Sabtu, 13 Oktober 2012

Getuk Goreng, Pantang Menyerah Sepanjang Masa

Jika pernah berkunjung ke Kabupaten Banyumas, tentulah paham dengan sebuah makanan khas daerah Banyumas, tepatnya di Desa Sokaraja. Makanan khas yang terbuat dari bahan singkong itu menjadi salah satu favorit bagi para wisatawan yang berkunjung. Ya, betul sekali makanan khas tersebut adalah “getuk goreng”.
 Getuk goreng Sokaraja sudah sangat terkenal namanya hingga kota-kota lain di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi, bukan getuk goreng khas yang “ASLI” dari Sokaraja jika tidak membeli di Toko Asli H. Tohirin (Bapak Sanpirngad). Kesuksesan H. Tohirin dan keluarga dalam mengelola usaha getuk goreng tersebut patutlah diacungi dua jempol, karena usaha tersebut berhasil bertahan selama kurang lebih 94 tahun. Aku penasaran bagaimana sebenarnya siapa yang pertama menemukan getuk goreng tersebut dan bagaimana bisa berkembang seperti sekarang. Setelah aku penasaran tentang sejarah penciptaan getuk goreng tersebut, akhirnya aku mencari tahu tentang asal-usul asal mula penciptaan getuk goreng tersebut. Aku bertanya kepada teman-teman yang berasal dari daerah tersebut. Menurut kabar yang beredar, getuk goreng H. Tohirin itu merupakan bisnis warisan dari Bapak Sanpirngad (alm). Meskipun penemu getuk goreng Sokaraja bukanlah H. Tohirin, namun ditangan lelaki inilah puncak kejayaan bisnis getuk goreng bisa tercapai. Temanku mengatakan, cerita yang beredar di sekitar masyarakat Sokaraja menyatakan bahwa pencipta getuk goreng yang pertama kali adalah Bapak Sanpirngad (alm).
Dahulu pada tahun 1918, Bapak Sanpirngad bersama istrinya yang bernama Sayem merupakan penjual nasi rames yamg mempunyai pembeli para tengkulak beras, kusir dokar, dan pedagang pasar dari desa. Pada saat itu tidak hanya hanya nasi rames saja yang dijual beliau, akan tetapi juga jajanan seperti mendhoan, templek, getuk basah, dan lain-lain. Mereka berdua menjual beraneka macam sayuran dan makanan di sebuah warung yang berupa gubuk kecil dari anyaman bambu. Bapak Sanpirngad dan istrinya juga menjual getuk ( jajanan dari singkong). Akan tetapi, sudah sekian lama dagangan mereka kurang laris terjual. Getuk basah yang mereka jual tidak laku.
 Beberapa hari dilewati Bapak Sanpirngad dan istrinya dengan keadaan yang sama. Hingga pada suatu hari, berawal dari ketidaksengajaan Bapak Sanpirngad menemukan sebuah ide. Ia merasa sayang, jika getuk yang tidak laku itu kemudian akan dibuang. Lantas, Bapak Sanpirngad berinisiatif untuk menggoreng getuk itu kembali. Adonan yang semula seperti biasa, lalu ia tambahkan dengan gula dan kelapa. Kemudian, mereka menjual getuk goreng tersebut di hari berikutnya dan ajaibnya dagangan getuknya pun laris terjual. Pertama kali, getuk goreng itu disebut getuk kamal karena tempat menjualnya di bawah pohon kamal.
Usaha getuk goreng bapak Sanpirngad semakin berkembang dan semakin terkenal. Namun pada tahun 1967 bapak Sanpirngad meninggal dunia karena sakit, sehingga usaha getuk goreng diteruskan oleh putrinya yaitu ibu Khadiyah yang mempunyai suami yaitu bapak Tohirin.

Pasangan bapak Tohirin dan ibu Khadiyah inilah yang kemudian mengembangkan usaha getuk goreng ini. Pekerjaannya menjual nasi rames pun ia tinggalkan. Usaha getuk goreng di tangan bapak Tohirin pun kian lama kian sukses. Ia tak pantang menyerah dan ulet dalam mengembangkan usahanya. Nama getuk goreng telah cukup dikenal masyarakat, tetapi usaha yang dirintis oleh keluarga H. Tohirin tersebut sering ditiru oleh tetangga-tetangganya di daerah Sokaraja. Tetapi, Bapak Tohirin dan keluarga tidak patah semangat. Bapak Tohirin terus mempromosikan getuk goreeng kepada rekan-rekan dan masyarakat luas. Kerja keras berbuah kesuksesan, puluhan tahun telah berlalu dan saat ini telah berdiri hingga 11 cabang getuk goreng H. Tohirin. Oleh dari itu, Bapak Tohirin pun sudah bisa naik haji berkat kesuksesannya menjual getuk goreng. H. Tohirin sendiri telah meninggal beberapa waktu yang lalu.

Kini, H. Tohirin mewariskan toko-tokonya kepada tiga anaknya, dua perempuan dan satu anak laki-laki. Ditangan ketiga anaknyalah, bergantung tali asa usaha getuk tersebut. Mereka bertiga semakin mengembangkan usaha getuk goreng untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi. Getuk goreng “ASLI” H. Tohirin tidak pernah sepi pembeli. Apabila penulis melewati Jalan Jenderal Soedirman Sokaraja, jalan di situ sedikit macet apalagi jika sedang musim-musim liburan. Prestasi yang diperoleh getuk goreng ASLI  Haji Tohirin adalah sebagai pemrakarsa pembuatan Getuk Goreng Terbesar yang dilaksanakan di alun-alun Purwokerto pada tahun 2002, tercatat di Museum Rekor Indonesia. Saat ini hampir 1 abad usia usaha getuk goreng H.Tohirin tersebut.      


Oleh: Sara Wulandari / PBSI / G

Tidak ada komentar:

Posting Komentar