Rabu, 07 November 2012

Tentang Sebuah Pengorbanan


Pagi yang dingin. Sedingin titik-titik air mengalir yang berhulu dari Gunung Merapi. Sedingin batu kali yang telah mengeras berpuluh-puluh tahun yang selalu setia diterpa beribu-ribu kubik air gunung. Burung-burung mulai bernyanyi dengan kicauannya yang merdu. Kupu-kupu pun tak mau kalah, segerombol kupu-kupu yang elok warna sayapnya menari-nari di udara dengan indahnya. Rerumputan sudah bahas oleh embun. Bahkan daun talas pun hampir merunduk karena tak kuasa menahan air. Beberapa bunga nampak malu-malu merekahkan mahkota warna-warninya. Pagi memang dingin. Tapi tak mengurangi keindahan air terjun ini. Suara gemercik air yang tiada henti seolah ingin mengatakan bahwa pesona alam yang terpampang dihadapanku ini tidak akan pernah pudar termakan waktu.
Aku duduk termenung di atas batu besar di pinggir air terjun. Sembari ku nikmati indahnya pemandangan di sekelilingku. Angin dingin bersemilir menerpaku. Menembus sampai ke tulang rusukku. Aku tak peduli. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada bongkahan batu kali di bawah air terjun. Batu itu nampak licin dan berlendir karena selalu tertimpa air yang entah sudah berapa ribu kubik apabila dihitung. Namun, batu itu hanya bisa diam meskipun ditimpa air yang dingin. Apabila aku yang menggantikan batu itu, mungkin aku takkan kuat menahan sakit dan dingin yang teramat sangat.
Melihat batu itu, entah kenapa kenangan masa laluku melintas di benakku. Kenangan masa lalu yang teramat sangat pahit. Kenangan yang telah mengajariku untuk menjadi orang yang tidak meninggikan ego. Peristiwa yang mungkin seperti sinetron. Aku tersenyum kecil. Kenangan delapan tahu lalu mungkin akan selamanya terpatri di hatiku. Aku takkan membiarkan kenangan itu merusak masa depanku bersamanya. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu.
***
Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Meskipun keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi tidak dapat terpenuhi setidaknya aku sekarang sudah bekerja. Aku sudah mampu menafkahi diriku sendiri dan memberi uang hasil usahaku kepada orang tuaku yang telah sekian lama merawatku. Aku juga merasa bahagia bersanding dengan seorang kekasih, Andi namanya. Sudah cukup lama aku menjalin hubungan dengannya.
Suatu hari Andi datang ke rumahku. Kami berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan dan rencana untuk berlibur bersama. Tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan kami. Aku terus mencari tahu dan ternyata itu adalah Dewi yang bediri di balik pintu yang hanya bersekat tirai. Aku datang menghampirinya.
“Dewi, kamu ngapain ada di sini?” aku sedikit curiga, apakah Dewi menguping pembicaraan kami. Tapi aku tetap berusaha berpikir positif.
“Eenngg, nggak ngapa-ngapain mbak.” Dewi kelihatan terkejut dan agak gugup sewaktu menjawab perntayaanku.
“Kalau kamu pengen ikut ngobrol sama mas Andi, kamu duduk di sana saja.” Aku menunjuk kursi di sebelah tempat dudukku tadi.
“Tidak mbak. Aku dari tadi di sini menunggu temanku yang katanya hari ini mau datang.”
“Temanmu jadi datang ke sini?”
“Tidak tahu mbak. Soalnya sampai sekarang belum ada kabar.”
“Yasudah. Nanti kalau misalnya kamu pengen ikut ngobrol sama mbak dan mas Andi langsung ke sana aja.”
“Iya mbak.” Dewi masih terlihat gugup.
Aku merasa ada yang aneh dengan sikap Dewi tadi. Dia tampak gugup dan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Lama-lama, aku merasa memang ada yang janggal dengan sikap Dewi. Sudah beberapa kali aku memergokinya bersembunyi di balik pintu sewaktu Andi datang ke rumah. Dewi juga terkadang bertanya-tanya tentang Andi. Aku dan adikku hanya terpaut satu tahun. Aku takut jika Dewi memiliki perasaan terhadap Andi. Tapi segera buang jauh prasangka buruk itu. Aku tidak mau berbuat jahat terhadap adikku sendiri.
Suatu hari Andi datang ke rumahku. Tanpa ku duga, selang beberapa saat dari kedatangan Andi, tiba-tiba Dewi muncul di hadapan kami. Entah ada maksud apa dia menghampiri kami.
“Mbak aku boleh ikut ngobrol?”
“Boleh.” Jawabku seadanya.
Aku dan Andi berbicara panjang lebar. Dewi menyimak dan kadang menyela pembicaraan kadang juga menanyakan sesuatu. Saat aku memerhatikan Dewi, terkadang ia curi-curi pandang kepada Andi. Aku cuek saja. Aku menganggap hal itu wajar karena Dewi memang belum pernah berbicara langsung dengan Andi.
Waktu terus berlalu. Entah kenapa hubunganku dengan Andi menjadi agak renggang. Sering kali kami bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. Aku bingung dengan semua ini. Sikapnya mulai agak berbeda. Dulu kami jarang bertengkar. Tapi sekarang aku merasa dia mudah tersulut emosi. Aku mencoba untuk menganggapnya wajar karena menjalin sebuah hubungan kadang merasa manis dan kadang harus merasakan pahitnya juga.
Tapi lama-lama aku merasa sikap Andi mulai agak berbeda terhadapku. Aku mulai khawatir dan curiga dengan perubahan sikapnya itu. Suatu saat ku beranikan diri untuk bertanya.
“Andi, aku merasa sikapmu mulai berubah. Ada apa denganmu?”
“Sikapku tidak ada yang berubah, masih seperti dulu. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Jawabnya datar.
“Apa kamu masih mencintaiku?”
“Tentulah. Sudah, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang berubah denganku.” Dia berkata dengan agak emosi. Mungkin aku juga salah karena telah menanyakan hal tersebut kepadanya. Harusnya aku percaya kepada dirinya. Sekarang aku sedikit lega.
Sikap Andi perlahan mulai berubah seperti semula. Aku senang sekali. Namun, perubahan malah ku lihat dari sikap Dewi. Sekarang Dewi cukup sering ikut menemui Andi saat dia berkunjung ke rumahku. Aku mulai risih dengan sikap Dewi yang seperti itu. Apalagi masih ku lihat Dewi mencuri pandang kepada Andi. Begitu pula dengan Andi, yang terkadang ku lihat dia juga mencuri pandang kepada Dewi. Ya Tuhan, ini hanya perasaanku saja ataukah memang ada sesuatu yang terjadi. Apakah ada yang tidak ku ketahui selama ini? Banyakkah? Terlalu poloskah diriku ini? Ya Tuhan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Rasa curigaku semakin tinggi. Aku mulai mencari tahu apa yang sebernarnya terjadi. Sampai pada suatu malam aku mengintip ke kamar Dewi, dan betapa terkejutnya diriku melihatnya tersenyum-senyum sambil menatap foto Andi. Dari mana dia mendapatkan foto Andi? Langsung saja aku masuk ke kamarnya.
“Dewi, dari mana kamu mendapatkan foto Andi?” kata-kata yang keluar dari mulutku mulai meninggi. Aku tidak tahu kenapa aku tak mampu menahan amarah ini.
“Mbak Yuni kalau mau masuk ketuk pintu dulu.” Jawab Dewi dengan gugup dan sedikit emosi.
“Jawab dulu perntanyaanku Dewi. Dari mana kamu mendapat foto itu?”
“Emm, emmm, mbak gak perlu tahu dari mana aku mendapatkan foto mas Andi.”
“Tapi untuk apa kamu memiliki foto Andi? Apa kamu juga suka kepada Andi? Hah? Jawab Dewi.” Mataku mulai berkaca-kaca. Amarahku sudah hampir mencapai puncaknya.
“Eennggg, eengg.” Dewi tak mampu berkata-kata.
“Jawab Dewi. Ayo jawab.” Aku mengguncang-guncangkan badannya karena amarahku memang sudah mencapai puncaknya.
Dewi hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Aku tak berkata-kata lagi. Aku langsung keluar dan menuju kamarku. Tak terasa air mata mengalir begitu saja dari sudut mataku. Hatiku remuk. Hancur. Tak terpikir olehku hal ini akan terjadi. Dewi memang cantik dan sering bergonta-ganti pacar. Tapi kenapa harus Andi? Kenapa? Ya Tuhan, bantulah hambamu ini dalam menghadapi hal yang sangat menyakitkan ini.
Aku berusaha tegar menghadapi semua ini. Aku berusaha bersikap biasa terhadap orang tuaku. Mereka tidak tahu tentang peristiwa tadi malam karena pada saat itu mereka sedang pergi. Aku tidak mau mereka mengetahui semua ini. Beberapa hari hanya ku habiskan dengan bekerja dan mengaji. Hanya ini yang dapat ku lakukan untuk menenangkan hatiku. Untuk sementara aku tidak menjalin komunikasi dengan Andi. Ketika dia bertanya kenapa, aku hanya menjawab aku sedang banyak pikiran. Dia tidak bertanya-tanya lagi. Mungkin dia memakluminya. Aku terus berpikir apa jalan keluar dari semua ini.
Jujur, aku sangat dibuat bingung dengan semua ini. Aku telah lama mengenal Andi dan bahkan telah menjalin hubungan dengannya. Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Tapi adikku juga menyimpan perasaan yang sama kepada Andi. Aku harus segera mengambil tindakan. Akhirnya, aku mengajak Andi ketemuan di taman.
“Andi, aku ingin mengatakan suatu hal yang sangat penting.”
“Hal penting apa?” Tanya Andi penuh selidik.
“Apa kamu mencintai adikku, Dewi?”
“Mak, maksud kamu apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Andi berkata terbata-bata, dia terlihat sangat gugup.
“Aku bertanya sekali lagi, apakah kamu mencintai Dewi? Entah selama ini aku kurang peka dan terlalu bodoh sehingga aku tidak mengetahui tentang hal itu ataukah aku memang sengaja menutup diriku untuk mengetahui hal itu, tapi aku merasa di antara kalian ada hubungan yang istimewa.”
“Kamu itu bicara apa? Aku benar-benar tidak paham apa yang kamu bicarakan.” Andi masih pura-pura tidak tahu.
“Sudahlah An, aku sudah mengetahui semua pertanda itu. Aku hanya butuh jawabanmu.”
“Baiklah.” Andi menghela napas. “Aku memang memiliki perasaan kepada Dewi. Tapi tidak sebesar perasaanku kepadamu. Aku tidak tahu mengapa perasaan ini bisa muncul. Aku sebagai manusia biasa tak kuasa untuk mencegahnya. Dulu, sewaktu kita sering bertengkar, saat itulah aku ada hal yang aneh. Seperti benih-benih cinta yang tumbuh dalam hatiku.”
Aku menunduk. Titik-titik air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Tak ku sangka sekali lagi prasangka yang selalu ku coba untuk membuangnya jauh-jauh ternyata adalah sebuah kebenaran. Tak ku sangka pria yang selama ini ku sanding, menyimpan perasaan kepada Dewi, adikku sendiri. Remuk hati ini. Sekarang aku harus bagaimana? Andi juga memiliki perasaan yang sama. Apakah aku harus menyerahkannya begitu saja kepada Dewi? Tapi aku yang lebih dulu mengenalnya dan bahkan menjalin hubungan dengannya. Aku harus bagaimana?  Aku mencoba menenangkan diri. Aku harus mengambil keputusan.
“Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini.” Aku masih menahan isak tangisku.
“Yun, kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja.”
“Tapi ini yang terbaik. Aku tidak mau ada dua cinta dalam hatimu. Lebih baik aku yang mengalah. Dewi juga mencintaimu An.”
“Tapi yun, aku juga masih mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu An. Tapi aku yakin inilah yang terbaik. Maafkan aku, Andi.”
Air mataku kembali mengalir. Semakin deras saja. Hatiku remuk. Bahkan berkeping-keping. Keputusan itu memang sungguh berat. Tapi itulah yang harus ku lakukan. Aku harus mengalah demi adikku. Aku tidak akan membiarkan diriku bahagia bersama Andi, sementara Dewi harus memendam kekecewaan yang teramat dalam karena tak bisa bersanding dengan Andi. Aku tak boleh meninggikan egoku.
Akhirnya, Andi dan Dewi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku memang belum terbiasa melihat mereka berdua bersanding, tapi aku yakin lambat laun aku akan terbiasa. Yang bisa ku lakukan hanyalah mengaji untuk mengobati sakit hati ini. Orang tuaku marah setelah mengetahui hubungan Dewi dan Andi, tapi aku mencoba menjelaskan kepada mereka dengan hati-hati. Mereka akhirnya mengerti dan merasa iba kepadaku. Bahkan, saat itu Andi terkadang masih memperlakukanku seperti kekasihnya. Aku melarangnya karena aku tidak ingin menyakiti hati Dewi.
Setelah satu tahun berpacaran, akhirnya Andi dan Dewi memutuskan untuk menikah. Aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini dan terus berusaha untuk melupakan kejadian satu tahun lalu. Aku turut bahagia dengan pernikahannya meskipun belum sepenuhnya aku menghapus kenangan itu. Tapi setidaknya aku telah berusaha.
***
Andai dulu aku seperti batu itu yang tetap tegar menghadapi cobaan yang menyakitkan. Tapi sekuat-kuatnya manusia pasti ada titik lemahnya. Begitu juga dengan batu itu, andai ia bisa berbicara, pasti tak akan mau seumur hidupnya hanya ditimpa air terus-menerus. Aku tersadar dari lamunanku setelah ada seseorang yang menepuk pundakku.
“Sayang, ayo pulang. Kamu bisa sakit jika berlama-lama di sini.”
Aku hanya melempar senyum manis kepadanya. Kini aku telah bersuami. Aku sangat mencintainya. Aku tak mau kenanganku yang pahit itu merusak masa depanku dengannya. Aku ingin membangun mahligai rumah tangga yang indah bersamanya. Sekarang aku telah memiliki seorang keponakan laki-laki yang aku sayangi, anak dari Andi dan Dewi.

Selengkapnya...

Tentang Sebuah Pengorbanan


Pagi yang dingin. Sedingin titik-titik air mengalir yang berhulu dari Gunung Merapi. Sedingin batu kali yang telah mengeras berpuluh-puluh tahun yang selalu setia diterpa beribu-ribu kubik air gunung. Burung-burung mulai bernyanyi dengan kicauannya yang merdu. Kupu-kupu pun tak mau kalah, segerombol kupu-kupu yang elok warna sayapnya menari-nari di udara dengan indahnya. Rerumputan sudah bahas oleh embun. Bahkan daun talas pun hampir merunduk karena tak kuasa menahan air. Beberapa bunga nampak malu-malu merekahkan mahkota warna-warninya. Pagi memang dingin. Tapi tak mengurangi keindahan air terjun ini. Suara gemercik air yang tiada henti seolah ingin mengatakan bahwa pesona alam yang terpampang dihadapanku ini tidak akan pernah pudar termakan waktu.
Aku duduk termenung di atas batu besar di pinggir air terjun. Sembari ku nikmati indahnya pemandangan di sekelilingku. Angin dingin bersemilir menerpaku. Menembus sampai ke tulang rusukku. Aku tak peduli. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada bongkahan batu kali di bawah air terjun. Batu itu nampak licin dan berlendir karena selalu tertimpa air yang entah sudah berapa ribu kubik apabila dihitung. Namun, batu itu hanya bisa diam meskipun ditimpa air yang dingin. Apabila aku yang menggantikan batu itu, mungkin aku takkan kuat menahan sakit dan dingin yang teramat sangat.
Melihat batu itu, entah kenapa kenangan masa laluku melintas di benakku. Kenangan masa lalu yang teramat sangat pahit. Kenangan yang telah mengajariku untuk menjadi orang yang tidak meninggikan ego. Peristiwa yang mungkin seperti sinetron. Aku tersenyum kecil. Kenangan delapan tahu lalu mungkin akan selamanya terpatri di hatiku. Aku takkan membiarkan kenangan itu merusak masa depanku bersamanya. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu.
***
Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Meskipun keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi tidak dapat terpenuhi setidaknya aku sekarang sudah bekerja. Aku sudah mampu menafkahi diriku sendiri dan memberi uang hasil usahaku kepada orang tuaku yang telah sekian lama merawatku. Aku juga merasa bahagia bersanding dengan seorang kekasih, Andi namanya. Sudah cukup lama aku menjalin hubungan dengannya.
Suatu hari Andi datang ke rumahku. Kami berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan dan rencana untuk berlibur bersama. Tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang sedari tadi memerhatikan kami. Aku terus mencari tahu dan ternyata itu adalah Dewi yang bediri di balik pintu yang hanya bersekat tirai. Aku datang menghampirinya.
“Dewi, kamu ngapain ada di sini?” aku sedikit curiga, apakah Dewi menguping pembicaraan kami. Tapi aku tetap berusaha berpikir positif.
“Eenngg, nggak ngapa-ngapain mbak.” Dewi kelihatan terkejut dan agak gugup sewaktu menjawab perntayaanku.
“Kalau kamu pengen ikut ngobrol sama mas Andi, kamu duduk di sana saja.” Aku menunjuk kursi di sebelah tempat dudukku tadi.
“Tidak mbak. Aku dari tadi di sini menunggu temanku yang katanya hari ini mau datang.”
“Temanmu jadi datang ke sini?”
“Tidak tahu mbak. Soalnya sampai sekarang belum ada kabar.”
“Yasudah. Nanti kalau misalnya kamu pengen ikut ngobrol sama mbak dan mas Andi langsung ke sana aja.”
“Iya mbak.” Dewi masih terlihat gugup.
Aku merasa ada yang aneh dengan sikap Dewi tadi. Dia tampak gugup dan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Lama-lama, aku merasa memang ada yang janggal dengan sikap Dewi. Sudah beberapa kali aku memergokinya bersembunyi di balik pintu sewaktu Andi datang ke rumah. Dewi juga terkadang bertanya-tanya tentang Andi. Aku dan adikku hanya terpaut satu tahun. Aku takut jika Dewi memiliki perasaan terhadap Andi. Tapi segera buang jauh prasangka buruk itu. Aku tidak mau berbuat jahat terhadap adikku sendiri.
Suatu hari Andi datang ke rumahku. Tanpa ku duga, selang beberapa saat dari kedatangan Andi, tiba-tiba Dewi muncul di hadapan kami. Entah ada maksud apa dia menghampiri kami.
“Mbak aku boleh ikut ngobrol?”
“Boleh.” Jawabku seadanya.
Aku dan Andi berbicara panjang lebar. Dewi menyimak dan kadang menyela pembicaraan kadang juga menanyakan sesuatu. Saat aku memerhatikan Dewi, terkadang ia curi-curi pandang kepada Andi. Aku cuek saja. Aku menganggap hal itu wajar karena Dewi memang belum pernah berbicara langsung dengan Andi.
Waktu terus berlalu. Entah kenapa hubunganku dengan Andi menjadi agak renggang. Sering kali kami bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. Aku bingung dengan semua ini. Sikapnya mulai agak berbeda. Dulu kami jarang bertengkar. Tapi sekarang aku merasa dia mudah tersulut emosi. Aku mencoba untuk menganggapnya wajar karena menjalin sebuah hubungan kadang merasa manis dan kadang harus merasakan pahitnya juga.
Tapi lama-lama aku merasa sikap Andi mulai agak berbeda terhadapku. Aku mulai khawatir dan curiga dengan perubahan sikapnya itu. Suatu saat ku beranikan diri untuk bertanya.
“Andi, aku merasa sikapmu mulai berubah. Ada apa denganmu?”
“Sikapku tidak ada yang berubah, masih seperti dulu. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Jawabnya datar.
“Apa kamu masih mencintaiku?”
“Tentulah. Sudah, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang berubah denganku.” Dia berkata dengan agak emosi. Mungkin aku juga salah karena telah menanyakan hal tersebut kepadanya. Harusnya aku percaya kepada dirinya. Sekarang aku sedikit lega.
Sikap Andi perlahan mulai berubah seperti semula. Aku senang sekali. Namun, perubahan malah ku lihat dari sikap Dewi. Sekarang Dewi cukup sering ikut menemui Andi saat dia berkunjung ke rumahku. Aku mulai risih dengan sikap Dewi yang seperti itu. Apalagi masih ku lihat Dewi mencuri pandang kepada Andi. Begitu pula dengan Andi, yang terkadang ku lihat dia juga mencuri pandang kepada Dewi. Ya Tuhan, ini hanya perasaanku saja ataukah memang ada sesuatu yang terjadi. Apakah ada yang tidak ku ketahui selama ini? Banyakkah? Terlalu poloskah diriku ini? Ya Tuhan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Rasa curigaku semakin tinggi. Aku mulai mencari tahu apa yang sebernarnya terjadi. Sampai pada suatu malam aku mengintip ke kamar Dewi, dan betapa terkejutnya diriku melihatnya tersenyum-senyum sambil menatap foto Andi. Dari mana dia mendapatkan foto Andi? Langsung saja aku masuk ke kamarnya.
“Dewi, dari mana kamu mendapatkan foto Andi?” kata-kata yang keluar dari mulutku mulai meninggi. Aku tidak tahu kenapa aku tak mampu menahan amarah ini.
“Mbak Yuni kalau mau masuk ketuk pintu dulu.” Jawab Dewi dengan gugup dan sedikit emosi.
“Jawab dulu perntanyaanku Dewi. Dari mana kamu mendapat foto itu?”
“Emm, emmm, mbak gak perlu tahu dari mana aku mendapatkan foto mas Andi.”
“Tapi untuk apa kamu memiliki foto Andi? Apa kamu juga suka kepada Andi? Hah? Jawab Dewi.” Mataku mulai berkaca-kaca. Amarahku sudah hampir mencapai puncaknya.
“Eennggg, eengg.” Dewi tak mampu berkata-kata.
“Jawab Dewi. Ayo jawab.” Aku mengguncang-guncangkan badannya karena amarahku memang sudah mencapai puncaknya.
Dewi hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Aku tak berkata-kata lagi. Aku langsung keluar dan menuju kamarku. Tak terasa air mata mengalir begitu saja dari sudut mataku. Hatiku remuk. Hancur. Tak terpikir olehku hal ini akan terjadi. Dewi memang cantik dan sering bergonta-ganti pacar. Tapi kenapa harus Andi? Kenapa? Ya Tuhan, bantulah hambamu ini dalam menghadapi hal yang sangat menyakitkan ini.
Aku berusaha tegar menghadapi semua ini. Aku berusaha bersikap biasa terhadap orang tuaku. Mereka tidak tahu tentang peristiwa tadi malam karena pada saat itu mereka sedang pergi. Aku tidak mau mereka mengetahui semua ini. Beberapa hari hanya ku habiskan dengan bekerja dan mengaji. Hanya ini yang dapat ku lakukan untuk menenangkan hatiku. Untuk sementara aku tidak menjalin komunikasi dengan Andi. Ketika dia bertanya kenapa, aku hanya menjawab aku sedang banyak pikiran. Dia tidak bertanya-tanya lagi. Mungkin dia memakluminya. Aku terus berpikir apa jalan keluar dari semua ini.
Jujur, aku sangat dibuat bingung dengan semua ini. Aku telah lama mengenal Andi dan bahkan telah menjalin hubungan dengannya. Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Tapi adikku juga menyimpan perasaan yang sama kepada Andi. Aku harus segera mengambil tindakan. Akhirnya, aku mengajak Andi ketemuan di taman.
“Andi, aku ingin mengatakan suatu hal yang sangat penting.”
“Hal penting apa?” Tanya Andi penuh selidik.
“Apa kamu mencintai adikku, Dewi?”
“Mak, maksud kamu apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Andi berkata terbata-bata, dia terlihat sangat gugup.
“Aku bertanya sekali lagi, apakah kamu mencintai Dewi? Entah selama ini aku kurang peka dan terlalu bodoh sehingga aku tidak mengetahui tentang hal itu ataukah aku memang sengaja menutup diriku untuk mengetahui hal itu, tapi aku merasa di antara kalian ada hubungan yang istimewa.”
“Kamu itu bicara apa? Aku benar-benar tidak paham apa yang kamu bicarakan.” Andi masih pura-pura tidak tahu.
“Sudahlah An, aku sudah mengetahui semua pertanda itu. Aku hanya butuh jawabanmu.”
“Baiklah.” Andi menghela napas. “Aku memang memiliki perasaan kepada Dewi. Tapi tidak sebesar perasaanku kepadamu. Aku tidak tahu mengapa perasaan ini bisa muncul. Aku sebagai manusia biasa tak kuasa untuk mencegahnya. Dulu, sewaktu kita sering bertengkar, saat itulah aku ada hal yang aneh. Seperti benih-benih cinta yang tumbuh dalam hatiku.”
Aku menunduk. Titik-titik air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Tak ku sangka sekali lagi prasangka yang selalu ku coba untuk membuangnya jauh-jauh ternyata adalah sebuah kebenaran. Tak ku sangka pria yang selama ini ku sanding, menyimpan perasaan kepada Dewi, adikku sendiri. Remuk hati ini. Sekarang aku harus bagaimana? Andi juga memiliki perasaan yang sama. Apakah aku harus menyerahkannya begitu saja kepada Dewi? Tapi aku yang lebih dulu mengenalnya dan bahkan menjalin hubungan dengannya. Aku harus bagaimana?  Aku mencoba menenangkan diri. Aku harus mengambil keputusan.
“Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini.” Aku masih menahan isak tangisku.
“Yun, kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja.”
“Tapi ini yang terbaik. Aku tidak mau ada dua cinta dalam hatimu. Lebih baik aku yang mengalah. Dewi juga mencintaimu An.”
“Tapi yun, aku juga masih mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu An. Tapi aku yakin inilah yang terbaik. Maafkan aku, Andi.”
Air mataku kembali mengalir. Semakin deras saja. Hatiku remuk. Bahkan berkeping-keping. Keputusan itu memang sungguh berat. Tapi itulah yang harus ku lakukan. Aku harus mengalah demi adikku. Aku tidak akan membiarkan diriku bahagia bersama Andi, sementara Dewi harus memendam kekecewaan yang teramat dalam karena tak bisa bersanding dengan Andi. Aku tak boleh meninggikan egoku.
Akhirnya, Andi dan Dewi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku memang belum terbiasa melihat mereka berdua bersanding, tapi aku yakin lambat laun aku akan terbiasa. Yang bisa ku lakukan hanyalah mengaji untuk mengobati sakit hati ini. Orang tuaku marah setelah mengetahui hubungan Dewi dan Andi, tapi aku mencoba menjelaskan kepada mereka dengan hati-hati. Mereka akhirnya mengerti dan merasa iba kepadaku. Bahkan, saat itu Andi terkadang masih memperlakukanku seperti kekasihnya. Aku melarangnya karena aku tidak ingin menyakiti hati Dewi.
Setelah satu tahun berpacaran, akhirnya Andi dan Dewi memutuskan untuk menikah. Aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini dan terus berusaha untuk melupakan kejadian satu tahun lalu. Aku turut bahagia dengan pernikahannya meskipun belum sepenuhnya aku menghapus kenangan itu. Tapi setidaknya aku telah berusaha.
***
Andai dulu aku seperti batu itu yang tetap tegar menghadapi cobaan yang menyakitkan. Tapi sekuat-kuatnya manusia pasti ada titik lemahnya. Begitu juga dengan batu itu, andai ia bisa berbicara, pasti tak akan mau seumur hidupnya hanya ditimpa air terus-menerus. Aku tersadar dari lamunanku setelah ada seseorang yang menepuk pundakku.
“Sayang, ayo pulang. Kamu bisa sakit jika berlama-lama di sini.”
Aku hanya melempar senyum manis kepadanya. Kini aku telah bersuami. Aku sangat mencintainya. Aku tak mau kenanganku yang pahit itu merusak masa depanku dengannya. Aku ingin membangun mahligai rumah tangga yang indah bersamanya. Sekarang aku telah memiliki seorang keponakan laki-laki yang aku sayangi, anak dari Andi dan Dewi.

Selengkapnya...

Selasa, 23 Oktober 2012

Kasih Bunga Edelweis

-->
Di sebuah desa terpencil daerah Jawa Timur, hidup seorang Kyai pemimpin pondok pesantren bernama Pak Tegar. Pak Tegar tinggal bersama istri dan seorang putranya. Putra Pak Tegar bernama Sarwan. Sarwan adalah seorang anak yang cerdas, lincah, dan tangkas. Pak Tegar sangat bangga pada putranya itu. Pak Tegar menginginkan putranya menjadi orang yang dapat melindungi diri serta keluarganya. Sehingga sejak dini Pak Tegar menyuruh Sarwan berguru ilmu putih dengan salah seorang temannya.
Namun tak disangka jika ilmu yang Sarwan dapat justru membuatnya mengalami sedikit gangguan jiwa. Penyebab utama dari gangguan tersebut karena Sarwan belajar ilmu putih terlalu dini, sehingga psikisnya terganggu. Secara fisik Sarwan memang terlihat normal, namun terkadang kondisi jiwa yang tak menentu tersebut membuatnya kehilangan kontrol. Meski begitu, Sarwan tetap bisa berkomunikasi dengan baik.
Karena kondisi jiwanya yang sedikit terganggu. Sarwan tidak dapat menamatkan sekolahnya, ia hanya bisa membantu ayahnya mengurus pondok pesantren. Pak Tegar tidak membiarkan Sarwan sendiri yang mengelola pesantren, ia memberi tugas kepada salah seorang santri putri untuk membantu Sarwan mengelola pesantren. Santri itu bernama Saroh, seorang gadis cantik, muslimah, lugu yang  cerdas dan baik hati.
Pak Tegar mengenal betul sosok santri kesayangannya itu, sehingga ia pun memberikan kepercayaan kepada Saroh untuk mengelola pesantren dengan Sarwan. Seiring berjalannya waktu, karena kebersamaan yang selalu mereka lewati, Sarwan mulai jatuh hati kepada Saroh. Ingin rasanya Sarwan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Namun Sarwan ragu, ia takut Saroh menolaknya karena mengetahui Sarwan yang mempunyai kekurangan secara psikis itu. Hingga pada suatu hari, ketika Sarwan sedang berada di ruang kerja, ia menemukan buku diary berwarna biru, dan sepertinya itu milik Saroh.
Jantung Sarwan berdetak kencang, dia ingin membaca buku itu, namun dia ragu untuk membacanya. Akhirnya setelah melihat keadaan sekitar yang saat itu sedang sepi, Sarwan memberanikan diri untuk membuka dan membaca halaman demi halaman. Setelah membaca buku itu, Sarwan merasa terkejut, bahagia, dan bingung. Bagaimana bisa seorang gadis yang sempurna seperti Saroh ternyata memendam rasa cinta kepada seorang lelaki pengangguran yang hanya mengandalkan pesantren ayahnya serta mempunyai gangguan jiwa seperti dirinya. Namun setelah membaca buku itu, ia menjadi yakin untuk melamar Saroh, dan menjadikannya istri.
Tiga bulan setelah peristiwa penemuan buku diary itu, Sarwan akhirnya menikah dengan Saroh. Betapa bahagianya Sarwan mendapatkan cintanya yang selama ini ia nantikan, Saroh. Seorang wanita yang begitu mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya.
Setelah menikah mereka tinggal di rumah orang tua Sarwan karena Sarwan yang masih harus mengelola pesantren. Kehidupan diawal pernikahan mereka masih baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan mereka semakin banyak, sedangkan Sarwan belum mempunyai pekerjaan tetap, akhirnya kondisi ekonomi keluarganya mulai kacau.
Untung saja ayah Sarwan, Pak Tegar mau membantu mereka yang sedang dalam kesusahan. Ia memberi modal kepada Sarwan untuk berjualan ikan di pasar. Namun kondisi psikis Sarwan yang tiba-tiba sering kambuh, membuatnya sulit mengelola penjualannya. Akhirnya ia bangkrut, dan berhenti berjualan.
Karena orang tua Sarwan yang pendapatannya hanya cukup untuk megelola pesantren, sehingga tidak dapat membantu Sarwan memberi modal lagi, dan juga kondisi psikis Sarwan yang kian hari sering kambuh. Akhirnya Saroh pun harus turut mencari nafkah, ia menjadi seorang buruh cuci di desanya. Sedikit demi sedikit kebutuhan keluarganya kembali terpenuhi.
Setelah setahun usia pernikahan mereka, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Hingga akhirnya 2 tahun kemudian anak pertama mereka lahir seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Syeri. Kelahiran Syeri memberikan berkah bagi hidup mereka. Semenjak kelahiran Syeri, kondisi psikis Sarwan mulai membaik. Saroh pun menjadi tidak khawatir jika Sarwan yang menjaga Syeri ketika ia harus bekerja.
Hingga suatu hari ...
Oeeek oeekk…” terdengar suara tangis Syeri. Saroh pun bergegas menuju kamar, dilihatnya Syeri tergeletak di lantai.
“Astagfirullah, kamu apakan anak kita Mas?” tanya Saroh setengah menangis, sambil mengendong Syeri.
“Pergi kamu ! pergiii ….!!!!” teriak Sarwan.
Saroh terkejut melihat penyakit Sarwan yang tiba-tiba kambuh lagi. Saroh pun tak tahu apa yang membuat penyakit Sarwan tiba-tiba kambuh. Kemudian Saroh menjauhkan Syeri dari Sarwan dan membawanya ke ruang depan. Sarwan dibiarkannya terkunci di dalam kamar. Meski tak tega, namun memang hanya ini yang bisa dilakukan Saroh saat suaminya sedang mengamuk. Semenjak itu, Syeri selalu dititipkan kepada mertuanya jika Saroh pergi bekerja.
Dua tahun kemudian, lahir anak kedua Sarwan dan Saroh seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Jiwo. Saat kelahiran Jiwo, kondisi psikis Sarwan sedang memuncak, hingga ia tak dapat mendampingi istrinya melahirkan bayi laki-lakinya. Meski begitu, Saroh tetap berusaha kuat melahirkan bayi mereka.
Namun kelahiran Jiwo justru menambah beban hidup bagi mereka, terutama Saroh. Jiwo terlahir dengan cacat mental. Sehingga menuntut Saroh untuk selalu berada di samping Jiwo. Meski kondisi Jiwo cacat mental, Saroh sangat mencintai putra keduanya tersebut. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, Saroh merawat Jiwo, Syeri, dan Sarwan.
Betapa besar cintanya terhadap keluarganya sehingga Saroh tak berhenti  bekerja siang dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sesekali jika kondisinya sedang baik, Sarwan juga turut bekerja mencari nafkah. Begitu kehidupan keluarga Sarwan dan Saroh, kebahagiaan seolah hanya menyapa saja kemudian pergi. Walau begitu, tak menyurutkan semangat Saroh untuk bertahan menjalani hidup yang penuh cobaan. Meski hidupnya berbeda dengan orang-orang biasa, namun tak henti ia bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Hingga pada suatu hari, seusai bekerja Saroh ingin beristirahat di kamar, dan saat membuka pintu kamar. Mendadak jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar, lidahnya kelu, bibirnya beku. Seakan beribu pisau menusuk hatinya. Saroh melihat Sarwan menggantung diri dikamar. Ia pun berteriak  “aaaaaaaaaaaaaaaa ……” sekujur tubuhnya mendadak lemas dan akhirnya ia pun pingsan.
Mendengar teriakan Saroh dari kamar, orang tua Sarwan mendatanginya. Mereka sangat shock melihat apa yang terjadi. Mereka pun bergegas membawa keduanya ke rumah sakit.
Cobaan memang datang bertubi-tubi menghampiri keluarga Saroh. Saroh tak menyangka suaminya akan meninggalkannya dengan kondisi seperti ini. Menggantung diri mengenaskan di kamar mereka. Saroh kecewa dengan suaminya yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya hingga merenggut nyawanya sendiri.
Kepergian Sarwan membuat Saroh merasa sangat kehilangan. Bertahun-tahun ia mencoba bertahan bersama Sarwan, membuktikan rasa cintanya yang besar terhadap suami dan anak-anaknya. Namun Sarwan meninggalkannya bersama anak-anaknya begitu saja.
Setelah sebulan semenjak kepergian Sarwan,  Saroh memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya dan kembali kerumah orang tuanya. Ia tidak ingin melihat kamar yang dijadikan tempat suaminya bunuh diri.
Beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Sarwan, telah berulang kali Saroh dilamar oleh laki-laki lain, namun ia tidak menerimanya karena yang ia cintai hanyalah Sarwan, suaminya yang pergi meninggalkannya, yang telah banyak ia berkorban untuknya, yang selama ini telah diperjuangkan olehnya, memang hanya Sarwan yang akan selalu hidup di hati Saroh, meski raganya tidak bersama Saroh, namun hatinya akan tetap selalu bersama Saroh sampai kapanpun. Kasih Saroh abadi untuk Sarwan.
***
 Meidisya Lutfi Isnaini
Selengkapnya...