Bumi Indonesia semakin hilang, tak
terlihat, memutih bersama semakin tingginya burung besi ini membawaku terbang
ke atas. Aku terus saja memperhatikan tanah kelahiranku lewat jendela nomor
empat dari deretan kursi paling belakang. Bersama dua orang lainnya yang
sama-sama berasal dari Jawa Tengah, kami bermaksud untuk mengadu nasib ke
negeri seberang yang kata banyak orang, bisa sebagai tempat perbaikan ekonomi.
Bagi orang-orang seperti kami, mendapat
pekerjaan yang layak dengan hanya berbekal ijazah SMP saja merupakan hal yang
dapat diibaratkan seperti pungguk merindukan bulan. Aku sudah dua tahun mencoba
mencari peruntungan di ibukota, ingin seperti tetanggaku yang lumayan sukses
perekonomiannya setelah merantau di Jakarta. Namun perbedaan latar pendidikan
tentu membuat jarak yang berarti pada jenis pekerjaan yang aku dapatkan. Malang,
hanya buruh harian saja yang bisa aku kerjakan sebagai mata pencaharianku di
tanah betawi ini. Pun dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku
dan keluargaku di Kebumen.
Memasuki bulan ke-26 aku di tanah
betawi, aku mendapatkan seorang kenalan yang menawariku pekerjaan sebagai TKI
di Taiwan. Ajakan dari Tobing, sang penyalur tenaga kerja tersebut, sangatlah
mempengaruhiku. Bagaikan menemukan sebuah oase di tengah panas gurun pasir
perekonomian yang sedang aku lalui.Aku dapat mereguk pundi-pundi rupiah dari
negeri seberang.
***
Telah lama aku berfikir tentang tawaran
Tobing. Sampai akhirnya aku membulatkan tekad untuk pulang ke kampungku,
meminta izin dan restu pada keluarga tentang niatku mengadu nasib menjadi TKI.
“Tapi duit 30 juta kue ora setitik
lho, Mas.” kata istriku dengan logat jawanya. “Arep kangndi ulih duit akehe
semeno Mas? Tabungan bae dewek ora ndue kan?”
“Bener kue, Ahmad. Mending Kowe
mikir maning bae niatmu kue. Ora kabeh wong sing dadi TKI sukses. Akeh mbireng
wong sing gagal. Ana maning sing malah disiksa nang wong kana, ora digaji,
malah-malah gelem dipateni..” ibuku menambah-nambahi perkataan istriku yang tak
menyetujui jika aku merantau ke Taiwan.
Benar juga apa yang mereka katakana.
Tak sedikit para TKI yang menuai kegagalan. Tak sedikit pula dari mereka, yang
ketika pulang ke tanah air, hanya tinggal menyisakan nama saja. Apalagi dengan
keadaan ekonomi keluargaku yang bisa dibilang sangat minim sekali. Bahkan,
untuk tempat tinggal pun, aku dan istriku masih menumpang di rumah ibuku, yang
juga belum pantas disebut sebagai “rumah”. Tapi, jika aku terus saja bergelut
dengan pekerjaanku yang sekarang, bagaimana aku bisa berhasil? Sementara
orang-orang yang berhasil di luar sana adalah mereka yang berani mencoba.
***
Malam hari, aku keluar mencari
wartel. Aku berjalan menyusuri gelapnya jalan desaku sambil memandangi secarik
kertas berisi 12 digit nomor handphone Tobing. Aku berharap dia bisa
membantuku. Meminjamkan modal agar aku dapat pergi ke Taiwan, dan bekerja di
sana. Toh dengan gaji 5 juta perbulanku, seperti apa yang Tobing katakan waktu
ia menawariku menjadi TKI, aku bisa dengan beberapa bulan saja melunasi
hutangku.
“Oh, begitu rupanya? Tapi maaf
kawan, sepertinya awak hanya bisa kasih pinjam Kau 15 juta saja. Sisanya, Kau
carilah sendiri. Besok lusa, Kau datang ketempat awak di Purworejo sana.
Kebetulan awak ada urusan di sana. Kau ambil itu uang, lalu, Kau cari sisanya
dan Kau urus itu surat-surat yang Kau butuh.” Tobing memberiku penjelasan
dengan bahasa indo-melayunya yang khas.
Aku sedikit lega. Setidaknya, sudah
ada setengah dari modal yang aku perlukan untuk dapat bekerja di perusahaan
asing tersebut. Namun, tetap saja aku berpikir keras bagaimana cara mendapat
sisa kekurangan modal yang masih terbilang cukup banyak itu. Lima belas juta.
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku
ingat sepetak sawah milik ibuku yang ada di ujung kampung, dekat dengan jalan
utama. Juga 2 buah cincin pernikahan beliau yang selalu melingkar di jari manis
dan jari tengahnya. Bila tanah dan cincin itu aku pinjam, tentu saja dapat
untuk menutup modal yang aku butuhkan, juga pasti masih sisa. Bisa untuk
kebutuhan-kebutuhan lain yang aku butuhkan.
Aku pun mempercepat langkahku, agar
lebih cepat sampai ke rumah dan mengutarakan apa yang ada pada pikiranku ini
pada ibu.
“Ahmad ulih nyelang kan, Bu? Mesti
bakal tek balekna Bu, Ahmad janji. Tulungi anakmu kie ben sukses, Bu. Ahmad
kesel karo kondisine dewek sing kaya kie terus. Percaya karo Ahmad..” aku terus
saja merajuk, berharap permohonanku dikabulkan oleh ibu.
“Iya nek kue berhasil, Mad. Pikir maning
bae, masa nembe kerja bayaranmu langsung semeno gedene. Kowe kue ya hurung
kenal banget karo Tobing kan?” ibu terus saja berusaha membuatku mengurungkan
niat.
“Percaya karo anakmu kie, Bu. Tobing
kue bisa dipercaya, wong kae be nyelangi aku duit 15 juta, Bu. Mesti Tobing kae
wong apik, Bu…” sanggahku.
Aku terus saja meyakinkan ibu.
Sangat-sangat berharap jika apa yang aku usahakan ini dapat berjalan lancar.
Istriku hanya diam, dia tak banyak bicara ketika aku dan ibuku terus saja
membicarakan hal ini. Istriku memang pendiam, dia kalem. Itu yang membuatku
suka dan akhirnya melamarnya. Kekalemannya itu juga yang membuatku berani untuk
meninggalkannya untuk keluar negeri. Pasti dia tak akan macam-macam di rumah,
pikirku.
Akhirnya ibuku meloloskan permintaanku.
Ia relakan sepetak tanah yang selama ini digarapnya untuk menopang hidup serta
cincin kenangannya bersama almarhum ayahku. Pinjaman tersebut terjual dengan
jumlah 18 juta. Kuberikan sejuta untuk ibuku sebagai modal warung kecil-kecilan
sebagai pengganti sumber penghidupannya di rumah.
***
Berselang waktu satu bulan, setelah
semua urusan administrasi selesai, akhirnya aku bisa berangkat juga ke Taiwan. Aku
duduk dalam kabin di kursi dekat jendela, deret ke empat dari belakang, dengan
perasaan penuh harap agar masalah perekonomian keluargaku dapat terselesaikan.
Aku benar-benar ingin menikmati masa-masa awal penerbanganku menuju negeri
orang ini. Aku pejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, membayangkan keadaan
yang lebih baik bersama keluargaku, kelak.
Sesampainya di Bandara Taiwan, entah
apa namanya karena tulisannya menggunakan huruf yang asing bagiku, sudah ada
delapan orang lain yang juga berasal dari Indonesia, yang juga bertujuan sama
denganku. Mereka menunggu kedatangan kami bertiga, rombongan TKI terakhir yang
ditunggu.
Barang-barang bawaan telah selesai
dikemas semua dalam mini bus yang disediakan oleh pihak perusahaan tempat kami
akan bekerja. Kami pun berangkat menuju mes tempat kami bersebelas akan tinggal
selama kami bekerja di Taiwan. Ada 12 orang lain dalam mini bus ini bersamaku.
Sebelas orang dari Indonesia termasuk aku, seorang sopir mini bus, dan
asistennya yang mungkin warga asli Taiwan. Suasana masih terasa sangat kaku
karena kami belum saling mengenal, hanya sebatas nama panggilan dan hal-hal
sepele yang lain.Baru setelah asisten mini bus mengeluarkan sebungkus rokok
produksi Taiwan dan mempersilahkan kami untuk mencobanya, barulah suasana
sedikit mencair. Gelak tawa mulai mewarnai isi mini bus yang katanya akan
menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit.
***
Sudah 6 bulan aku bekerja di
perusahaan tekstil ini. Namun kenyataan yang aku dapatkan sangatlah bertolak
belakang dengan apa yang aku bayangkan. Gaji yang aku dapatkan sangatlah minim.
Alih-alih untuk mengirim uang ke keluarga di Indonesia, untuk mencukupi hidup
sehari-hari disini pun, aku harus sangat ekstra dalam mengatur keuanganku. Ternyata
Tobing menipuku. Dia tak mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku
di perusahaan ini.
“ Bah! Apa Kau tak ingat soal
perjanjian yang sudah Kau tanda tangani itu, hah? Sudah jelas tertulis di situ,
kalau gaji kotor Kau yang 7 juta perbulan itu bakal kena potong 2 juta tiap
bulannya, selama masa kontrak Kau dengan perusahaan milik bos tekstil tu! Buat
urusan gaji Kau sama perusahaan tu, itu bukan tanggung jawab awak lagi! Sudah
paham Kau? Kau ancam awak mau dilapor polisi, terserah Kau itu. Tak mungkin itu
bisa, Kau sudah tanda tangani tu surat pake materai!” masih terngiang dengan
jelas apa yang Tobing katakan ditelepon saat aku menghubunginya untuk meminta
kejelasan dan tanggung jawabnya atas nasibku ini. Namun sebagian besar yang aku
dapat adalah nada bentakan dan makian darinya. Aku pun membaca salinan surat
perjanjianku dengan Tobing yang aku bawa. Benar saja apa yang dikatakannya
ditelepon. Akibat kekurangtelitianku, tentu aku tak bisa menggugatnya lewat
jalur hukum.
Gaji yang aku dapatkan secara bersih
hanya berkisar 1 juta saja.Itu pun dalam kurs rupiah, sehingga aku harus cukup
berhemat dalam pengeluaran harianku.Pernah aku dan teman-teman menanyakan
tentang rincian pemotongan gaji kami, namun jawaban yang kami dapatkan hanya
sebatas pemotongan biaya administrasi, pajak sebagai pekerja bukan warga asli,
dan asuransi-asuransi lain yang jumlahnya kami kira tidak masuk akal. Pun
penjelasan itu secara lisan dan menggunakan Bahasa Taiwan, sehingga tak secara
keseluruhan penjelasan itu dapat ditangkap dengan baik. Pernah juga, pada bulan
keempat, para karyawan dari Indonesia melakukan demo kenaikan gaji bersih.
Bukannya keinginan kami terpenuhi, malah ancaman untuk dipotong gaji yang kami
dapat. Praktis itu membuat nyali menciut. Sehingga bubarlah aksi demo tanpa
hasil sama sekali.
***
Memasuki bulan kedelapan, aku dan
enam teman lainnya sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan yang kami
anggap sebagai kerja rodi ini. Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk
melarikan diri dari perusahaan ini. Kami berpikir lebih baik mencari
penghasilan diluar saja. Segala resiko bakal kami terima, baik itu menjadi
buronan karena akan masuk pada daftar warga illegal, maupun menjadi gelandangan
di luar sana. Toh sama saja nasibnya dengan bekerja di perusahaan tekstil ini.
Sama-sama tak bisa memperoleh uang yang cukup. Paling tidak, jika kami diluar,
kami akan merasa sedikit bebas tanpa omelan mandor-mandor yang menyebalkan.
Akhir pekan, ketika ada waktu libur
sehari bagi para karyawan, akhirnya aku dan 6 orang lainnya melarikan diri,
menaiki bis kota tanpa tujuan yang jelas. Hingga ketika kami turun disalah satu
sisi kota yang benar-benar sangat asing bagi kami, entah mengapa langsung ada
polisi kota yang menghampiri dan menanyakan kartu identitas kami. Mungkin
karena kami mempunyai wajah yang sangat berbeda. Kami tentu saja langsung
gelagapan, tak bisa menunjukan identitas apapun karena semuanya menjadi arsip
perusahaan tersebut selama kami masih dalam kontrak kerja. Melihat kegugupan kami, polisi tersebut langsung saja
memerintahkan kami untuk mengikutinya ke kantor. Mau tak mau, kami harus
mengikutinya.
Tapi ditengah jalan, saat perhatian
polisi tersebut tertuju pada segerombolan anak sekolah yang akan menyeberang
jalan, kami kembali melarikan diri, menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti
di halte tak jauh dari tempat kami. Sepanjang perjalanan yang tak tahu kemana
arahnya, kami terus saja berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup mencari
uang.
Saat bus berhenti di halte dekat
hutan, entah mengapa kami bertujuh memutuskan untuk turun. Dengan hanya
berbekal makanan yang masih tersisa dalam tas masing-masing, akhirnya kami memutuskan
untuk masuk ke hutan, setelah salah satu dari kami mengatakan bahwa di dalam
hutan tersebut sedang ada proyek pembangunan tower-tower jaringan listrik. Berharap
dapat bekerja di tempat tersebut, kami masuk hutan.
Nasib baik akhirnya menyertai kami. Walaupun
dengan gaji yang tidak seberapa, kami akhirnya diterima bekerja. Kami menjalani
kontrak selama delapan bulan dalam penyelesaian proyek ini. Setelah bekerja di
proyek ini, aku mulai dapat membayar hutangku pada orang yang menipuku, karena
hutangku dikenai bunga olehnya yang akan sangat memberatkanku jika semakin lama
aku tidak membayarnya. Untung saja ibuku dapat mengertiakan kondisiku yang
sedang mengenakan ini, seperti apa yang ditulisnya melalui surat. Aku hanya
dapat berhubungan dengan keluargaku melalui surat. Itu pun sangat jarang
sekali.Tapi aku optimis dapat melunasi semua hutangku.
Selama bekerja di tempat pembangunan
tower ini, kehidupanku juga tak sebaik ketika aku bekerja sebagai buruh di Jakarta.
Resiko yang mendampingiku juga sangat besar.Apalagi sebagai warga ilegal. Akan
sangat berbahaya bagiku jika sampai keluar dari hutan dan bertemu dengan polisi
Taiwan, karena pasti akan langsung ditanyai identitas, dan bila tak bisa
menunjukan identitas, tentu saja akan langsung ditangkap. Aku berpikir memang
lebih baik bekerja di negara sendiri.
Setelah kontrak selesai selama
delapan bulan, dengan bantuan dari pemilik proyek, akhirnya kami dapat kembali
ke tanah air, walaupun menggunakan perahu batu bara yang kebetulan akan
berlayar ke Indonesia. Pun status kami tetap sebagai warga ilegal, dan kami
harus bersembunyi ditumpukan batu bara jika ada petugas patroli laut yang
memeriksa isi kapal. Sangat melelahkan melalui perjalanan yang teramat jauh
menggunakan jalur laut.
***
Masuk ke Indonesia, aku dapat
menginjakan kakiku untuk pertama kalinya di tanah Kalimantan. Dengan sisa uang
yang tidak seberapa, aku berpisah dengan enam orang lainnya, yang mempunyai
tujuan masing-masing, untuk pulang ke rumah. Aku kembali menaiki kapal untuk
menuju Pulau Jawa. Dalam perjalanan, aku dipusingkan oleh beban hutangku yang
masih sangat banyak. Hutangku pada ibu pun belum aku bayar sepeser pun. Aku
belum mampu membayarnya. Entah bagaimana aku akan membayarnya, jika aku pulang,
lalu melanjutkan hidupku seperti sebelum aku pergi ke Taiwan, tentu saja akan
sangat berat bagiku. Namun bayangan senyum istriku membuatku semangat untuk
terus berjuang mencari nafkah, serta dapat sedikit mengobati kebingunganku.
Berhari-hari terombang-ambing di
atas Laut Jawa, akhirnya aku sampai juga di tanah Semarang. Kerinduanakan
keluargaku, membuatku tak merasakan lelah yang sejatinya menuntutku untuk
mengistirahatkan raga. Langsung saja aku menuju terminal, untuk mencari bus
jurusan Kebumen, kabupaten tempat aku dilahirkan. Tak terasa, karena saking
lelahnya, aku tertidur dalam perjalanan darat ini.
Turun dari bus, dengan sisa uang di
dompet yang hanya Rp 10.000,00, aku menumpang ojek. Jalanan yang tak kulihat
sejak satu setengah tahun ini nampak berbeda. Pohon mahoni yang dulu berjajar
rapi, kini berganti dengan pohon bintaro yang kelihatanya baru berumur beberapa
bulan saja. Sawah-sawah mengering, menyisakan damen bekas dipanennya padi yang
telah menguning. Hingga tampaklah rumahku, rumah ibuku, yang aku rindukan.
Aku mengetuk pintu. Sepi. Suasana
asing menyelimutiku. Dari luar jendela, aku melihat pijar lampu masih menyala.
Sesuatu yang tak pernah terjadi, karena aku tahu ibu akan sangat menghemat
penggunaan listrik, agar tak terlalu mahal tarifnya. Masih dari luar jendela,
meja-meja nampak kotor, berdebu. Seakan telah lama tak ada orang yang
membersihkannya. Padahal, istriku sangat rajin bersih-bersih rumah. Tampak juga
gelas yang berisi teh, menjamur. Aku putar gagang pintu yang ada di hadapanku. Terkunci. Kemana
ibu? Kemana istriku?
Aku mengelilingi rumah, berharap
menemukan ibu atau istriku, sedang membersihkan halaman belakang. Atau sekedar
bercengkerama berdua, menunggu kedatanganku. Tapi nihil. Lagi-lagi yang aku
dapati hanya halaman yang penuh dengan daun-daun kuning yang gugur dari
dahannya. Pertanyaan kemana mereka pergi kembali merasuk. Bahkan lebih dalam
lagi. Membuat rasa bingung yang tadi melanda, menjadi rasa cemas, kemudian
berangsur-angsur berubah menjadi rasa takut yang terus menenggelamkanku.
Samar-samar, aku mendengar ada suara
orang memanggil namaku dari depan. Namun suara itu amatlah asing. Bukan suara
istriku, pun bukan suara ibuku yang merdu. Dengan segera aku menuju depan rumah,
melihat siapa gerangan yang datang.
“Ahmad? Kowe Ahmad kan?” ternyata
itu Pak Burhan, tetanggaku yang sekarang
telah menjadi ketua RT.
“Iya, Pak, aku Ahmad. Tembe bae aku
bali kie Pak. Kesel rasane. Ana apa ya?” tanyaku.
“Kie Mad, kunci umahmu..”
“Lho, ko nang Bapak? Oh iya, ibuku
karo Lasmi mengendi ya Pak? Ngerti ra? Tek undang-undang koh ora semaur..”
“Melbu umah disit bae yuh, ora penak
ngomong nang njaba kaya kie..” ajak Pak RT, sambil berjalan di depanku, menuju
pintu depan, lalu membukanya dengan kunci yang beliau bawa.
Jujur saja, mendapati bahwa yang
menyambut kepulanganku adalah Pak Burhan membuatku penasaran apa yang terjadi
sebenarnya. Mungkin kedatangan Pak Burhan dapat menjadi titik terang kemana
perginya keluargaku. Liburankah? Tapi tak mungkin.
“Kepriwe pak? Nggawe penasaran bae
lho..” sergahku, setelah duduk di kursi lincak yang sebelumnya telah aku
bersihkan sekedarnya.
“Kaya kie lho Mad.. Ibumu
kue……………….”
Seakan semua ini mimpi, aku tak
percaya akan penjelasan Pak Burhan. Istriku selingkuh dengan Pak Joko, Ketua RT
sebelum Pak Burhan. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke Ciamis, kampung
asal Pak Joko. Itu juga yang membuat Pak Burhan terpilih menjadi RT yang baru. Ibuku
ditemukan meninggal sebulan setelahnya di dalam kamar, karena menanggung beban
malu karena kelakuan menantunya, yang membuat kesehatan ibuku menurun, apalagi
dengan menu makan yang seadanya.
Karena ibuku sudah 3 hari tidak terlihat keluar rumah dan lampu terus menyala, serta tak menjawab panggilan dari salah satu tetangga, pintu belakang didobrak, masuk mencari ibuku, dan menemukan ibuku telah kaku dalam kamar.
Karena ibuku sudah 3 hari tidak terlihat keluar rumah dan lampu terus menyala, serta tak menjawab panggilan dari salah satu tetangga, pintu belakang didobrak, masuk mencari ibuku, dan menemukan ibuku telah kaku dalam kamar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar