Getuk goreng Sokaraja sudah sangat terkenal namanya
hingga kota-kota lain di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi, bukan getuk goreng
khas yang “ASLI” dari Sokaraja jika tidak membeli di Toko Asli H. Tohirin
(Bapak Sanpirngad). Kesuksesan H. Tohirin dan keluarga dalam mengelola usaha
getuk goreng tersebut patutlah diacungi dua jempol, karena usaha tersebut
berhasil bertahan selama kurang lebih 94 tahun. Aku penasaran bagaimana
sebenarnya siapa yang pertama menemukan getuk goreng tersebut dan bagaimana
bisa berkembang seperti sekarang. Setelah aku penasaran tentang sejarah
penciptaan getuk goreng tersebut, akhirnya aku mencari tahu tentang asal-usul
asal mula penciptaan getuk goreng tersebut. Aku bertanya kepada teman-teman
yang berasal dari daerah tersebut. Menurut kabar yang beredar, getuk goreng H.
Tohirin itu merupakan bisnis warisan dari Bapak Sanpirngad (alm). Meskipun penemu
getuk goreng Sokaraja bukanlah H. Tohirin, namun ditangan lelaki inilah puncak
kejayaan bisnis getuk goreng bisa tercapai. Temanku mengatakan, cerita yang
beredar di sekitar masyarakat Sokaraja menyatakan bahwa pencipta getuk goreng
yang pertama kali adalah Bapak Sanpirngad (alm).
Dahulu pada tahun 1918, Bapak Sanpirngad bersama istrinya
yang bernama Sayem merupakan penjual nasi rames yamg mempunyai pembeli para
tengkulak beras, kusir dokar, dan pedagang pasar dari desa. Pada saat itu tidak
hanya hanya nasi rames saja yang dijual beliau, akan tetapi juga jajanan
seperti mendhoan, templek, getuk basah, dan lain-lain. Mereka berdua menjual
beraneka macam sayuran dan makanan di sebuah warung yang berupa gubuk kecil
dari anyaman bambu. Bapak Sanpirngad dan istrinya juga menjual getuk ( jajanan
dari singkong). Akan tetapi, sudah sekian lama dagangan mereka kurang laris
terjual. Getuk basah yang mereka jual tidak laku.
Beberapa hari dilewati Bapak Sanpirngad dan istrinya
dengan keadaan yang sama. Hingga pada suatu hari, berawal dari ketidaksengajaan
Bapak Sanpirngad menemukan sebuah ide. Ia merasa sayang, jika getuk yang tidak
laku itu kemudian akan dibuang. Lantas, Bapak Sanpirngad berinisiatif untuk
menggoreng getuk itu kembali. Adonan yang semula seperti biasa, lalu ia
tambahkan dengan gula dan kelapa. Kemudian, mereka menjual getuk goreng
tersebut di hari berikutnya dan ajaibnya dagangan getuknya pun laris terjual.
Pertama kali, getuk goreng itu disebut getuk kamal karena tempat menjualnya di
bawah pohon kamal.
Usaha getuk goreng bapak Sanpirngad semakin berkembang dan
semakin terkenal. Namun pada tahun 1967 bapak Sanpirngad meninggal dunia karena
sakit, sehingga usaha getuk goreng diteruskan oleh putrinya yaitu ibu Khadiyah
yang mempunyai suami yaitu bapak Tohirin.
Pasangan bapak Tohirin dan ibu Khadiyah inilah yang kemudian
mengembangkan usaha getuk goreng ini. Pekerjaannya menjual nasi rames pun ia
tinggalkan. Usaha getuk goreng di tangan bapak Tohirin pun kian lama kian
sukses. Ia tak pantang menyerah dan ulet dalam mengembangkan usahanya. Nama
getuk goreng telah cukup dikenal masyarakat, tetapi usaha yang dirintis oleh
keluarga H. Tohirin tersebut sering ditiru oleh tetangga-tetangganya di daerah
Sokaraja. Tetapi, Bapak Tohirin dan keluarga tidak patah semangat. Bapak
Tohirin terus mempromosikan getuk goreeng kepada rekan-rekan dan masyarakat
luas. Kerja
keras berbuah kesuksesan, puluhan tahun telah berlalu dan saat ini telah
berdiri hingga 11 cabang getuk goreng H. Tohirin. Oleh dari itu, Bapak Tohirin
pun sudah bisa naik haji berkat kesuksesannya menjual getuk goreng. H. Tohirin
sendiri telah meninggal beberapa waktu yang lalu.
Kini, H. Tohirin mewariskan toko-tokonya kepada tiga anaknya,
dua perempuan dan satu anak laki-laki. Ditangan ketiga anaknyalah, bergantung
tali asa usaha getuk tersebut. Mereka bertiga semakin mengembangkan usaha getuk
goreng untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi. Getuk goreng “ASLI”
H. Tohirin tidak pernah sepi pembeli. Apabila penulis melewati Jalan Jenderal
Soedirman Sokaraja, jalan di situ sedikit macet apalagi jika sedang musim-musim
liburan. Prestasi yang diperoleh getuk goreng ASLI Haji Tohirin adalah
sebagai pemrakarsa pembuatan Getuk Goreng Terbesar yang dilaksanakan di
alun-alun Purwokerto pada tahun 2002, tercatat di Museum Rekor Indonesia. Saat
ini hampir 1 abad usia usaha getuk goreng H.Tohirin
tersebut.
Oleh: Sara Wulandari / PBSI / G


Tidak ada komentar:
Posting Komentar