. Pun status kami tetap sebagai warga ilegal, dan kami harus bersembunyi ditumpukan batu bara jika ada petugas patroli laut yang memeriksa isi kapal. Sangat melelahkan melalui perjalanan yang teramat jauh menggunakan jalur laut.
***
            Masuk ke Indonesia, aku dapat menginjakan kakiku untuk pertama kalinya di tanah Kalimantan. Dengan sisa uang yang tidak seberapa, aku berpisah dengan enam orang lainnya, yang mempunyai tujuan masing-masing, untuk pulang ke rumah. Aku kembali menaiki kapal untuk menuju Pulau Jawa. Dalam perjalanan, aku dipusingkan oleh beban hutangku yang masih sangat banyak. Hutangku pada ibu pun belum aku bayar sepeser pun. Aku belum mampu membayarnya. Entah bagaimana aku akan membayarnya, jika aku pulang, lalu melanjutkan hidupku seperti sebelum aku pergi ke Taiwan, tentu saja akan sangat berat bagiku. Namun bayangan senyum istriku membuatku semangat untuk terus berjuang mencari nafkah, serta dapat sedikit mengobati kebingunganku.
            Berhari-hari terombang-ambing di atas Laut Jawa, akhirnya aku sampai juga di tanah Semarang. Kerinduanakan keluargaku, membuatku tak merasakan lelah yang sejatinya menuntutku untuk mengistirahatkan raga. Langsung saja aku menuju terminal, untuk mencari bus jurusan Kebumen, kabupaten tempat aku dilahirkan. Tak terasa, karena saking lelahnya, aku tertidur dalam perjalanan darat ini.
            Turun dari bus, dengan sisa uang di dompet yang hanya Rp 10.000,00, aku menumpang ojek. Jalanan yang tak kulihat sejak satu setengah tahun ini nampak berbeda. Pohon mahoni yang dulu berjajar rapi, kini berganti dengan pohon bintaro yang kelihatanya baru berumur beberapa bulan saja. Sawah-sawah mengering, menyisakan damen bekas dipanennya padi yang telah menguning. Hingga tampaklah rumahku, rumah ibuku, yang aku rindukan.
            Aku mengetuk pintu. Sepi. Suasana asing menyelimutiku. Dari luar jendela, aku melihat pijar lampu masih menyala. Sesuatu yang tak pernah terjadi, karena aku tahu ibu akan sangat menghemat penggunaan listrik, agar tak terlalu mahal tarifnya. Masih dari luar jendela, meja-meja nampak kotor, berdebu. Seakan telah lama tak ada orang yang membersihkannya. Padahal, istriku sangat rajin bersih-bersih rumah. Tampak juga gelas yang berisi teh, menjamur. Aku putar gagang  pintu yang ada di hadapanku. Terkunci. Kemana ibu? Kemana istriku?
            Aku mengelilingi rumah, berharap menemukan ibu atau istriku, sedang membersihkan halaman belakang. Atau sekedar bercengkerama berdua, menunggu kedatanganku. Tapi nihil. Lagi-lagi yang aku dapati hanya halaman yang penuh dengan daun-daun kuning yang gugur dari dahannya. Pertanyaan kemana mereka pergi kembali merasuk. Bahkan lebih dalam lagi. Membuat rasa bingung yang tadi melanda, menjadi rasa cemas, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi rasa takut yang terus menenggelamkanku.
            Samar-samar, aku mendengar ada suara orang memanggil namaku dari depan. Namun suara itu amatlah asing. Bukan suara istriku, pun bukan suara ibuku yang merdu. Dengan segera aku menuju depan rumah, melihat siapa gerangan yang datang.
            “Ahmad? Kowe Ahmad kan?” ternyata itu Pak Burhan,  tetanggaku yang sekarang telah menjadi ketua RT.
            “Iya, Pak, aku Ahmad. Tembe bae aku bali kie Pak. Kesel rasane. Ana apa ya?” tanyaku.
            “Kie Mad, kunci umahmu..”
            “Lho, ko nang Bapak? Oh iya, ibuku karo Lasmi mengendi ya Pak? Ngerti ra? Tek undang-undang koh ora semaur..”
            “Melbu umah disit bae yuh, ora penak ngomong nang njaba kaya kie..” ajak Pak RT, sambil berjalan di depanku, menuju pintu depan, lalu membukanya dengan kunci yang beliau bawa.
            Jujur saja, mendapati bahwa yang menyambut kepulanganku adalah Pak Burhan membuatku penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin kedatangan Pak Burhan dapat menjadi titik terang kemana perginya keluargaku. Liburankah? Tapi tak mungkin.
            “Kepriwe pak? Nggawe penasaran bae lho..” sergahku, setelah duduk di kursi lincak yang sebelumnya telah aku bersihkan sekedarnya.
            “Kaya kie lho Mad.. Ibumu kue……………….”
            Seakan semua ini mimpi, aku tak percaya akan penjelasan Pak Burhan. Istriku selingkuh dengan Pak Joko, Ketua RT sebelum Pak Burhan. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke Ciamis, kampung asal Pak Joko. Itu juga yang membuat Pak Burhan terpilih menjadi RT yang baru. Ibuku ditemukan meninggal sebulan setelahnya di dalam kamar, karena menanggung beban malu karena kelakuan menantunya, yang membuat kesehatan ibuku menurun, apalagi dengan menu makan yang seadanya.
Karena ibuku sudah 3 hari tidak terlihat keluar rumah dan lampu terus menyala, serta tak menjawab panggilan dari salah satu tetangga, pintu belakang didobrak, masuk mencari ibuku, dan menemukan ibuku telah kaku dalam kamar.
            Sebelum penjelasan Pak Burhan selesai, aku telah terlebih dahulu terhuyung ke depan, jatuh tersungkur dari kursi lincak tanpa sempat Pak Burhan menangkapku, pingsan. Entah mengapa, semuanya gelap. Terjadi begitu saja, tanpa pernah aku bayangkan.


Oleh: Tofah Rakhmat Pambudi / PBSI / G

Tidak ada komentar:

Posting Komentar