Pagi
yang dingin. Sedingin titik-titik air mengalir yang berhulu dari Gunung Merapi.
Sedingin batu kali yang telah mengeras berpuluh-puluh tahun yang selalu setia
diterpa beribu-ribu kubik air gunung. Burung-burung mulai bernyanyi dengan
kicauannya yang merdu. Kupu-kupu pun tak mau kalah, segerombol kupu-kupu yang
elok warna sayapnya menari-nari di udara dengan indahnya. Rerumputan sudah
bahas oleh embun. Bahkan daun talas pun hampir merunduk karena tak kuasa
menahan air. Beberapa bunga nampak malu-malu merekahkan mahkota warna-warninya.
Pagi memang dingin. Tapi tak mengurangi keindahan air terjun ini. Suara
gemercik air yang tiada henti seolah ingin mengatakan bahwa pesona alam yang
terpampang dihadapanku ini tidak akan pernah pudar termakan waktu.
Aku
duduk termenung di atas batu besar di pinggir air terjun. Sembari ku nikmati
indahnya pemandangan di sekelilingku. Angin dingin bersemilir menerpaku.
Menembus sampai ke tulang rusukku. Aku tak peduli. Tiba-tiba pandanganku
terhenti pada bongkahan batu kali di bawah air terjun. Batu itu nampak licin
dan berlendir karena selalu tertimpa air yang entah sudah berapa ribu kubik
apabila dihitung. Namun, batu itu hanya bisa diam meskipun ditimpa air yang
dingin. Apabila aku yang menggantikan batu itu, mungkin aku takkan kuat menahan
sakit dan dingin yang teramat sangat.
Melihat
batu itu, entah kenapa kenangan masa laluku melintas di benakku. Kenangan masa
lalu yang teramat sangat pahit. Kenangan yang telah mengajariku untuk menjadi
orang yang tidak meninggikan ego. Peristiwa yang mungkin seperti sinetron. Aku
tersenyum kecil. Kenangan delapan tahu lalu mungkin akan selamanya terpatri di
hatiku. Aku takkan membiarkan kenangan itu merusak masa depanku bersamanya. Masa
lalu biarlah menjadi masa lalu.
***
Aku
bahagia dengan kehidupanku sekarang. Meskipun keinginanku untuk melanjutkan
sekolah ke perguruan tinggi tidak dapat terpenuhi setidaknya aku sekarang sudah
bekerja. Aku sudah mampu menafkahi diriku sendiri dan memberi uang hasil
usahaku kepada orang tuaku yang telah sekian lama merawatku. Aku juga merasa
bahagia bersanding dengan seorang kekasih, Andi namanya. Sudah cukup lama aku
menjalin hubungan dengannya.
Suatu
hari Andi datang ke rumahku. Kami berbicara panjang lebar mengenai pekerjaan
dan rencana untuk berlibur bersama. Tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang
sedari tadi memerhatikan kami. Aku terus mencari tahu dan ternyata itu adalah
Dewi yang bediri di balik pintu yang hanya bersekat tirai. Aku datang
menghampirinya.
“Dewi, kamu ngapain ada
di sini?” aku sedikit curiga, apakah Dewi menguping pembicaraan kami. Tapi aku
tetap berusaha berpikir positif.
“Eenngg, nggak ngapa-ngapain mbak.” Dewi
kelihatan terkejut dan agak gugup sewaktu menjawab perntayaanku.
“Kalau kamu pengen ikut
ngobrol sama mas Andi, kamu duduk di sana saja.” Aku menunjuk kursi di sebelah
tempat dudukku tadi.
“Tidak mbak. Aku dari
tadi di sini menunggu temanku yang katanya hari ini mau datang.”
“Temanmu jadi datang ke
sini?”
“Tidak tahu mbak.
Soalnya sampai sekarang belum ada kabar.”
“Yasudah. Nanti kalau
misalnya kamu pengen ikut ngobrol sama mbak dan mas Andi langsung ke sana aja.”
“Iya mbak.” Dewi masih
terlihat gugup.
Aku
merasa ada yang aneh dengan sikap Dewi tadi. Dia tampak gugup dan seperti
menyembunyikan sesuatu dariku. Lama-lama, aku merasa memang ada yang janggal
dengan sikap Dewi. Sudah beberapa kali aku memergokinya bersembunyi di balik pintu
sewaktu Andi datang ke rumah. Dewi juga terkadang bertanya-tanya tentang Andi.
Aku dan adikku hanya terpaut satu tahun. Aku takut jika Dewi memiliki perasaan
terhadap Andi. Tapi segera buang jauh prasangka buruk itu. Aku tidak mau
berbuat jahat terhadap adikku sendiri.
Suatu
hari Andi datang ke rumahku. Tanpa ku duga, selang beberapa saat dari
kedatangan Andi, tiba-tiba Dewi muncul di hadapan kami. Entah ada maksud apa
dia menghampiri kami.
“Mbak aku boleh ikut
ngobrol?”
“Boleh.” Jawabku
seadanya.
Aku
dan Andi berbicara panjang lebar. Dewi menyimak dan kadang menyela pembicaraan
kadang juga menanyakan sesuatu. Saat aku memerhatikan Dewi, terkadang ia
curi-curi pandang kepada Andi. Aku cuek saja. Aku menganggap hal itu wajar
karena Dewi memang belum pernah berbicara langsung dengan Andi.
Waktu
terus berlalu. Entah kenapa hubunganku dengan Andi menjadi agak renggang.
Sering kali kami bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. Aku bingung dengan
semua ini. Sikapnya mulai agak berbeda. Dulu kami jarang bertengkar. Tapi
sekarang aku merasa dia mudah tersulut emosi. Aku mencoba untuk menganggapnya
wajar karena menjalin sebuah hubungan kadang merasa manis dan kadang harus
merasakan pahitnya juga.
Tapi
lama-lama aku merasa sikap Andi mulai agak berbeda terhadapku. Aku mulai
khawatir dan curiga dengan perubahan sikapnya itu. Suatu saat ku beranikan diri
untuk bertanya.
“Andi, aku merasa
sikapmu mulai berubah. Ada apa denganmu?”
“Sikapku tidak ada yang
berubah, masih seperti dulu. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Jawabnya
datar.
“Apa kamu masih
mencintaiku?”
“Tentulah. Sudah, kamu
jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang
berubah denganku.” Dia berkata dengan agak emosi. Mungkin aku juga salah karena
telah menanyakan hal tersebut kepadanya. Harusnya aku percaya kepada dirinya.
Sekarang aku sedikit lega.
Sikap
Andi perlahan mulai berubah seperti semula. Aku senang sekali. Namun, perubahan
malah ku lihat dari sikap Dewi. Sekarang Dewi cukup sering ikut menemui Andi
saat dia berkunjung ke rumahku. Aku mulai risih dengan sikap Dewi yang seperti
itu. Apalagi masih ku lihat Dewi mencuri pandang kepada Andi. Begitu pula
dengan Andi, yang terkadang ku lihat dia juga mencuri pandang kepada Dewi. Ya
Tuhan, ini hanya perasaanku saja ataukah memang ada sesuatu yang terjadi.
Apakah ada yang tidak ku ketahui selama ini? Banyakkah? Terlalu poloskah diriku
ini? Ya Tuhan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Rasa
curigaku semakin tinggi. Aku mulai mencari tahu apa yang sebernarnya terjadi.
Sampai pada suatu malam aku mengintip ke kamar Dewi, dan betapa terkejutnya
diriku melihatnya tersenyum-senyum sambil menatap foto Andi. Dari mana dia
mendapatkan foto Andi? Langsung saja aku masuk ke kamarnya.
“Dewi, dari mana kamu
mendapatkan foto Andi?” kata-kata yang keluar dari mulutku mulai meninggi. Aku
tidak tahu kenapa aku tak mampu menahan amarah ini.
“Mbak Yuni kalau mau
masuk ketuk pintu dulu.” Jawab Dewi dengan gugup dan sedikit emosi.
“Jawab dulu perntanyaanku
Dewi. Dari mana kamu mendapat foto itu?”
“Emm, emmm, mbak gak
perlu tahu dari mana aku mendapatkan foto mas Andi.”
“Tapi untuk apa kamu
memiliki foto Andi? Apa kamu juga suka kepada Andi? Hah? Jawab Dewi.” Mataku
mulai berkaca-kaca. Amarahku sudah hampir mencapai puncaknya.
“Eennggg, eengg.” Dewi
tak mampu berkata-kata.
“Jawab Dewi. Ayo
jawab.” Aku mengguncang-guncangkan badannya karena amarahku memang sudah
mencapai puncaknya.
Dewi hanya diam dan
menundukkan kepalanya.
Aku
tak berkata-kata lagi. Aku langsung keluar dan menuju kamarku. Tak terasa air
mata mengalir begitu saja dari sudut mataku. Hatiku remuk. Hancur. Tak terpikir
olehku hal ini akan terjadi. Dewi memang cantik dan sering bergonta-ganti
pacar. Tapi kenapa harus Andi? Kenapa? Ya Tuhan, bantulah hambamu ini dalam
menghadapi hal yang sangat menyakitkan ini.
Aku
berusaha tegar menghadapi semua ini. Aku berusaha bersikap biasa terhadap orang
tuaku. Mereka tidak tahu tentang peristiwa tadi malam karena pada saat itu
mereka sedang pergi. Aku tidak mau mereka mengetahui semua ini. Beberapa hari
hanya ku habiskan dengan bekerja dan mengaji. Hanya ini yang dapat ku lakukan
untuk menenangkan hatiku. Untuk sementara aku tidak menjalin komunikasi dengan
Andi. Ketika dia bertanya kenapa, aku hanya menjawab aku sedang banyak pikiran.
Dia tidak bertanya-tanya lagi. Mungkin dia memakluminya. Aku terus berpikir apa
jalan keluar dari semua ini.
Jujur,
aku sangat dibuat bingung dengan semua ini. Aku telah lama mengenal Andi dan
bahkan telah menjalin hubungan dengannya. Aku mencintainya. Aku menyayanginya.
Tapi adikku juga menyimpan perasaan yang sama kepada Andi. Aku harus segera
mengambil tindakan. Akhirnya, aku mengajak Andi ketemuan di taman.
“Andi, aku ingin
mengatakan suatu hal yang sangat penting.”
“Hal penting apa?”
Tanya Andi penuh selidik.
“Apa kamu mencintai
adikku, Dewi?”
“Mak, maksud kamu apa?
Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Andi berkata terbata-bata, dia terlihat
sangat gugup.
“Aku bertanya sekali
lagi, apakah kamu mencintai Dewi? Entah selama ini aku kurang peka dan terlalu
bodoh sehingga aku tidak mengetahui tentang hal itu ataukah aku memang sengaja
menutup diriku untuk mengetahui hal itu, tapi aku merasa di antara kalian ada
hubungan yang istimewa.”
“Kamu itu bicara apa?
Aku benar-benar tidak paham apa yang kamu bicarakan.” Andi masih pura-pura
tidak tahu.
“Sudahlah An, aku sudah
mengetahui semua pertanda itu. Aku hanya butuh jawabanmu.”
“Baiklah.” Andi
menghela napas. “Aku memang memiliki perasaan kepada Dewi. Tapi tidak sebesar
perasaanku kepadamu. Aku tidak tahu mengapa perasaan ini bisa muncul. Aku
sebagai manusia biasa tak kuasa untuk mencegahnya. Dulu, sewaktu kita sering
bertengkar, saat itulah aku ada hal yang aneh. Seperti benih-benih cinta yang
tumbuh dalam hatiku.”
Aku
menunduk. Titik-titik air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Tak ku sangka
sekali lagi prasangka yang selalu ku coba untuk membuangnya jauh-jauh ternyata
adalah sebuah kebenaran. Tak ku sangka pria yang selama ini ku sanding,
menyimpan perasaan kepada Dewi, adikku sendiri. Remuk hati ini. Sekarang aku
harus bagaimana? Andi juga memiliki perasaan yang sama. Apakah aku harus
menyerahkannya begitu saja kepada Dewi? Tapi aku yang lebih dulu mengenalnya
dan bahkan menjalin hubungan dengannya. Aku harus bagaimana? Aku mencoba menenangkan diri. Aku harus
mengambil keputusan.
“Kalau begitu kita
akhiri saja hubungan ini.” Aku masih menahan isak tangisku.
“Yun, kamu tidak bisa
memutuskan hubungan kita begitu saja.”
“Tapi ini yang terbaik.
Aku tidak mau ada dua cinta dalam hatimu. Lebih baik aku yang mengalah. Dewi
juga mencintaimu An.”
“Tapi yun, aku juga
masih mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu
An. Tapi aku yakin inilah yang terbaik. Maafkan aku, Andi.”
Air
mataku kembali mengalir. Semakin deras saja. Hatiku remuk. Bahkan
berkeping-keping. Keputusan itu memang sungguh berat. Tapi itulah yang harus ku
lakukan. Aku harus mengalah demi adikku. Aku tidak akan membiarkan diriku
bahagia bersama Andi, sementara Dewi harus memendam kekecewaan yang teramat
dalam karena tak bisa bersanding dengan Andi. Aku tak boleh meninggikan egoku.
Akhirnya,
Andi dan Dewi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku memang belum
terbiasa melihat mereka berdua bersanding, tapi aku yakin lambat laun aku akan
terbiasa. Yang bisa ku lakukan hanyalah mengaji untuk mengobati sakit hati ini.
Orang tuaku marah setelah mengetahui hubungan Dewi dan Andi, tapi aku mencoba
menjelaskan kepada mereka dengan hati-hati. Mereka akhirnya mengerti dan merasa
iba kepadaku. Bahkan, saat itu Andi terkadang masih memperlakukanku seperti
kekasihnya. Aku melarangnya karena aku tidak ingin menyakiti hati Dewi.
Setelah
satu tahun berpacaran, akhirnya Andi dan Dewi memutuskan untuk menikah. Aku
sudah mulai terbiasa dengan semua ini dan terus berusaha untuk melupakan
kejadian satu tahun lalu. Aku turut bahagia dengan pernikahannya meskipun belum
sepenuhnya aku menghapus kenangan itu. Tapi setidaknya aku telah berusaha.
***
Andai
dulu aku seperti batu itu yang tetap tegar menghadapi cobaan yang menyakitkan.
Tapi sekuat-kuatnya manusia pasti ada titik lemahnya. Begitu juga dengan batu
itu, andai ia bisa berbicara, pasti tak akan mau seumur hidupnya hanya ditimpa
air terus-menerus. Aku tersadar dari lamunanku setelah ada seseorang yang
menepuk pundakku.
“Sayang, ayo pulang.
Kamu bisa sakit jika berlama-lama di sini.”
Aku
hanya melempar senyum manis kepadanya. Kini aku telah bersuami. Aku sangat
mencintainya. Aku tak mau kenanganku yang pahit itu merusak masa depanku
dengannya. Aku ingin membangun mahligai rumah tangga yang indah bersamanya.
Sekarang aku telah memiliki seorang keponakan laki-laki yang aku sayangi, anak dari
Andi dan Dewi.