Selasa, 23 Oktober 2012

Kasih Bunga Edelweis

-->
Di sebuah desa terpencil daerah Jawa Timur, hidup seorang Kyai pemimpin pondok pesantren bernama Pak Tegar. Pak Tegar tinggal bersama istri dan seorang putranya. Putra Pak Tegar bernama Sarwan. Sarwan adalah seorang anak yang cerdas, lincah, dan tangkas. Pak Tegar sangat bangga pada putranya itu. Pak Tegar menginginkan putranya menjadi orang yang dapat melindungi diri serta keluarganya. Sehingga sejak dini Pak Tegar menyuruh Sarwan berguru ilmu putih dengan salah seorang temannya.
Namun tak disangka jika ilmu yang Sarwan dapat justru membuatnya mengalami sedikit gangguan jiwa. Penyebab utama dari gangguan tersebut karena Sarwan belajar ilmu putih terlalu dini, sehingga psikisnya terganggu. Secara fisik Sarwan memang terlihat normal, namun terkadang kondisi jiwa yang tak menentu tersebut membuatnya kehilangan kontrol. Meski begitu, Sarwan tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
Karena kondisi jiwanya yang sedikit terganggu. Sarwan tidak dapat menamatkan sekolahnya, ia hanya bisa membantu ayahnya mengurus pondok pesantren. Pak Tegar tidak membiarkan Sarwan sendiri yang mengelola pesantren, ia memberi tugas kepada salah seorang santri putri untuk membantu Sarwan mengelola pesantren. Santri itu bernama Saroh, seorang gadis cantik, muslimah, lugu yang  cerdas dan baik hati.
Pak Tegar mengenal betul sosok santri kesayangannya itu, sehingga ia pun memberikan kepercayaan kepada Saroh untuk mengelola pesantren dengan Sarwan. Seiring berjalannya waktu, karena kebersamaan yang selalu mereka lewati, Sarwan mulai jatuh hati kepada Saroh. Ingin rasanya Sarwan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Namun Sarwan ragu, ia takut Saroh menolaknya karena mengetahui Sarwan yang mempunyai kekurangan secara psikis itu. Hingga pada suatu hari, ketika Sarwan sedang berada di ruang kerja, ia menemukan buku diary berwarna biru, dan sepertinya itu milik Saroh.
Jantung Sarwan berdetak kencang, dia ingin membaca buku itu, namun dia ragu untuk membacanya. Akhirnya setelah melihat keadaan sekitar yang saat itu sedang sepi, Sarwan memberanikan diri untuk membuka dan membaca halaman demi halaman. Setelah membaca buku itu, Sarwan merasa terkejut, bahagia, dan bingung. Bagaimana bisa seorang gadis yang sempurna seperti Saroh ternyata memendam rasa cinta kepada seorang lelaki pengangguran yang hanya mengandalkan pesantren ayahnya serta mempunyai gangguan jiwa seperti dirinya. Namun setelah membaca buku itu, ia menjadi yakin untuk melamar Saroh, dan menjadikannya istri.
Tiga bulan setelah peristiwa penemuan buku diary itu, Sarwan akhirnya menikah dengan Saroh. Betapa bahagianya Sarwan mendapatkan cintanya yang selama ini ia nantikan, Saroh. Seorang wanita yang begitu mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya.
Setelah menikah mereka tinggal di rumah orang tua Sarwan karena Sarwan yang masih harus mengelola pesantren. Kehidupan diawal pernikahan mereka masih baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan mereka semakin banyak, sedangkan Sarwan belum mempunyai pekerjaan tetap, akhirnya kondisi ekonomi keluarganya mulai kacau.
Untung saja ayah Sarwan, Pak Tegar mau membantu mereka yang sedang dalam kesusahan. Ia memberi modal kepada Sarwan untuk berjualan ikan di pasar. Namun kondisi psikis Sarwan yang tiba-tiba sering kambuh, membuatnya sulit mengelola penjualannya. Akhirnya ia bangkrut, dan berhenti berjualan.
Karena orang tua Sarwan yang pendapatannya hanya cukup untuk megelola pesantren, sehingga tidak dapat membantu Sarwan memberi modal lagi, dan juga kondisi psikis Sarwan yang kian hari sering kambuh. Akhirnya Saroh pun harus turut mencari nafkah, ia menjadi seorang buruh cuci di desanya. Sedikit demi sedikit kebutuhan keluarganya kembali terpenuhi.
Setelah setahun usia pernikahan mereka, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Hingga akhirnya 2 tahun kemudian anak pertama mereka lahir seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Syeri. Kelahiran Syeri memberikan berkah bagi hidup mereka. Semenjak kelahiran Syeri, kondisi psikis Sarwan mulai membaik. Saroh pun menjadi tidak khawatir jika Sarwan yang menjaga Syeri ketika ia harus bekerja.
Hingga suatu hari ...
Oeeek oeekk…” terdengar suara tangis Syeri. Saroh pun bergegas menuju kamar, dilihatnya Syeri tergeletak di lantai.
“Astagfirullah, kamu apakan anak kita Mas?” tanya Saroh setengah menangis, sambil mengendong Syeri.
“Pergi kamu ! pergiii ….!!!!” teriak Sarwan.
Saroh terkejut melihat penyakit Sarwan yang tiba-tiba kambuh lagi. Saroh pun tak tahu apa yang membuat penyakit Sarwan tiba-tiba kambuh. Kemudian Saroh menjauhkan Syeri dari Sarwan dan membawanya ke ruang depan. Sarwan dibiarkannya terkunci di dalam kamar. Meski tak tega, namun memang hanya ini yang bisa dilakukan Saroh saat suaminya sedang mengamuk. Semenjak itu, Syeri selalu dititipkan kepada mertuanya jika Saroh pergi bekerja.
Dua tahun kemudian, lahir anak kedua Sarwan dan Saroh seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Jiwo. Saat kelahiran Jiwo, kondisi psikis Sarwan sedang memuncak, hingga ia tak dapat mendampingi istrinya melahirkan bayi laki-lakinya. Meski begitu, Saroh tetap berusaha kuat melahirkan bayi mereka.
Namun kelahiran Jiwo justru menambah beban hidup bagi mereka, terutama Saroh. Jiwo terlahir dengan cacat mental. Sehingga menuntut Saroh untuk selalu berada di samping Jiwo. Meski kondisi Jiwo cacat mental, Saroh sangat mencintai putra keduanya tersebut. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, Saroh merawat Jiwo, Syeri, dan Sarwan.
Betapa besar cintanya terhadap keluarganya sehingga Saroh tak berhenti  bekerja siang dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sesekali jika kondisinya sedang baik, Sarwan juga turut bekerja mencari nafkah. Begitu kehidupan keluarga Sarwan dan Saroh, kebahagiaan seolah hanya menyapa saja kemudian pergi. Walau begitu, tak menyurutkan semangat Saroh untuk bertahan menjalani hidup yang penuh cobaan. Meski hidupnya berbeda dengan orang-orang biasa, namun tak henti ia bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Hingga pada suatu hari, seusai bekerja Saroh ingin beristirahat di kamar, dan saat membuka pintu kamar. Mendadak jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar, lidahnya kelu, bibirnya beku. Seakan beribu pisau menusuk hatinya. Saroh melihat Sarwan menggantung diri dikamar. Ia pun berteriak  “aaaaaaaaaaaaaaaa ……” sekujur tubuhnya mendadak lemas dan akhirnya ia pun pingsan.
Mendengar teriakan Saroh dari kamar, orang tua Sarwan mendatanginya. Mereka sangat shock melihat apa yang terjadi. Mereka pun bergegas membawa keduanya ke rumah sakit.
Cobaan memang datang bertubi-tubi menghampiri keluarga Saroh. Saroh tak menyangka suaminya akan meninggalkannya dengan kondisi seperti ini. Menggantung diri mengenaskan di kamar mereka. Saroh kecewa dengan suaminya yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya hingga merenggut nyawanya sendiri.
Kepergian Sarwan membuat Saroh merasa sangat kehilangan. Bertahun-tahun ia mencoba bertahan bersama Sarwan, membuktikan rasa cintanya yang besar terhadap suami dan anak-anaknya. Namun Sarwan meninggalkannya bersama anak-anaknya begitu saja.
Setelah sebulan semenjak kepergian Sarwan,  Saroh memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya dan kembali kerumah orang tuanya. Ia tidak ingin melihat kamar yang dijadikan tempat suaminya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Sarwan, telah berulang kali Saroh dilamar oleh laki-laki lain, namun ia tidak menerimanya karena yang ia cintai hanyalah Sarwan, suaminya yang pergi meninggalkannya, yang telah banyak ia berkorban untuknya, yang selama ini telah diperjuangkan olehnya, memang hanya Sarwan yang akan selalu hidup di hati Saroh, meski raganya tidak bersama Saroh, namun hatinya akan tetap selalu bersama Saroh sampai kapanpun. Kasih Saroh abadi untuk Sarwan.
***
 Meidisya Lutfi Isnaini
Selengkapnya...

Minggu, 21 Oktober 2012

Sepanjang Pantai Sepanjang

Pesona pantai Kuta di Gunung Kidul. Pantai Sepanjang adalah pantai yang sangat putih pasirnya di antara jajaran pantai yang ada di Gunungkidul. Bibir pantainya memanjang mirip pantai Kuta di Bali. Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dari pusat kota Wonosari untuk melihat hamparan pasir putih Sepanjang atau sekitar 20 km dari Wonosari. Pantai Sepanjang diapit oleh pantai Kukup di sebelah kanannya dan pantai Watu Kodok di sebelah kirinya. Dari jalan raya butuh 1 km perjalanan menyentuh airnya, sekarang jalanan itu sudah halus beraspal dan sangat indah karena jalan menurun di hiasi ladang, pepohonan tropis seperti kelapa, ketela dan lain sebagainya. Seperti membelah gunung menuju lautan, karena kanan dan kirinya perbukitan karst.
Pemberian kata "Sepanjang" disebabkan pantai ini memiliki garis pantai terpanjang diantara pantai-pantai di Kabupaten Gunung Kidul. Pantai Sepanjang tidak memiliki barrier atau pulau yang menghalangi. Angin berhembus begitu kencang, sepanjang mata memandang hamparan putih pasir yang sedikit kasar dan ombak yang bergulung-gulung saling berkejaran. Batuan di Pantai Sepanjang merupakan batuan gamping dan melapuk menjadi tanah jenis Mediteran. Kearifan lokalnya masih terjaga alami. Pantai ini belum lama di buka menjadi tempat wisata sekitar 5 tahun yang lalu. Semakin ramai dan di kenal masyarakat setelah jalanannya di aspal tiga tahun yang lalu, dan tak perlu berjalan jauh dari tempat parkir menuju bibir pantai yang melambai-lambaikan riak ramai nyanyian ombaknya yang pecah.
Beberapa gubuk beratap daun kering berdiri di beberapa sudut menghadap ke pantai menyediakan berbagai olahan ikan, udang dan hasil pantai lainnya. Di pantai ini tidak kita temukan perahu-perahu nelayan, namun pantai ini adalah tempat budidaya rumput laut. Rumput laut dengan berbagai jenis bisa di olah menjadi berbagai macam olahan ada yang di keringkan dan di jadikan es rumput laut atau agar-agar, ada rumput laut yang dijadikan keripik dan ada juga rumput laut yang di olah menjadi “gudangan”, orang Gunung Kidul sering menyebutnya seperti itu. Rumput laut di kukus dan dihidangkan dengan sambal “gudangan”. Masih ada beberapa jenis keripik yang bisa ditemukan di sana keripik udang, keripik jingking dan keripik kulit ubi.

Lingkunagan pantai masih asri dan terjaga, masih bisa dikatakan pantai yang perawan dan bersih. Sanitasinya bagus, banyak kamar mandinya dan tempat sampah. Pengelolaan para pedagang sekitarnya juga di kelola secara organisasi kemasyarakatan jadi ada diskusi termasuk dalam penetapan harga makanan, minuman, parkir dan lain sebagainya sehingga tak ada monopoli. Tempatnya luas dan tidak terlalu ramai berpotensi menjadi kawasan pariwisata yang nyaman, hemat, dan memuaskan untuk keluarga maupun siapa saja yang ingin berlama menghabiskan waktu bersama. 

Oleh: Amalia Ulinnuha / PBSI / G
Selengkapnya...

Rabu, 17 Oktober 2012

Janji jari-jari

Kelingking dan ibu jari
yang terpisahkan jari telunjuk, jari tengah, dan si manis
Saat kelingking terluka
Seakan ibu jari terasa sakit
Suatu hari ibu jari terluka parah
Hingga kuku yang melindunginya tercongkel patah
Darah menetes
Seperti peluh air mata si jari kelingking
Perlahan darah membeku
Kelingking mengusap dengan lembut ibu jari
Sampai akhirnya ibu jari telah pulih
Sejak itu ibu jari berjanji
Akan selalu bersama kelingking
Tak kuasa pada hari itu
Ibu jari mnyentuh kelingking yang lain
lebih hangat dan nyaman
Ia lebih sering bersama kelingking itu
daripada kelingking sang penolong
Kini ibu jari tak pernah lagi menyentuh kelingking seperti dulu
Ia semakin terbuai dengan kelingking yang baru
Yang mengusapnya dengan kasar dan menjijikan
Akhirnya kelingking penolong hilang diamputasi
Sebab ibu jari yang bermain pisau bermata tajam
Tak ada lagi nyanyian merdu ibu jari dan kelingking
bernyanyi irama yang sama
Tiap pagi dan petang
Mereka bertemu
Dahulu
Tiap pagi dan petang
Kini hanya ibu jari dengan kelingking baru dengan cat merah menyala
Oleh : Sara Wulandari / G / PBSI
Selengkapnya...

Senin, 15 Oktober 2012

Dan Hujan

Dan hujan pun tak akan mampu
walau sekedar patahkan tekad
bahkan kita dapat menghitung bersama curahnya
lalu, sesekali cahaya kilat menyapa wajah kita
kau akan takut, mendekat, dan sedikit merapat
setidaknya,
untuk saat seperti itu.

Oleh: Tofah Rakhmat Pambudi / PBSI / G
Selengkapnya...

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bumi Orang Lain


Bumi Indonesia semakin hilang, tak terlihat, memutih bersama semakin tingginya burung besi ini membawaku terbang ke atas. Aku terus saja memperhatikan tanah kelahiranku lewat jendela nomor empat dari deretan kursi paling belakang. Bersama dua orang lainnya yang sama-sama berasal dari Jawa Tengah, kami bermaksud untuk mengadu nasib ke negeri seberang yang kata banyak orang, bisa sebagai tempat perbaikan ekonomi.
            Bagi orang-orang seperti kami, mendapat pekerjaan yang layak dengan hanya berbekal ijazah SMP saja merupakan hal yang dapat diibaratkan seperti pungguk merindukan bulan. Aku sudah dua tahun mencoba mencari peruntungan di ibukota, ingin seperti tetanggaku yang lumayan sukses perekonomiannya setelah merantau di Jakarta. Namun perbedaan latar pendidikan tentu membuat jarak yang berarti pada jenis pekerjaan yang aku dapatkan. Malang, hanya buruh harian saja yang bisa aku kerjakan sebagai mata pencaharianku di tanah betawi ini. Pun dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku dan keluargaku di Kebumen.
            Memasuki bulan ke-26 aku di tanah betawi, aku mendapatkan seorang kenalan yang menawariku pekerjaan sebagai TKI di Taiwan. Ajakan dari Tobing, sang penyalur tenaga kerja tersebut, sangatlah mempengaruhiku. Bagaikan menemukan sebuah oase di tengah panas gurun pasir perekonomian yang sedang aku lalui.Aku dapat mereguk pundi-pundi rupiah dari negeri seberang.
***
            Telah lama aku berfikir tentang tawaran Tobing. Sampai akhirnya aku membulatkan tekad untuk pulang ke kampungku, meminta izin dan restu pada keluarga tentang niatku mengadu nasib menjadi TKI.
            “Tapi duit 30 juta kue ora setitik lho, Mas.” kata istriku dengan logat jawanya. “Arep kangndi ulih duit akehe semeno Mas? Tabungan bae dewek ora ndue kan?”
            “Bener kue, Ahmad. Mending Kowe mikir maning bae niatmu kue. Ora kabeh wong sing dadi TKI sukses. Akeh mbireng wong sing gagal. Ana maning sing malah disiksa nang wong kana, ora digaji, malah-malah gelem dipateni..” ibuku menambah-nambahi perkataan istriku yang tak menyetujui jika aku merantau ke Taiwan.
            Benar juga apa yang mereka katakana. Tak sedikit para TKI yang menuai kegagalan. Tak sedikit pula dari mereka, yang ketika pulang ke tanah air, hanya tinggal menyisakan nama saja. Apalagi dengan keadaan ekonomi keluargaku yang bisa dibilang sangat minim sekali. Bahkan, untuk tempat tinggal pun, aku dan istriku masih menumpang di rumah ibuku, yang juga belum pantas disebut sebagai “rumah”. Tapi, jika aku terus saja bergelut dengan pekerjaanku yang sekarang, bagaimana aku bisa berhasil? Sementara orang-orang yang berhasil di luar sana adalah mereka yang berani mencoba.
***
            Malam hari, aku keluar mencari wartel. Aku berjalan menyusuri gelapnya jalan desaku sambil memandangi secarik kertas berisi 12 digit nomor handphone Tobing. Aku berharap dia bisa membantuku. Meminjamkan modal agar aku dapat pergi ke Taiwan, dan bekerja di sana. Toh dengan gaji 5 juta perbulanku, seperti apa yang Tobing katakan waktu ia menawariku menjadi TKI, aku bisa dengan beberapa bulan saja melunasi hutangku.
            “Oh, begitu rupanya? Tapi maaf kawan, sepertinya awak hanya bisa kasih pinjam Kau 15 juta saja. Sisanya, Kau carilah sendiri. Besok lusa, Kau datang ketempat awak di Purworejo sana. Kebetulan awak ada urusan di sana. Kau ambil itu uang, lalu, Kau cari sisanya dan Kau urus itu surat-surat yang Kau butuh.” Tobing memberiku penjelasan dengan bahasa indo-melayunya yang khas.
            Aku sedikit lega. Setidaknya, sudah ada setengah dari modal yang aku perlukan untuk dapat bekerja di perusahaan asing tersebut. Namun, tetap saja aku berpikir keras bagaimana cara mendapat sisa kekurangan modal yang masih terbilang cukup banyak itu. Lima belas juta.
            Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingat sepetak sawah milik ibuku yang ada di ujung kampung, dekat dengan jalan utama. Juga 2 buah cincin pernikahan beliau yang selalu melingkar di jari manis dan jari tengahnya. Bila tanah dan cincin itu aku pinjam, tentu saja dapat untuk menutup modal yang aku butuhkan, juga pasti masih sisa. Bisa untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang aku butuhkan.
            Aku pun mempercepat langkahku, agar lebih cepat sampai ke rumah dan mengutarakan apa yang ada pada pikiranku ini pada ibu.
            “Ahmad ulih nyelang kan, Bu? Mesti bakal tek balekna Bu, Ahmad janji. Tulungi anakmu kie ben sukses, Bu. Ahmad kesel karo kondisine dewek sing kaya kie terus. Percaya karo Ahmad..” aku terus saja merajuk, berharap permohonanku dikabulkan oleh ibu.
            “Iya nek kue berhasil, Mad. Pikir maning bae, masa nembe kerja bayaranmu langsung semeno gedene. Kowe kue ya hurung kenal banget karo Tobing kan?” ibu terus saja berusaha membuatku mengurungkan niat.
            “Percaya karo anakmu kie, Bu. Tobing kue bisa dipercaya, wong kae be nyelangi aku duit 15 juta, Bu. Mesti Tobing kae wong apik, Bu…” sanggahku.
            Aku terus saja meyakinkan ibu. Sangat-sangat berharap jika apa yang aku usahakan ini dapat berjalan lancar. Istriku hanya diam, dia tak banyak bicara ketika aku dan ibuku terus saja membicarakan hal ini. Istriku memang pendiam, dia kalem. Itu yang membuatku suka dan akhirnya melamarnya. Kekalemannya itu juga yang membuatku berani untuk meninggalkannya untuk keluar negeri. Pasti dia tak akan macam-macam di rumah, pikirku.
            Akhirnya ibuku meloloskan permintaanku. Ia relakan sepetak tanah yang selama ini digarapnya untuk menopang hidup serta cincin kenangannya bersama almarhum ayahku. Pinjaman tersebut terjual dengan jumlah 18 juta. Kuberikan sejuta untuk ibuku sebagai modal warung kecil-kecilan sebagai pengganti sumber penghidupannya di rumah.
***
            Berselang waktu satu bulan, setelah semua urusan administrasi selesai, akhirnya aku bisa berangkat juga ke Taiwan. Aku duduk dalam kabin di kursi dekat jendela, deret ke empat dari belakang, dengan perasaan penuh harap agar masalah perekonomian keluargaku dapat terselesaikan. Aku benar-benar ingin menikmati masa-masa awal penerbanganku menuju negeri orang ini. Aku pejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, membayangkan keadaan yang lebih baik bersama keluargaku, kelak.
            Sesampainya di Bandara Taiwan, entah apa namanya karena tulisannya menggunakan huruf yang asing bagiku, sudah ada delapan orang lain yang juga berasal dari Indonesia, yang juga bertujuan sama denganku. Mereka menunggu kedatangan kami bertiga, rombongan TKI terakhir yang ditunggu.
            Barang-barang bawaan telah selesai dikemas semua dalam mini bus yang disediakan oleh pihak perusahaan tempat kami akan bekerja. Kami pun berangkat menuju mes tempat kami bersebelas akan tinggal selama kami bekerja di Taiwan. Ada 12 orang lain dalam mini bus ini bersamaku. Sebelas orang dari Indonesia termasuk aku, seorang sopir mini bus, dan asistennya yang mungkin warga asli Taiwan. Suasana masih terasa sangat kaku karena kami belum saling mengenal, hanya sebatas nama panggilan dan hal-hal sepele yang lain.Baru setelah asisten mini bus mengeluarkan sebungkus rokok produksi Taiwan dan mempersilahkan kami untuk mencobanya, barulah suasana sedikit mencair. Gelak tawa mulai mewarnai isi mini bus yang katanya akan menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit.
***
            Sudah 6 bulan aku bekerja di perusahaan tekstil ini. Namun kenyataan yang aku dapatkan sangatlah bertolak belakang dengan apa yang aku bayangkan. Gaji yang aku dapatkan sangatlah minim. Alih-alih untuk mengirim uang ke keluarga di Indonesia, untuk mencukupi hidup sehari-hari disini pun, aku harus sangat ekstra dalam mengatur keuanganku. Ternyata Tobing menipuku. Dia tak mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku di perusahaan ini.
            “ Bah! Apa Kau tak ingat soal perjanjian yang sudah Kau tanda tangani itu, hah? Sudah jelas tertulis di situ, kalau gaji kotor Kau yang 7 juta perbulan itu bakal kena potong 2 juta tiap bulannya, selama masa kontrak Kau dengan perusahaan milik bos tekstil tu! Buat urusan gaji Kau sama perusahaan tu, itu bukan tanggung jawab awak lagi! Sudah paham Kau? Kau ancam awak mau dilapor polisi, terserah Kau itu. Tak mungkin itu bisa, Kau sudah tanda tangani tu surat pake materai!” masih terngiang dengan jelas apa yang Tobing katakan ditelepon saat aku menghubunginya untuk meminta kejelasan dan tanggung jawabnya atas nasibku ini. Namun sebagian besar yang aku dapat adalah nada bentakan dan makian darinya. Aku pun membaca salinan surat perjanjianku dengan Tobing yang aku bawa. Benar saja apa yang dikatakannya ditelepon. Akibat kekurangtelitianku, tentu aku tak bisa menggugatnya lewat jalur hukum.
            Gaji yang aku dapatkan secara bersih hanya berkisar 1 juta saja.Itu pun dalam kurs rupiah, sehingga aku harus cukup berhemat dalam pengeluaran harianku.Pernah aku dan teman-teman menanyakan tentang rincian pemotongan gaji kami, namun jawaban yang kami dapatkan hanya sebatas pemotongan biaya administrasi, pajak sebagai pekerja bukan warga asli, dan asuransi-asuransi lain yang jumlahnya kami kira tidak masuk akal. Pun penjelasan itu secara lisan dan menggunakan Bahasa Taiwan, sehingga tak secara keseluruhan penjelasan itu dapat ditangkap dengan baik. Pernah juga, pada bulan keempat, para karyawan dari Indonesia melakukan demo kenaikan gaji bersih. Bukannya keinginan kami terpenuhi, malah ancaman untuk dipotong gaji yang kami dapat. Praktis itu membuat nyali menciut. Sehingga bubarlah aksi demo tanpa hasil sama sekali.          
***
            Memasuki bulan kedelapan, aku dan enam teman lainnya sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan yang kami anggap sebagai kerja rodi ini. Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk melarikan diri dari perusahaan ini. Kami berpikir lebih baik mencari penghasilan diluar saja. Segala resiko bakal kami terima, baik itu menjadi buronan karena akan masuk pada daftar warga illegal, maupun menjadi gelandangan di luar sana. Toh sama saja nasibnya dengan bekerja di perusahaan tekstil ini. Sama-sama tak bisa memperoleh uang yang cukup. Paling tidak, jika kami diluar, kami akan merasa sedikit bebas tanpa omelan mandor-mandor yang menyebalkan.
            Akhir pekan, ketika ada waktu libur sehari bagi para karyawan, akhirnya aku dan 6 orang lainnya melarikan diri, menaiki bis kota tanpa tujuan yang jelas. Hingga ketika kami turun disalah satu sisi kota yang benar-benar sangat asing bagi kami, entah mengapa langsung ada polisi kota yang menghampiri dan menanyakan kartu identitas kami. Mungkin karena kami mempunyai wajah yang sangat berbeda. Kami tentu saja langsung gelagapan, tak bisa menunjukan identitas apapun karena semuanya menjadi arsip perusahaan tersebut selama kami masih dalam kontrak kerja. Melihat  kegugupan kami, polisi tersebut langsung saja memerintahkan kami untuk mengikutinya ke kantor. Mau tak mau, kami harus mengikutinya.
            Tapi ditengah jalan, saat perhatian polisi tersebut tertuju pada segerombolan anak sekolah yang akan menyeberang jalan, kami kembali melarikan diri, menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di halte tak jauh dari tempat kami. Sepanjang perjalanan yang tak tahu kemana arahnya, kami terus saja berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup mencari uang.
            Saat bus berhenti di halte dekat hutan, entah mengapa kami bertujuh memutuskan untuk turun. Dengan hanya berbekal makanan yang masih tersisa dalam tas masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke hutan, setelah salah satu dari kami mengatakan bahwa di dalam hutan tersebut sedang ada proyek pembangunan tower-tower jaringan listrik. Berharap dapat bekerja di tempat tersebut, kami masuk hutan.
            Nasib baik akhirnya menyertai kami. Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, kami akhirnya diterima bekerja. Kami menjalani kontrak selama delapan bulan dalam penyelesaian proyek ini. Setelah bekerja di proyek ini, aku mulai dapat membayar hutangku pada orang yang menipuku, karena hutangku dikenai bunga olehnya yang akan sangat memberatkanku jika semakin lama aku tidak membayarnya. Untung saja ibuku dapat mengertiakan kondisiku yang sedang mengenakan ini, seperti apa yang ditulisnya melalui surat. Aku hanya dapat berhubungan dengan keluargaku melalui surat. Itu pun sangat jarang sekali.Tapi aku optimis dapat melunasi semua hutangku.
            Selama bekerja di tempat pembangunan tower ini, kehidupanku juga tak sebaik ketika aku bekerja sebagai buruh di Jakarta. Resiko yang mendampingiku juga sangat besar.Apalagi sebagai warga ilegal. Akan sangat berbahaya bagiku jika sampai keluar dari hutan dan bertemu dengan polisi Taiwan, karena pasti akan langsung ditanyai identitas, dan bila tak bisa menunjukan identitas, tentu saja akan langsung ditangkap. Aku berpikir memang lebih baik bekerja di negara sendiri.
            Setelah kontrak selesai selama delapan bulan, dengan bantuan dari pemilik proyek, akhirnya kami dapat kembali ke tanah air, walaupun menggunakan perahu batu bara yang kebetulan akan berlayar ke Indonesia. Pun status kami tetap sebagai warga ilegal, dan kami harus bersembunyi ditumpukan batu bara jika ada petugas patroli laut yang memeriksa isi kapal. Sangat melelahkan melalui perjalanan yang teramat jauh menggunakan jalur laut.
***
            Masuk ke Indonesia, aku dapat menginjakan kakiku untuk pertama kalinya di tanah Kalimantan. Dengan sisa uang yang tidak seberapa, aku berpisah dengan enam orang lainnya, yang mempunyai tujuan masing-masing, untuk pulang ke rumah. Aku kembali menaiki kapal untuk menuju Pulau Jawa. Dalam perjalanan, aku dipusingkan oleh beban hutangku yang masih sangat banyak. Hutangku pada ibu pun belum aku bayar sepeser pun. Aku belum mampu membayarnya. Entah bagaimana aku akan membayarnya, jika aku pulang, lalu melanjutkan hidupku seperti sebelum aku pergi ke Taiwan, tentu saja akan sangat berat bagiku. Namun bayangan senyum istriku membuatku semangat untuk terus berjuang mencari nafkah, serta dapat sedikit mengobati kebingunganku.
            Berhari-hari terombang-ambing di atas Laut Jawa, akhirnya aku sampai juga di tanah Semarang. Kerinduanakan keluargaku, membuatku tak merasakan lelah yang sejatinya menuntutku untuk mengistirahatkan raga. Langsung saja aku menuju terminal, untuk mencari bus jurusan Kebumen, kabupaten tempat aku dilahirkan. Tak terasa, karena saking lelahnya, aku tertidur dalam perjalanan darat ini.
            Turun dari bus, dengan sisa uang di dompet yang hanya Rp 10.000,00, aku menumpang ojek. Jalanan yang tak kulihat sejak satu setengah tahun ini nampak berbeda. Pohon mahoni yang dulu berjajar rapi, kini berganti dengan pohon bintaro yang kelihatanya baru berumur beberapa bulan saja. Sawah-sawah mengering, menyisakan damen bekas dipanennya padi yang telah menguning. Hingga tampaklah rumahku, rumah ibuku, yang aku rindukan.
            Aku mengetuk pintu. Sepi. Suasana asing menyelimutiku. Dari luar jendela, aku melihat pijar lampu masih menyala. Sesuatu yang tak pernah terjadi, karena aku tahu ibu akan sangat menghemat penggunaan listrik, agar tak terlalu mahal tarifnya. Masih dari luar jendela, meja-meja nampak kotor, berdebu. Seakan telah lama tak ada orang yang membersihkannya. Padahal, istriku sangat rajin bersih-bersih rumah. Tampak juga gelas yang berisi teh, menjamur. Aku putar gagang  pintu yang ada di hadapanku. Terkunci. Kemana ibu? Kemana istriku?
            Aku mengelilingi rumah, berharap menemukan ibu atau istriku, sedang membersihkan halaman belakang. Atau sekedar bercengkerama berdua, menunggu kedatanganku. Tapi nihil. Lagi-lagi yang aku dapati hanya halaman yang penuh dengan daun-daun kuning yang gugur dari dahannya. Pertanyaan kemana mereka pergi kembali merasuk. Bahkan lebih dalam lagi. Membuat rasa bingung yang tadi melanda, menjadi rasa cemas, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi rasa takut yang terus menenggelamkanku.
            Samar-samar, aku mendengar ada suara orang memanggil namaku dari depan. Namun suara itu amatlah asing. Bukan suara istriku, pun bukan suara ibuku yang merdu. Dengan segera aku menuju depan rumah, melihat siapa gerangan yang datang.
            “Ahmad? Kowe Ahmad kan?” ternyata itu Pak Burhan,  tetanggaku yang sekarang telah menjadi ketua RT.
            “Iya, Pak, aku Ahmad. Tembe bae aku bali kie Pak. Kesel rasane. Ana apa ya?” tanyaku.
            “Kie Mad, kunci umahmu..”
            “Lho, ko nang Bapak? Oh iya, ibuku karo Lasmi mengendi ya Pak? Ngerti ra? Tek undang-undang koh ora semaur..”
            “Melbu umah disit bae yuh, ora penak ngomong nang njaba kaya kie..” ajak Pak RT, sambil berjalan di depanku, menuju pintu depan, lalu membukanya dengan kunci yang beliau bawa.
            Jujur saja, mendapati bahwa yang menyambut kepulanganku adalah Pak Burhan membuatku penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin kedatangan Pak Burhan dapat menjadi titik terang kemana perginya keluargaku. Liburankah? Tapi tak mungkin.
            “Kepriwe pak? Nggawe penasaran bae lho..” sergahku, setelah duduk di kursi lincak yang sebelumnya telah aku bersihkan sekedarnya.
            “Kaya kie lho Mad.. Ibumu kue……………….”
            Seakan semua ini mimpi, aku tak percaya akan penjelasan Pak Burhan. Istriku selingkuh dengan Pak Joko, Ketua RT sebelum Pak Burhan. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke Ciamis, kampung asal Pak Joko. Itu juga yang membuat Pak Burhan terpilih menjadi RT yang baru. Ibuku ditemukan meninggal sebulan setelahnya di dalam kamar, karena menanggung beban malu karena kelakuan menantunya, yang membuat kesehatan ibuku menurun, apalagi dengan menu makan yang seadanya.
Karena ibuku sudah 3 hari tidak terlihat keluar rumah dan lampu terus menyala, serta tak menjawab panggilan dari salah satu tetangga, pintu belakang didobrak, masuk mencari ibuku, dan menemukan ibuku telah kaku dalam kamar.
            Sebelum penjelasan Pak Burhan selesai, aku telah terlebih dahulu terhuyung ke depan, jatuh tersungkur dari kursi lincak tanpa sempat Pak Burhan menangkapku, pingsan. Entah mengapa, semuanya gelap. Terjadi begitu saja, tanpa pernah aku bayangkan.


Oleh: Tofah Rakhmat Pambudi / PBSI / G
Selengkapnya...

Pengantin Zaitun


Kisah ini aku awali saat sesuatu yang ku sebut itu mimpi hanya mampu memberi ku pengharapan tanpa sebuah kepastian, mungkin mimpi bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namaku Zaitun, aku adalah seorang gadis berumur belasan, berkulit putih, berambut ombak, bermata kebiru-biruan dan orang-orang kampung selalu mengelu-elukan aku bak kembang desa. Aku orang pribumi asli, lahir di daerah Bengkulu dan besar di tanah jawa. Mungkin yang membedakan aku dengan sikap polah gadis-gadis lain itu tidak ada. Bapakku adalah seorang komandan polisi kompeni Belanda dan aku hidup dimana orang-orang pribumi yang hampir kehilangan jati dirinya. Ibuku wanita bernama Mainah, penuh lemah lembut dan lihai dalam hal memasak.
            Aku mungkin hanya gadis biasa yang kurang intelektual, yang aku tau hanya soal memasak di dapur dan memacak diri. Sepertinya itu tak berpengaruh besar pada kehidupanku di usiaku yang sekarang ini. Orang-orang desa seakan telah menggariskan anak-anak perawan berumur belasan seperti aku agar cepat-cepat menikah. Aku merasa jengah dengan seruan orang-orang sekitar. Misalkan saja anak buah-anak buah bapak tetap saja bersikeras untuk mendekatiku, dan rekan sejawatnya yang pelaut itu pun tak lepas selalu mencuri pandangan padaku. Aku tak habis pikir mengapa lelaki begitu tak setia sekarang ini, sudah beristri masih pula main mata pada wanita lain. Tapi bukan itu yang aku ingin saat ini. Lalu sebenarnya apa yang aku pikirkan, untuk hidup pada zaman ini sudah untung banyak lelaki yang antri melamarku. Bukan sesempit itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin mencari, mendapatkan sesuatu yang lain, lebih dari ini.Lebih dari keharusan menikah di usia muda. Lebih dari keharusan untuk menikah, besok pagi.
            “Tun, sedang apa kamu.Sudah malam, pergilah tidur. Esok kan hari pernikahan mu.Tidak pantas kamu sekarang tidur malam-malam,” suara ibuku memecah denting lamunanku malam ini.
            “Iya  mak, aku akan segera tidur," jawabku.
            Aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, esok hari adalah hari pernikahan rancangan bapak dan mamak yang memasangkanku dengan seorang bujang anak buah bapak.Ia tak terlalu buruk, tapi aku tak berkeinginan menikah dengannya. Ia gemar memakan roti yang dilapisi dengan sesuatu yang padat namun lembek itu, ia menyebutnya mentega. Aku suka roti-roti yang selalu ia bawakan untukku dan pakaian-pakaian indah yang ia berikan. Tapi itu tak bisa membeli ku untuk menikah dengannya.Aku meniatkan sesuatu dalam hatiku.Hal yang dapat menghindarkanku dari semua ini. Ya, aku harus lari dari rumah esok hari.
            Saat ini tepat jam  3 pagi, aku telah siap dengan bekal dan sejumlah pakaian. Memang tak jauh dari rumah, tapi setidaknya aku bisa bersembunyi hingga beberapa waktu. Aku akan tinggal di rumah paman ku yang berjarak dua desa dari rumahku. Paman dan bibiku di sana memang tak dekat dengan keluarga bapak ibuku. Semenjak ada masalah tanah warisan, mereka tak dekat lagi atau lebih tepatnya menjaga jarak dengan bapak ibu. Tapi, mereka sangat baik kepadaku serta adik-adikku. Kalau sudah begini, aku teringat pada Mas Siman, kakak pertamaku dan satu-satunya yang selalu membimbing dan mengayomi ku. Namun kini mas ku itu sudah tak tahu lagi ada dimana, ia diberitakan telah hilang dalam penyergapan dan penyerangan oleh pasukan pribumi terhadap para kompeni di Irian.
Untung saat ini masih dini hari dan kuputuskan untuk bersembunyi di balik tumpukan padi gudang belakang sebelum pergi. Lebih baik aku pergi sekitar jam 6, saat itu andong Pak Kirman pasti baru saja singgah di bawah rumpun bambu.
            Hal yang aku khawatirkan terjadi, sekarang pukul 5 pagi dan mak telah kebingungan dan memanggil-manggil bapak untuk memberitahukan ketiadaanku. Bapak dan sodara-sodara yang lain sepertinya mencariku.
            “Tun, jaetuuuun...!! dimana kamu," suara orang-orang ramai memanggilku.
            Aku makin terpaku dengan keadaan ini, aku tak bisa seperti ini terus. Suara berat langkah yang ku kenal perlahan mendekat dan benar saja.
            “Jaetun! Sedang apa kamu di sini? Masuk ke kamar! Kamu ini bikin orang tua repot.”, bentak bapak sembari mendorong karung damen yang menutupiku tadi.
            Aku terpaksa mau memakai mbayak dan jarit ini. Polesan gincu dan lain-lain ini membuatku gatal. Tiba-tiba aku teringat seseorang, Darto, pelaut yang telah beristri itu.Ia datang dengan kumis tebalnya yang mencolok pandangan siapa saja yang memandangnya saat ini.Aku keluar dari kamar dan menemui anggota keluarga yang telah hadir. Mulutku sekan dipaksa tuk tersenyum. Tiba saatnya untuk melancarkan rencana ku, pikirku dalam hati. Aku akan meminta tolong Pak Darto untuk membantuku kabur dari pernikahan yang tidak aku inginkan ini.Aku tak akan secara langsung memintanya untuk membantuku, tapi dengan cara yang lain.
            “Bapak Darto, lihat bapak saya tidak?saya ingin meminta sesuatu padanya sebelum pergi ke balai desa untuk ijab," tanyaku dengan nada se biasa mungkin.
            “Itu bapakmu sedang bersama lelaki-lelaki dan tetangga-tetangga di depan, sudah sana temui.”, jawabnya ketus.
            Tak biasanya Bapak Darto bersikap ketus seperti itu. Pasti dia telah merasa gagal mendapat kesempatan untukp menjadikanku istri ketiganya. Aku hanya ingin memastikan kalao bapak memang sudah di depan karena aku akan pergi lewat kebun belakang. Setelah itu aku hanya ingin membuat Pak Darto berkata bahwa aku pergi ke arah depan, jika ada yang menanyakan ketidakberadaanku nanti.
            Aku kembali ke kamar, sebelum lima belas menit lagi bapak menjemputku untuk pergi  ke balai desa. Baju lusuh dan jarit cokelat milik ibuku aku kenakan sebagai ganti, sebelum keluar tak lupa aku bawa selendang cokelat milik ku.Untuk menutupi wajahku yang gampang dikenali ini, aku pakai olesan arang yang tadi pagi sempat ku ambil dari dapur. Keluarlah aku dari kamar, tanpa ada yang mengenaliku satu pun. Mungkin, mereka kira aku ini hanya rewang atau pembantu yang bertugas masak-masak.Sampai juga di bibir pintu belakang. Astaga di kebun belakang ada Uwa Maman yang sedang membenahi sepeda ontelnya.Bagaimana ini,rutukku dalam hati.
            Aku melintas melewatinya, dan ia menyapaku, “Cah, mau kemana.Sudah selesai masak-masaknya?wa lapar, ingin sarapan sebelum ke sawah.”
            Pasti disangkanya aku ini rewang yang biasa bantu-bantu di rumahku. Belum sempat aku jawab pertanyaannya, suara mamak yang lembut terdengar dari belakang. Aduh, mati sudah rencanaku, pikirku.
            “Wa  maman, akan berangkat ke sawah kapan?nanti kalau lewat kebon singkong tulung ambilkan singkong dua pohon ya," seru mamak lembut tapi jelas dan untungnya mak tidak mendekat ke sini. Nafasku yang sempat memburu kembali aku balikkan se biasa mungkin. Aku berjalan sambil terus menunduk menutupi muka ku dengan selendang ini.Ingin aku menangis jika memang bisa saat ini. Aku sebenarnya tak tega meninggalkan mak dan bapak dengan coreng hitam di wajah mereka. Namun, sepertinya mereka sudah memahami bagaimana watakku. Mungkin mereka akan memaafkanku esok-esok hari.
            Perlahan suara mak yang berbincang dengan Wa Maman meredup, yang terdengar kini hanya bunyi sandal jepit ku yang basah terkena genangan air di kebun tadi, seperti menimbulkan suara berdecit. Aku sudah di ujung gang sekarang, tepat menghadap rumpun bambu yang sudah bisa ditebak apa yang ku cari-cari. Ya, andong Pak Kirman sudah berada di sana dan aku harus cepat-cepat menghampiri sebelum mbok-mbok dan ibu-ibu mengambil kesempatan ku untuk menjadi penumpang pertama pagi ini. Cepat-cepat aku tawar menawar harga.
            “Desa Kawunganten, pak. Lima sen ya," tawarku.
            “Desa itu lumayan jauh cah, tambah dua sen mangkat," sergah Pak Kirman.
            “Baiklah, pak.”, tukas ku.
            Rumah ini masih sama dan akan tetap sama sepertinya, keasriannya, cat hijau dan cokelat kayu serta aroma mawar merah yang berkembang subur di halaman rumah.Aku telah sampai di rumah paman dan bibi. Paman Gatot namanya, baik sekali orangnya, waktu aku kecil paman sering memberi ku jajanan dan pakaian-pakaian. Beliau juga suka membantu keluarga kami, tentunya sebelum ada permasalahan warisan yang tidak mengenakkan itu. Sampai tahun kemarin pun aku masih berkesempatan main ke sini.
            Tiga kali aku mengetuk pintu dan ternyata Bibi Gatot yang membukakan pintu.
            “Oalah, bocah-bocah, bocah ayu.Ada hal apa pagi-pagi sekali kesini Tun?” tanya Bibi dengan tempo yang cepat dan lantang seeprti biasa.
            “Aku, ada sesuatu bi.Aku , mmm,"  aku bingung bagaimana akan menjelaskan kepada bibi ku ini.
            Bibi lalu mempersilahkan ku masuk dan aku pun tak henti-henti nya menangis sambil menceritakan semua yang terjadi padaku. Bibi tampaknya memahami, tapi juga kurang setuju dengan tindakan ku yang kabur dari rumah.Suara khas Paman Gatot membuat aku segera menyeka air mataku.
            “Siapa ini, putu paman rupanya.Lah kenapa seperti habis nangis Tun?” tanya Paman dengan nada khawatir.Aku  segera bangkit dari duduk untuk menjabat tangan paman.
            “Bukan apa-apa paman, bi aku pamit ke kamar dulu," pamitku ke kamar Dini anak satu-satunya paman dan bibi.Aku biasa tidur bersama Dini. Mungkin kepadanyalah aku bisa dengan leluasa menceritakan masalah ku ini.  Bukan hanya bibi yang terkejut mendengar ceritaku, tapi Dini pun terkejut sekaligus ikut merasakan keprihatinan yang ku alami. Jika bibi terkejut dan merasa marah karena tak diberitahu sama sekali oleh kedua orang tuaku akan pernikahanku, agaknya Dini merasa beruntung ia masih diperkenankan untuk sekolah dulu.
            Lima hari sudah aku meninggalkan rumah, paman sepertinya telah diberitahu akan kejadian yang aku alami. Siang itu paman dan bibi memanggilku, mereka ingin mengajakku berbicara.
            “Tun, paman hanya ingin menasihati. Kamu mbok ya jangan begitu.Kabur dari rumah itu kan bukan pilihan yang baik. Tidak kamu coba menjelaskan pada orang tuamu?” kata paman hati-hati.
            “Sudah paman, berhari-hari sebelum hari itu aku pun sudah menjelaskan kalau aku tak ingin dinikahkan dulu. Tapi mak dan bapak malah seperti itu.Katanya jika tak menikah di usia sekarang, kapan lagi akan mendapatkan jodoh," tuturku.
            “Sudah, pokoknya begini.Akan lebih baik kamu nanti sore paman dan bibi antarkan kembali ke rumah. Sudah lima hari kan kamu di sini, bapak dan mak mu pasti sedih mencari-cari kamu," jelas paman.
            “Tapi, bagaimana kalau mereka memaksakan aku untuk menikah lagi paman, Bi," tanyaku dengan ragu.
            “Sudah jangan dipikirkan itu, biar paman dan bibi yang menjelaskan kepada mak dan bapakmu kalau kamu belum kepengin menikah. Kamu ingin sekolah dulu?” tanya paman  tiba-tiba.
            Aku merenung sejenak, apakah benar kata paman kalau sebenarnya aku ingin sekolah dulu.Ahh sepertinya tidak muluk-muluk begitu. Yang aku inginkan hanya mencari sesuatu yang lebih, entah itu pengalaman di kota atau yang lain. Bukan menikah di usia muda.
            “Mm, iya paman," jawabku singkat.
            Sore harinya aku ditemani paman, bibi, dan Dini datang ke rumah ku. Benar saja, rumah sekarang terlihat sepi dan kosong. Sepertinya bapak sedang berada di pos jaga. Kalau suasananya sepi seperti sekarang ini aku jadi teringat beberapa waktu yang lalu. Saat suasana sepi tiba-tiba derap langkah prajurit-prajurit kompeni terdengar. Aku, adikku, dan mak ku di suruh bapak bersembunyi di bawah wangan atau lubang yang ada di bawah kasur. Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi di luar. Yang terdengar hanya suara deru campur debu, hasil dari peraduan senapan-senapan para prajurit. Setelah boleh keluar oleh bapak, aku melihat situasi di luar dan darah berceceran meninggalkan tilasnya hingga berjejak ke arah gunung. Kalau melihat situasi seperti itu ngeri rasanya, apalagi ternyata memakan korban warga pribumi yang tak bersalah, seorang dari sepasang bayi kembar tertembak mati tepat di kepalanya. Mungkin mereka sedang tertidur pulas, dan orang tuanya tak sempat mengamankan mereka.
            Kami masuk ke rumah dan mendapati rumah agak sedikit berantakan, aku melongok ke kamar mak.Ternyata mamak sedang tertidur pulas di sampingnya ada rewang.
            “Duh Gusti, Jaetun lah Jaetun dari mana saja kamu?" tanya rewangku.
            “Aku dari rumah paman, ada apa dengan mak?”
            “Mak mu kepeleset di kamar mandi kemarin, subuh-subuh.Mungkin mak mu terlalu memikirkan kamu.Kok ya kamu baru pulang hari ini?”
            “Maaf, aku Cuma belum siap," jawabku.
            Mak sepertinya terbangun mendengar percakapan kami.Kemudian dia menangis dan bangun meraih pundakku dan memelukku erat-erat, ”Ya Gusti putriku, Jaetun kenapa kamu," belum sempat selesai berkata-kata tangis ak sudah pecah.
            “Jaetun mohon maaf mak, tun hanya belum ingin menikah saat ini.Mak tetap ingin menikahkan jaetun, jadi aku lari dari rumah mak.Ampun," kata ku sambil terus menangis.
            Kemudian bibi dan paman bantu menjelaskan. Suara mobil terdengar, sepertinya bapak pulang.Kepalaku ini rasanya sudah tak karu-karuan apalagi hatiku. Aku tau bapak itu seorang yang tegas dan disiplin. Bapak mungkin akan menampar wajahku atau menghukumku.Ahh sudah aku pasrah saja.
            “Jaetun," panggil bapak.Bapak sepertinya sudah mendengar suarku tadi.
            “Ya Pak," aku menyahut dan mendekatinya.
            “Kamu tidak mau menikah?Kamu inginnya apa? Sekolah? Baiklah bapak akan mengirimmu ke rumah juragan Titin besok. Juragan Titin itu istri dari sahabat bapak. Kamu bapak hukum tinggal di sana untuk bantu-bantu.Kamu akan di sekolahkan di sana.Berangkatlah besok," kata papak dengan nada tinggi dan pergi ke dapur setelah selesai bicara.
            Aku tak bisa berucap apa-apa lagi. Perasaanku tidak karuan, antara senang, lega, kecewa, sedih, semua jadi satu. Senang karena bapak sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan ini, lega, kecewa dan sedih karena aku di hukum untuk bantu-bantu di rumah juragan Titin di kota. Setidaknya aku dapat terbebas dari semua ini.
            Esok pagi-pagi ayah mengantarku ke rumah juragan Titin. Aku di sekolahkan di sekolah rakyat.Tapi entah mengapa aku pun rasanya enggan bersekolah. Aku hanya ingin bekerja.
            Beberapa tahun berlalu dan aku telah mengenal seorang pemuda. Tingkah dan polahnya baik meski agak awur-awuran. Kami menikah dan hidup di kota. Dia adalah seorang sopir bus antarkota yang membuatku takut jika dia sedang marah.
            Apakah ini Tuhan, balasan dari Mu karena aku tak menuruti kata-kata kedua orang tuaku untuk menikah dengan pelaut itu.Meski banyak pahit, tapi kehidupan kembali berjalan dengan selaras. Aku hanya membiarkannya terjadi begitu saja. Atau mungkin ini sudah jalan-Mu.

Oleh: Sara Wulandari / PBSI / G


Selengkapnya...